Precedence: bulk
RAMOS HORTA: "TNI TERLIBAT SERANGAN TERHADAP UNAMET"
JAKARTA (MateBEAN, 5/7/99), Wakil Presiden CNRT Jose Ramos Horta kepada
wartawan di LP Khusus Salemba, Jumat (2/7), mengatakan, TNI terlibat
serangan terhadap Markas UNAMET di Maliana dan merekayasa kelompok
milisi. "Padahal UNAMET harus menjaga situasi dengan hati-hati.
Indonesia harus membangun kembali hubungan dengan UNAMET setelah
kerusuhan ini," kata Ramos Horta.
Horta mengatakan, Indonesia harusnya bertanggungjawab atas keamanan
setempat karena UNAMET hanya mempersiapkan jajak pendapat, tapi
Indonesia menunjukan kepada dunia bahwa dia tidak bertanggungjawab
terhadap keamanan UNAMET. Orang yang ada di gunung percaya kepada pihak
Australia dan wartawan yang mengatakan bahwa milisi memang adalah
kepanjangan tangan dari Jakarta. "Tidak ada satu orang pun dari
Indonesia yang peduli kepada keberadaan milisi di Timtim. Padahal
milisi membunhi rakyat sipil di Timtim," katanya.
Horta juga mengatakan bahwa dirinya percaya kepada hukum yang mungkin
akan dibangun pemerintah Jakarta dan berharap pada Habibie untuk
bisa menyelesaikan masalah Timtim. Karena adanya pernyataan Habibie
untuk mengubah kebijakan Indonesia terhadap Timtim. "Kita bisa melihat
bagaimana seperti halnya De Gaulle dengan patriotismenya memutuskan
Perancis harus keluar dari Aljazair. Kita juga bisa melihat bagaimana
Nixon memutuskan Amerikan harus keluar dari Vietnam. Saat itu ia
mengatakan sudah cukup dan peperangan adalah kesalahan besar. Kita
harus mengubah keadaan," katanya.
Selain itu Horta juga mengucapkan terima kasih pada pemerintah
Indonesia yang memberikan berbagai fasilitas dan visa baginya. Ia
juga menghargai upaya Indonesia untuk menyelesaikan masalah Timtim.
"Dalam sejarah Indonesia," kata Horta, "Indonesia mencatat banyak sekali
memberikan dukungan kepada sejumlah negara-negara baru, dan pemerintah
Indonesia selalu melobi kepada PBB dan banyak pihak di PBB yang
mendukung pemerintah Indonesia melaksanakan perjanjian New York dengan
mengirim UNAMET."
"Indonesia mempertaruhakn kredibilitasnya untuk
menjalankan proses demokratisasi di Indonesia dan menyesuaikannya
dengan kebijakan baru di Timtim. Situasi di Timtim tidak hanya
berhubungan dengan orang Timtim tapi juga berhubungan dengan nama baik
Indonesia," ujar Horta.
Soal rekonsiliasi, menurut Horta bahwa ide rekonsiliasi secara
keseluruhan terwakili di tempat lain. Problemnya adalah rekonsiliasi
selama ini prosesnya berlangsung secara salah dan isunya membingungkan
juga membutukan waktu yang panjang.
"Ketika dunia berharap kami bisa menyelesaikan masalah Timtim secara
alami dalam waktu yang bersamaan muncul isu menyangkut masalah
keamanan. Sementara proses negosiasi yang juga melibatkan partai
organisasi dan kelompok masyarakat di Indonesia, sejumlah birokrat dan
intelektual di Indonesia mencapai persetujuan antara mereka sendiri.
Tentu saja ini adalah hal yang salah," katanya.
Sedangkan sumber MateBEAN di Viqueque melaporkan bahwa sekitar 50 orang
milisi Bebui Junior' 59 mengadakan unjuk rasa di perwakilan UNAMET di
Viqueque. Mereka memprotes UNAMET dan mengancam akan menghancurkan
kantor UNAMET. Pihak kepolisian setempat dengan aparat Kodim tidak
melakukan tindakan apapun untuk membubarkan pengunjuk rasa itu.
"Terlihat bahwa aparat justru memberikan support kepada para milisi itu
untuk berdemo di depan kantor UNAMET," kata sumber itu.
Sedangkan di Dili, para milisi Aitarak terus melakukan teror di Markas
UNAMET di Balide. Sejak kemarin hingga semalam mereka terus menteror
dengan tembakan ke atas untuk menakut-nakuti tim PBB itu. "Mereka teror
dengan tembakan. Bahkan mereka mengendarai motor dan mobil sampai di
depan markas UNAMET dan berhenti serta menembak ke atas. Tapi tim PBB
tidak gentar terhadap ancaman itu," kata sumber MateBEAN di Dili.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html