Precedence: bulk


AWAK BUS PPD MOGOK LANTARAN GAJI TAK MANUSIAWI

        JAKARTA (SiaR, 7/7/99),  Pemogokan awak bus PPD Jakarta, Selasa 
(6/7) kian meluas. Praktis armada bus umum ini menghilang dari jalanan 
Jakarta sejak pagi hari. Ribuan masyarakat yang lazimnya menggunakan jasa 
bus PPD kesulitan memperoleh 
angkutan umum.

        Di perempatan Pasar Jumat, Jakarta Selatan, deretan calon 
penumpang menumpuk di pinggiran jalan. Penumpukan calon penumpang tersebut 
menambah kemacetan jalanan. Di kawasan Senen hingga Salemba, Jakarta 
Pusat, calon penumpang juga terlihat bergerombol secara mencolok di 
pinggiran jalan.

        Sementara itu beberapa metromini yang semestinya tidak melintasi 
rute-rute tersebut, oleh aparat keamanan, diijinkan untuk mengangkut penumpang. 
Langkah ini nampaknya terpaksa dilakukan aparat. Soalnya, jika saja 
metromini tersebut tidak dikerahkan untuk mengangkut penumpang, 
penumpukan-penumpang akan jauh lebih besar lagi. 

        Menghilangnya armada bus umum PPD dari jalanan Jakarta ini, masih 
merupakan buntut dari aksi mogok yang dilakukan awak bus PPD sejak Senin 
(5/7) lalu. Aksi mogok dan unjuk rasa itu semula dipusatkan di kantor Perum 
PPD di Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

        Pada Senin siang sekitar pk 14.00  awak bus PPD tersebut berkeliling 
menyusuri jalanan Jakarta. Dengan menggunakan bus PPD rute 45, mereka 
menghentikan bus-bus PPD yang masih beroperasi di jalanan. Akibat aksi 
tersbut sejumlah bus itu kemudian dipaksa menurunkan penumpang. Di Terminal 
Blok M Jakarta Selatan misalkan, beberapa bus PPD terpaksa menurunkan para 
penumpangnya. Sedangkan di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, maupun di 
terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, terlihat sepi dari bus PPD. Aksi 
mogok bus PPD ini membuat banyak  penumpang terlantar, sulit mencari 
angkutan umum.

        Aksi mogok itu rupanya berlanjut juga. Dan rupanya hingga hari Selasa 
(6/7). Aksi itu secara total melibatkan sekitar 1.200 armada bus PPD yang 
beroperasi di Jakarta. Hingga pukul 09.35 WIB, tak terlihat satupun bus PPD 
melintas di jalanan. Aksi mogok itu sendiri menuntut kenaikan gaji pokok 
sebesar 30% dan kenaikan tunjangan pangan. Menurut para awak  bus PPD, 
mereka meminta kenaikan tunjangan pangan dari Rp 15 ribu menjadi Rp 25 ribu.

        "Bahkan gaji pokok kami rata-rata bekisar antara Rp 90 ribu hingga 
Rp 125 ribu sebulan," ujar seorang wakil pengemudi. Begitu pun tunjangan
pensiun 
mereka selaku pegawai negeri. "Teman kami sudah 20 tahun kerja mempunyai uang 
pensiun sebesar Rp 35 ribu," ujar Pardi seorang kernet. 

        Menurut para awak bus, hal tersebut dikarenakan subsidi pemerintah 
untuk masyarakat. "Dengan tarif hanya Rp 300 perak memang memberi keringanan 
untuk masyarakat," sambung Pardi. "Namun mesti dipikirkan juga bagaimana 
nasib awak bus PPD yang kerja puluhan tahun tetapi hanya bergaji pokok
berkisar Rp 110 hingga Rp 125 ribu,"  keluh bapak dua anak tersebut.

        Para awak PPD itu mengancam, jika tuntutan  tidak dipenuhi, mereka 
akan mogok sampai kapan pun.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke