Precedence: bulk


KAMPANYE  PEMILU 1999 BELUM TEMPATKAN RAKYAT SEBAGAI PEMEGANG KEDAULATAN  

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Kampanye Pemilu yang berlangsung sejak 19 Mei hingga 4 Juni 1999, 
yang penuh hingar-bingar  telah berakhir. Selama kampanye ini, tercatat 164
orang meninggal, 152 orang luka-luka, dan 183 orang luka luka ringan. Korban 
umumnya anak muda, yang nekad dalam berkampanye. Berbagai penilaian terhadap 
jalannya kampanye ini, bermunculan. Salah satunya dari Garin Nugroho, 
seperti yang dimuat dalam "Info Aktual" (suplemen Kompas 5/6/99). 
        Menurut Garin Nugroho, tidak seperti selama masa Orde baru, kampanye 
pertama diera reformasi ini justru banyak diminati kaum muda dan remaja. 
Tindakan yang aneh dan menantang maut selama kampanye  justru datang dari 
kaum muda. Namun mereka pula lah yang akhirnya menjadi korban. Mengapa 
mereka begitu nekad? 
        "Itu ledakan ekspressi, menikmati kebebasan, melepaskan diri dari belenggu
serba ketidak bolehan yang selama ini kita alami," ujar Garin. Garin 
mengisahkan pengalamannya sendiri. Dulu memotret istana pun tidak boleh. 
Kita seolah-olah tidak berada di negeri sendiri, serba dicurigai. Dalam 
keadaan biasa, duduk di pinggir kolam bundaran HI pun dilarang. 
        Yang tertekan menurut Garin selama ini adalah masyarakat menengah ke bawah.
Karena itu tidak heran bila dalam kampanye ini mereka mencari tempat 
bergengsi untuk menyatakan eksistensinya. Konsentrasi massa pun dipusatkan 
di Jl MH Thamrin dan Sudirman. 
        Bagi Garin, kaum muda memanfaatkan masa kampanye ini sebagai karnaval. 
Mereka menemukan ruang untuk berperan. Mereka yang selama ini ditekan 
penguasa, mencuat menjadi kekuatan massa yang mencengangkan. 
        Masalahnya kini, bagaimana mengubah massa histeris itu menjadi massa yang
produktif,hingga kelak berguna bagi kepentingan partai dan negara secara 
luas. "Untuk itu mereka harus diberi pendidikan politik," katanya. 
        Apa arti ucapan Garin? Artinya menurut Garin kampanye Pemilu 1999 ini tidak
memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Sedang seharusnya kampanye 
pemilu untuk meningkatkan kecerdasan politik rakyat. Bagaimana bentuk 
kampanye yang memberikan pendidikan politik pada rakyat? 
        Menurut UUD 1945, kedaulatan di tangan rakyat. Bagaimana pula praktek 
kedaulatan di tangan rakyat, di kala melakukan kampanye untuk Pemilu ditahun 
1999. tajuk  rencana Kompas (5/6) mengatakan benar-benar usai sudah hari 
kampanye, ketika rakyat mengelu-elukan partai dan pemimpin yang didukungnya, 
juga ketika menentukan pilihannya dalam Pemilu 7 Juni 1999.
        Tapi bagaimana dengan parpol dan pemimpin yang didukungnya  itu, dalam 
menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan? Apa kah cukup dengan rakyat 
mengelu-elukan parpol dan pemimpinnya saja? Bila cukup dengan itu saja 
berarti, bukanakah itu berarti rakyat untuk parpol dan pemimpinnya dan 
bukannya parpol dan pemimpinnya ada untuk rakyat! Bila demikian rakyat hanya 
jadi obyek dan bukannya subyek.
        Untuk membuktikan bahwa parpol dan pemimpinnya untuk rakyat dan bukan 
sebaliknya, maka setiap langkah parpol dan pemimpinnya harus 
dipertangungjawabkan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Ketika 
kampanye Pemilu, pemimpin dari parpol yang bersangkutan harus menyampaikan 
pertangungjawaban secara langsung kepada massa pemilih. Apa yang telah 
mereka perjuangkan selama ini untuk rakyat. Jika berhasil, apa faktor 
penunjangnya? Dan jika gagal atau belum terlaksana, apa faktor penghambatnya 
dan pihak mana yang merintanginya?
        Laporan pertangungjawaban yang demikian memberikan pendidikan politik 
kepada massa pemilih. Mereka akan bisa menentukan sikap, akan mendukung 
pemimpin yang bersangkutan atau meninggalakannya.
 
HANYA KENAL DARI ATAS 

        Timbul pertanyaan apakah ada partai-partai politik yang sudah ada di 
waktu Orde Baru seperti Golkar, PPP dan PDI Budi Harjono menyampaikan 
laporan pertangungjawaban selama massa kampanye dari 19 Mei hingga 4 Juni 
1999? Hal itu tak terdengar sama sekali. Seharusnya mereka menyampaikan 
laporan pertangungjawaban misalnya: mengapa dalam Sidang MPR pada Maret 1998 
mendukung Soeharto untuk jadi presiden RI ke-7 kalinya?
        Bukankah Soeharto tersebut selama ini menindas demokrasi, melakukan KKN, 
dan sebagainya? Malah telah melakukan pembantaian Umat Islam di Tanjung 
Priok, di Aceh, di Lampung dan tempat lain? Apa dasar mereka mendukung 
Soeharto?
        Memang secara relatif ada perbedaan tanggungjawab Golkar terhadap dukungan
pada  Soeharto untuk menjadi presiden ke-7 kali itu dibanding tangungjawab
PPP dan PDI Budi Harjono terkenal sebagai perpanjangan tangan Soeharto,
sedang Golkar memang sejak awal kekuasaan Soeharto sudah mendukungnya.
        Bila diamati sejarah Pemilu Orde Baru tidak terdengar adanya laporan 
pimpinan parpol kepada massa pemilih. Hal itu tampak karena pemimpin itu 
berpendapat "mereka adalah pemimpin" yang otomatis lebih lebih tahu dari 
pemilih dan karena itu pemilih harus tunduk saja pada kemauan mereka. Sama 
dengan Hitler melalui Meinkampf yang mengatakan, "Perintahnya tiap-tiap 
pemimpin kepada yang dibawahnya, dan pertangung jawaban dari yang di bawah 
kepada yang di atas." Sama dengan susunan militer: serdadu bertangung jawab 
kepada sersan, sersan pada letnan, letnan pada kapten dan seterusnya. Dan 
itu lah fasisme.

PENYAMPAIAN PROGRAM BAGI PARPOL BARU

        Tentu saja berbeda bentuk laporan pertanggungjawaban parpol yang 
sudah berdiri di masa Soeharto berkuasa, dengan partai politik yang baru 
muncul sesudah Soeharto terguling. Penyampaian program perjuangan merupakan 
pendidikan politik bagi rakyat dari pemimpin-pemimpin partai tersebut. Tentu 
laporan pertanggung jawabannya, akan mereka sampaikan pula secara langsung 
dalam kampanye Pemilu berikutnya.
        Kampanye Pemilu 1999 jauh dari menyampaikan program perjuangan 
partai partai. Malah sementara pemimpin partai lebih menonjolkan 
kemampuannya berdebat di muka umum. Untuk itu ditantangnya partai lain untuk 
berdebat. Dianggapnya semua pemilih akan merasa bangga bila memapunyai 
pemimpin yang tak jelas programnya, tapi pintar bedebat. Tidak menutup 
kemungkinan kepandaian berdebat akan digunakan untuk menundukkan massa 
pemilihnya, sekiranya pada suatu waktu ia digugat rakyat atas kekeliruan 
sepak-terjangnya.   
        Menonjol-nonjolkan kepandaian berdebat, di dalamnya terkandung pikiran agar
pemilih takut bila tak memilihnya. Bila yang lain dipilihnya bisa 
ditelanjanginya di depan umum melalui debat. Menakuti pemilih dari parpol 
atau pemimpin-pemimpin parpol ini,  juga kelihatan dari pameran kekuatan 
melalui kampanye arak-arakan atau  karnaval. Mereka menjadi raja jalanan. 
Mereka pamerkan kekuatan massa yang  mendukungnya.
        Kampanye yang menakut-nakuti massa pemilih (baik secara langsung atau 
tidak), tidak memberikan pendidikan politik pada rakyat, malah justru 
membodohi rakyat. Bukan itu saja. Jika mereka sampai kuasa, tentu mereka 
juga akan menggunakan aparat untuk menakut-nakuti rakyat pada mereka, dan 
dimana perlu kekerasan akan digunakannya terhadap rakyat.

KESIMPULAN

        Jelas kiranya, bahwa kampanye Pemilu yang berlangsung sejak 19 Mei hingga 4
Juni 1999 tidak menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Sebab, kalau
rakyat ditempatkan sebagai pemegang kedaulatan tentu partai-partai (Golkar,
PPP dan PDI Budihardjono) yang memilih Soeharto menjadi Presiden pada Maret
1998, akan menyampaikan laporan pertanggungjawabnya kepada massa pemilih. 
Mengapa mereka memilih Suharto yang fasis itu. Dan laporan pertanggungjawab 
demikian tidak terjadi.
        Begitu pula partai-partai yang baru pada umumnya tidak ada dalam 
kampanyenya yang mengemukakan program yang akan mereka perjuangkan nanti 
sesudah pemilu, malahan yang ada ialah berbau menakut-nakuti pemilih dengan 
pamer kekuatan (melalui arak-arakan), serta menonjolkan kepandaian 
berdebatnya. Rakyat tak lupa kepada pokrol bambu yang pintar bersilat lidah, 
yang salah bisa dianggap sebagai tidak salah.
        Dan yang lebih mengkhawatirkan, ialah bagi sementara pemimpin parpol 
tersebut yang penting cepat ia berkuasa, soal program, tidak penting, malah 
dwifungsi ABRI nanti juga akan terus diberlakukannya. Reformis yang tidak 
reformis.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke