Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 23/II/11-17 Juli 99 ------------------------------ BUBARNYA KUBU HABIBIE (PERISTIWA): Presiden mendatang. Gus Dur sudah membokongnya, dan para pendukung Marzuki Darusman tak akan memilihnya. Seperti nasib malang Adi Sasono, Menteri Koperasi/Pengusaha Kecil dan Menengah, Habibie pun akan mengalami nasib serupa: gagal jadi Presiden mendatang. Habibie tak hanya akan menghadapi kubu Megawati yang memenangkan pemilihan umum, namun tragisnya juga akan menghadapi kubu Golkar sendiri. Kubu Golkar di bawah komando Marzuki Darusman melancarkan perlawanan politik untuk menghambat laju pencalonan Habibie. Marzuki misalnya meminta Habibie membubarkan Tim Sukses Habibie yang dikomandani dr Hariman Siregar. Kegiatan Tim sukses Habibie dirasa merepotkan oleh kubu Marzuki. Manuver tim yang dimotori Hariman untuk meluruskan jalan Habibie jadi Presiden mendatang ini dilakukan melalui berbagagai cara, termasuk dengan menyogok "Tim sukses Habibie mulai merepotkan DPP Golkar. Masalah ini perlu diklirkan. DPP tidak membentuk tim sukses untuk menggolkan pencalonan Habibie," ujar Marzuki. ---------------------------------------- KUBU HABIBIE: Agung Laksono (Ketua DPP), Theo L Sambuaga (Ketua DPP), Fahmi Idris (Ketua DPP), Adi Sasono (Ketua DPP, dipecat), Abdul Gafur (Ketua DPP), Freddy Latumahina (Ketua DPP), M Irsyad Sudiro (Ketua DPP), Marwah Daud Ibrahim (Ketua DPP), Slamet Effendi Yusuf (Ketua DPP), Tuswandi (Sekjen), Andi Matalatta (Wakil sekjen), Fadel Muhamad (Bendahara), Manimaret (Wakil Bendahara), Jimly Ashidiqqie (Koordinator Humas dan Media), Yasril A Baharudin (Departemen Hubungan Luar Negeri), Ibnu Munzir (Departemen Cendikiawan dan Iptek), Priyo Budi Santoso (Departemen Humas dan Media). KUBU AKBAR TANJUNG/MARZUKI: Akbar Tanjung (Ketua Umum), Rambe Kamrul Zaman (Ketua DPP), Marzuki Darusman (Wakil Sekjen), Syamsul Muarif (Wakil Sekjen), Mahadi Sinambela (Wakil Sekjen), GPH Joyokusumo (Wakil Sekjen), Irish I Murti (Wakil Bendahara), Setya Novanto (Wakil Bendahara), MS Hidayat (Wakil Bendahara), Herman Widayananda (Departemen Pemenangan Pemilu), M Yahya Zaini (Departemen OKK), M Ali Yahya (Departemen Humas), Tubagus Haryono (Koordinator Perundang-undangan), Ferry M Baldan (Koordinator Departemen Pemuda), Muchyar Yara (Dep Hukum dan Perundang-undangan). ---------------------------------------- Tim ini memang bergerak sendiri dan tak mau berhubungan dengan DPP Golkar dari kubu Akbar dan Marzuki. Tim yang didanai Timmy Habibie dan Fanny Habibie, dua saudara kandung B.J. Habibie ini bermarkas di Hotel Melia di Kuningan, Jakarta Selatan berdekatan dengan rumah dinas Habibie di kompleks pejabat tinggi, Patra Kuningan. Tim ini menyewa beberapa kamar hotel itu dan melakukan pertemuan-pertemuan hampir tiap hari. Para anggota tim, terutama Hariman selalu menghadiri pertemuan-pertemuan antara Habibie dan tamu-tamunya di rumah Habibie, mencatat hasilnya dan mendiskusikannya di kamar hotel berbintang itu. Sejumlah nama yang disebut-sebut berada dalam tim ini, selain Hariman, adalah Andi Matalatta, Marwah Daud Ibrahim, Freddy Latumahina, Laode Kamaludin, Tanri Abeng dan Aburizal Bakrie. Tanri, yang juga menteri Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bahkan dilaporkan telah mengumpulkan dana dari BUMN-BUMN untuk membiayai kerja tim sukses ini. Begitupun Aburizal yang aktif mengalang dana dari kalangan pengusaha. Sumber Xpos di DPP Golkar menyebutkan dana yang sudah dikumpulkan Tim Sukses Habibie sudah melampaui angka Rp3 triliun, cukup untuk menyuap semua anggota MPR minimal Rp1 miliar seorang. Gencarnya serangan kubu Marzuki ini membuat Habibie sewot. Buntutnya, Habibie meminta Munas Luar Biasa untuk menggusur Marzuki, Akbar Tanjung dan kawan-kawan. Habibie meminta Muladi, kini Menteri Kehakiman dan Menteri Sekretaris Negara, yang amat setia dengannya untuk mengganti Akbar. Jelas, Marzuki dan Akbar menolak. Mereka mengatakan tak akan ada Munaslub sebelum Sidang Umum MPR. Kubu Marzuki pun melancarkan serangan balik. Mereka membuat oponi bahwa DPP Golkar sulit untuk terus mendukung Habibie jika ia tak mengadili Soeharto sebelum Sidang Umum MPR. Soal Soeharto ini memang memusingkan Habibie. Ia sama sekali tak berani menyeret Soeharto ke pengadilan, namun kalau Soeharto tak diadili ia tak mungkin memperoleh dukungan di MPR nanti. Sejumlah orang di kubu Marzuki juga diam-diam menghubungi kubu Megawati untuk membuat taktik dukung-mendukung. "Kami akan mengalihkan suara kami ke Megawati jika Habibie memaksakan dirinya meneruskan pencalonan," ujar sumber Xpos di kubu Marzuki. Sumber Xpos lainnya di kubu itu mengatakan lima puluh persen anggota MPR dari Golkar sepakat memilih Megawati. Jika ini benar terjadi, memang tamat sudah riwayat Habibie. Apalagi, jika pernyataan Gus Dur yang paling akhir pekan ini, akan mendukung Megawati jadi Presiden mendatang, jadi kenyataan di Sidang Umum. Dengan kekuatanan itu: PKB, separo anggota MPR Golkar, semua anggota MPR PDI Perjuangan, taruhlah minus PAN yang masih ogah-ogahan menjalin kerjasama dengan Megawati, jelas laju Megawati tak terbendung. Skenario ini nampaknya membuat kubu Habibie ciut, kendati belum putus asa karena masih berharap bisa memainkan uang yang mereka miliki untuk membeli suara. Tak urung, Baramuli, Ketua DPA yang menjadi pendukung utama Habibie di lembaga tinggi negara itu, mengusulkan jalan "koalisi bersama". Upaya ke arah itu sudah dilakukan Habibie. Ia sudah mengundang hampir semua partai besar yakni Gus Dur sendiri, Amien Rais dan Hamzah Haz. Ketiga pemimpin partai itu pun memenuhi undangan Habibie. Nah, satu-satunya pemimpin partai yang tak menggubris undangan Habibie adalah Megawati. Kubu Megawati jelas tak akan memenuhi undangan Habibie karena memang tak ada gunanya. Apalagi, PDI Perjuangan kan partai yang menang pemilu. "Kalau Habibie ingin bertemu Megawati, ia yang seharusnya datang ke Kebagusan, bukan meminta Megawati datang ke Kuningan," ujar seorang Ketua DPP PDI Perjuangan. Ambisi Habibie jadi Presiden lagi memang berat, bahkan tertutup sama sekali. Apalagi jika PAN, yang hanya meraih suara tujuh persen atau di bawah Partai Persatuan Pembangunan, partai yang dianggap pro status quo, mendukung ide Gus Dur tentang pembagian kekuasaan di antara tiga partai itu: Gus Dur Ketua MPR, Amien Rais Ketua DPR, Megawati Persiden dan Sultan Hamengkubuwono X Wakil Presiden. (*) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ DUH, ADI SASONO Sad Happy Ending. Itulah akhir petualangan politik Adi Sasono. Ia terkena lever sekaligus stroke. Sejumlah kawan lamanya sewaktu kuliah di ITB dulu menolongnya, menghibur dan membawanya ke Singapura untuk dirawat. Memang, Adi sudah agak sembuh dan bisa mengikuti lagi rapat-rapat kabinet. Namun, yang menyedihkan hatinya, ia dikhianati orang-orang muda yang dulu mengelilinginya dan memperoleh fasilitas negara darinya. Tak bisa disalahkan kalau Adi terkena stroke. Partai Daulat Rakyat (PDR) partai yang didirikannya bersama para peneliti muda CIDES, lembaga kajian milik ICMI, jeblok dan harus out dari kancah politik. Tak hanya itu. Kekalahan PDR meninggalkan utang miliaran rupiah. Lalu, sebanyak Rp50 miliar yang sudah disuntikkan Adi ke partai itu raib. Bersamaan dengan raibnya uang itu, raib pula anak-anak muda CIDES yang juga orang-orang eks ITB, yakni: Mohammad Jumhur Hidayat dan Syahganda Nainggolan. Mereka berdua kabur ke Eropa. "Mereka mencuri uang Adi," ujar sumber Xpos yang dekat dengan kedua mantan aktifis mahasiswa itu. Yang kecewa bukan hanya Adi, Latief Burhan, Ketua Umum PDR juga. Menurutnya, perolehan suara PDR anjlok karena pengurusnya sibuk berkelahi mencari proyek. (*) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
