Precedence: bulk
Pernyataan Bersama TIM KEMANUSIAAN UNTUK PENGUNGSI
(Yayasan HAK, Yayasan ETADeP, Caritas Dili, Yayasan Kasimo, Posko Bantuan
Darurat Untuk Pengungsi Internal, Timor Aid)
Keadaan pengungsi di Timor Timur semakin hari semakin memburuk. Mulai dari
intimidasi dan teror, kehilangan rumah karena dibakar, kondisi kesehatan
yang semakin memburuk hingga mereka yang mati di tempat pengungsian karena
penyakit dan kelaparan. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa seiring
dengan dikeluarkannya kebijakan dua opsi oleh Presiden Habibie beberapa
waktu lalu, muncul berbagai kelompok milisi di Timor Timur. Dan salah satu
akibat tindakan intimidasi milisi selama ini yang didorong oleh
kepentingan-kepentingan politik tertentu telah menyebabkan munculnya
kelompok-kelompok pengungsi di beberapa tempat di Timor Timur seperti di
Raimate, Sare, Kecamatan Hatolia, Kabupaten Ermera, pengungsi di Kampung
Faulara Desa Leotola, Kec. Liquica, Kecamatan Maubara, pengungsi di
Kecamatan Atabae dan pengungsi di Suai. Para pengungsi ini menghadapi
teror, intimidasi, perkosaan, dengan tujuan untuk menggiring mereka untuk
sebuah kepentingan politik.
Berkaitan dengan persoalan kemanusiaan yang dihadapi para pengungsi, maka
beberapa organisasi non pemerintah (ornop) di Dili berinisiatif melakukan
sebuah aksi bantuan kemanusiaan bersama bagi para pengungsi tersebut, untuk
mengatasi masalah sulitnya mengakses kaum pengungsi disebabkan oleh ancaman
keamanan selama ini. Inisiatip itu terlaksana ketika pada tanggal 2 Juli
lalu beberapa ornop di Dili bersama pihak UNAMET dan UNHCR membawa bantuan
kemanusiaan berupa 25 ton beras, alat masak-memasak, obat-obatan, garam,
gula dan kebutuhan lainnya untuk dibagikan kepada para pengungsi di Sare
dan di desa Faulara yang berjumlah sekitar 3800 dan 3000 orang. Sebelum
keberangkatan Misi Kemanusiaan ini, telah dilakukan koordinasi dengan pihak
Pemerintah Daerah Tk. Timor Timur (lihat kronologi kejadian). Namun dalam
perjalanan pulang, Tim Kemanusiaan diserang oleh kelompok milisi Besi Merah
Putih hingga menyebabkan beberapa anggota Tim Kemanusiaan luka parah. Dan
hingga kini salah seorang pengungsi (Sdr. Jose Manus Marcal, 70 th) yang
ikut bersama rombongan Tim Kemanusiaan untuk perawatan medis, hingga saat
ini tidak diketahui keberadaannya. Paska penyerangan terhadap Tim
Kemanusiaan, muncul tuduhan dari aparat Polri dan pihak-pihak lain bahwa
di dalam mobil UNAMET yang mengawal Tim Kemanusiaan terdapat senjata. Ini
adalah salah satu upaya rekayasa terhadap misi Tim Kemanusiaan (lihat
kronologi kejadian).
Setelah Tim Kemanusiaan meninggalkan Sare dan Faulara, hingga kini Tim
Kemanusiaan tidak memiliki akses ke tempat para pengungsi. Dikhawatirkan
kondisi para pengungsi akan semakin memburuk, karena kekurangan bahan
makanan atau tak ada bantuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan
ada sejumlah perempuan yang melahirkan di tempat pengungsian karena
berlanjutnya tekanan para milisi. Selain itu, kondisi ini sangat mungkin
terjadi karena faktor keamanan yang semakin buruk di wilayah pengungsian.
Menyadari kondisi para pengungsi yang semakin memburuk dan menghadapi
kenyataan tindak kekerasan yang dilakukan milisi Besi Merah Putih, maka Tim
Kemanusian terpanggil untuk menyatakan sikap berikut :
- Mengecam kelompok milisi yang telah melakukan teror dan intimidasi serta
pembakaran rumah-rumah penduduk selama ini.
- Mengecam pemerintah yang selama ini tidak mengambil satu langkah apa pun
untuk meringankan beban yang dihadapi pengungsi.
- Mengecam tindakan brutal para milisi Besi Merah Putih terhadap Tim
Kemanusiaan yang terjadi di Kota Kabupaten Liqui�a pada tanggal 4 Juli 1999.
- Mengecam sikap Polisi Indonesia terutama mereka yang bertugas di Polres
dan Polsek Liqui�a, yang sengaja membiarkan kejadian itu berlangsung di
depan mata mereka, tanpa mengambil tindakan kongkrit untuk mencegah
terjadinya insiden tersebut.
- Mengecam tindakan diskriminatif pihak polisi dalam menangani kasus itu
dengan membiarkan para pelaku berkeliaran tanpa ditindak sementara beberapa
anggota Tim Kemanusiaan justru diinterogasi.
- Mengecam upaya-upaya rekayasa penyerangan oleh aparat keamanan dan
pemutarbalikan fakta lewat pemberitaan-pemberitaan oleh beberapa media
massa serta pernyataan-pernyataan disinformartif dari pihak-pihak lain.
Untuk itu, Tim Kemanusiaan pun menuntut agar :
- POLRI sebagai pihak yang bertanggungjawab atas keamanan segera
membubarkan kelompok-kelompok milisi yang mengancam keamanan dan kestabilan
masyarakat dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan Kesepakatan Damai yang
ditandatangani pada tanggal 21 April 1999 di Dili dan Kesepakatan Damai
tanggal 18 Juni di Jakarta.
- Segera diadakannya proses hukum yang transparan dan obyektif atas para
pelaku penyerangan terhadap Tim Kemanusian.
- Segera mengembalikan barang-barang serta kendaraan milik Tim Kemanusiaan
yang dirampas dan ditahan dalam penyerangan tersebut dalam keadaan utuh.
Dan demi suksesnya Jajak pendapat serta demi keselamatan para pengungsi,
maka Tim Kemanusiaan pun merasa terpanggil untuk:
- menghimbau semua pihak agar menghargai setiap misi kemanusiaan kepada
siapa pun yang menderita;
- menghimbau UNAMET untuk melakukan tekanan-tekanan terhadap pemerintah
Indonesia untuk melakukan sanksi-sanksi terhadap pelaku dan penarikan
Tentara Nasional Indonesia sebagai komitmen pada Kesepakatan 5 Mei 1999;
- menghimbau semua pihak untuk menghargai hak setiap pengungsi atau orang
yang menderita dan berkekurangan untuk mendapat bantuan kemanusiaan dan
mendapat jaminan keamanan bagi mereka.
Demikian pernyataan sikap dan tuntutan kami yang dibuat dengan keprihatinan
yang mendalam terhadap kondisi para pengungsi dan terhadap penyerangan
milisi atas Tim Kemanusiaan.
Dikeluarkan di Dili, 6 Juli 1999
Yayasan HAK Yayasan ETADeP
Caritas Dili Yayasan Kasimo
Yayasan Timor Aid Posko Bantuan Darurat
Untuk Pengungsi Internal, Dili
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html