Precedence: bulk
DUKUNG MEGA, NENEK RENTA KUBUR DIRI
BOYOLALI (SiaR, 6/7/99) -- Dukungan terhadap Megawati Soekarnoputri terus
mengalir. Sementara aksi cap jempol darah terus meluas dari Surabaya, ke
Pamekesan (Madura), hingga Semarang (Jawa Tengah), di Boyolali, seorang
nenek renta nekad mengubur dirinya hidup-hidup demi mendukung pencalonan
Megawati sebagai presiden RI mendatang.
Menurut laporan koresponden SiaR di Solo, Senin (5/7), Mbah Surip Sumoutomo
(60), demikian nama nenek tersebut, penduduk Dukuh Recosari, Kelurahan
Banaran, Kecamatan Boyolali, melakukan aksinya tersebut sejak tangal 27 Juni
hingga 30 Juni 1999. Mbah Surip dikubur di lubang, di kedalaman satu meter,
lebar setengah meter, di sebuah pekarangan rumah berjarak 100 meter dari
rumahnya.
Di dasar lubang diletakkan bambu sebagai alas tidur, beratap gedek (anyaman
bambu), dan diperkuat dengan genting. Nenek yang berusia lanjut itu selama
tiga hari tiga malam, tidak diberi makan dan minum.Sesekali agar kakinya tak
kaku, ia bersila atau mengangkat kaki.
Untuk mengetahui apakah, ia masih hidup atau tidak, maka warga yang
menungguinya melihat dari benang merah yang dihubungkan ke sebuah pohon.
Jika benang itu bergerak, berarti dia masih hidup. Warga bergantian
mengamati getaran benang tersebut.
Tentang latarbelakang tindakannya tersebut, Mbah Surip mengatakan,
dilakukan untuk mendukung Megawati menjadi presiden. Mbah Surip mengaku
berdoa terus-menerus selama tiga hari. Ia menerima wangsit, bahwa jika gagal
menjadi presiden, maka rakyat akan marah sehingga terjadi goro-goro.
Mbah Surip juga mengaku didatangi seorang laki-laki tinggi besar, gagah,
dan tampan yang perawakannya mirip Bung Karno. Laki-laki tersebut berpesan
agar Megawati sabar dan lapang dada menerima segala hujatan dari orang-orang
yang tak menyukainya, karena toh pada akhirnya Megawati akan dipilih rakyat
sebagai pemimpinnya.
Sementara itu, dari Pamekasan, Madura, dilaporkan, penduduk melakukan aksi
cap jempol darah yang dikoordinir Perjuangan Rakyat untuk Reformasi Total
(PRRT) Madura. Aksi ini akan dilakukan sepanjang hari, hingga "H-7"
menjelang Sidang Umum MPR.
Menurut Sekretaris DPC PDI Perjuangan Pamekasan Zainal Bakri, ternyata
dukungan rakyat Madura cukup besar, dan hingga aksi tersebut dilakukan sudah
lebih seribu orang membubuhkan cap jempol darahnya. Zainal juga terharu,
karena sebagian peserta aksi adalah para santri. Ketika ditanya apa yang
menyebabkan, para santri itu turut membubuhkan cap jempol darah, mereka
menjawab, Al Quran tak membedakan, laki-laki dan perempuan untuk menjadi
pemimpin. Dan, masih menurut para santri itu, cap jempol darah ini bagian
dari jihad fisabilillah, serta untuk menegakkan "amar maruf nahi munkar".
Para santri itu, lanjut Zainal, menampik fatwa ulama yang menyatakan
perempuan tak bisa menjadi presiden. "Itu kan katanya ulama yang dibayar
pemerintah," ucap para santri yang mengaku menusuk PDI Perjuangan ketika
pemilu lalu.
Jika di Surabaya, Semarang, dan Pamekasan melakukan cap jempol darah, serta
di Boyolali melakukan aksi mengubur diri, maka di Yogyakarta, seorang guru
besar UGM, Prof Dr Ir Mary Astuty MS, sejak Senin (5/7) kemarin melakukan
aksi pengumpulan sejuta tanda tangan yang mendukung pencalonan Megawati
sebagai presiden, yang selanjutnya akan disampaikan ke Komnas HAM, MUI, dan
Presiden B.J. Habibie.
Mary Astuty menegaskan, aksi ini mendapat respon yang luar biasa dari
berbagai kalangan. Bahkan, katanya, para sejawatnya di lingkungan civitas
academika UGM pun turut mendukungnya. "Banyak guru besar pria yang sudah
membubuhkan tandatangan dukungannya," ucapnya.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html