Precedence: bulk
GARA-GARA BEDA PILIHAN, BUPATI BOBONARO ANIAYA ISTRINYA
DILI (MateBEAN, 11/7/99), Ini cerita menarik. Hanya karena beda
pilihan, keluarga terancam perceraian. Hal ini dialami Bupati Bobonaro
Guilherme dos Santos dengan Istrinya Feleciana dos Santos. Awalnya
masalahnya adalah pada 7 Juli lalu, Bupati Guilherme bersama rombongan Pemda
Tk II Bobonaro dengan seluruh istri mengadakan acara sosialisasi otonomi di
Desa Memo Kecamatan Maliana.
Masyarakat dan pemuda di desa itu dipaksa aparat setempat untuk
mengikuti acara sosialisasi otonomi tersebut. Pada saat Bupati Guilherme
memberikan sambutan, sebagian besar masyarakat dan pemuda tidak
menghiraukannya. Bahkan sebagian besar warga membelakangi Bupati, akibatnya
Guilherme marah-marah dan meminta aparat keamanan dan kepala desa setempat
untuk menertibkan warga yang menghiraukan sambutan bupati.
Melihat kejadian itu ibu bupati memanggil aparat desa dan menanyakan
bahwa apakah kehadiran masyarakat di tempat tersebut karena dipaksa atau
masyarakat berkeinginan untuk datang. Dan sang kepala desa mengatakan bahwa
sesuai dengan surat edaran yang disampaikan Bupati Bobonaro bahwa masyarakat
diharuskan untuk mengikuti sosialisasi otonomi.
Ternyata persoalan tidak sampai di situ, sesampai di rumah ibu
bupati mulai memarahi suaminya. "Pak jangan paksa masyarakat. Kita harus
turuti pilihan masyarakat, karena mereka juga tahu baik buruknya pilihan
mereka. Kalau masyarakat pilih otonomi tentunya mereka tidak bersikap
seperti itu. Dan sekali lagi saya katakan bahwa kalau kalian tetap memaksa
masyarakat, maka saya akan menyuruh mereka untuk memilih merdeka. Biarkan
masyarakat pilih sendiri, jangan memaksa. Secara jujur saya juga ingin
merdeka dan tidak mau otonomi," kata Feliciana.
Mendengar ancaman istrinya itu, Guilherme bukannya menjawab, malah
sebaliknya melayangkan dua bogem mentah ke hidung Feliciana, akibatnya
hidung Feliciana mengeluarkan darah segar. Melihat darah yang keluar dari
hidung istrinya, justru Guilherme semakin ganas memukul istrinya dengan
sebatang kayu, menendang serta melemparinya dengan kursi.
"Untung ibu lari menghindar, kalau tidak pasti dia membunuhnya.
Bahkan dia mencari pisau atau barang tajam apa saja untuk membunuh ibu. Tapi
kami terpaksa menyelamatkan ibu dengan melarikan ibu ke sebuah tempat
tersembunyi. Besoknya dia menyuruh para milisi mencari ibu untuk
membunuhnya, tapi kami melarikan ibu ke Dili, dan saat ini ibu menunggu
untuk berangkat ke Portugal. Ibu minta cerai," kata seorang keponakan
Feliciana kepad MateBEAN di Dili.
Hingga saat ini Feliciana sedang menjalani perawatan secara sembunyi
di sebuah tempat di Kota Dili, sambil menunggu pengurusan paspor untuk
berangkat ke Portugal. "Kakak ibu yang tinggal di Portugal menyuruh ibu
untuk segera berangkat meninggalkan Timtim," tambah keponakan itu.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html