Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 23/II/11-17 Juli 99
------------------------------

PENGUNGSI SAMBAS KURANG MAKAN

(POLITIK): Kondisi pengungsi Madura Sambas di sejumlah tempat di Kalimantan
Barat semakin tidak menentu.  Sementara jumlah bantuan semakin hari semakin
berkurang.

Sudah lima bulan lebih warga Madura Sambas mengungsi di sejumlah tempat di
Kalbar. Kondisi kesehatan mereka semakin buruk, terutama bagi anak-anak dan
orang tua uzur. Jatah makanan dari dapur umum Depsos yang diberikan setiap
harinya menunya semakin berkurang. Bahkan terkesan asal-asalan.

"Biasanya, cuma sama tahu atau tempe (masing-masing keluarga 4 potong) atau
ikan asin. Kalaupun sayur, itu pun harus dimasak lagi," kata Dullah (45),
pengungsi dari Rambeyan, Sambas di GOR Pangsuma Pontianak.

Dan GOR Pangsuma ini, merupakan salah satu tempat pengungsian terparah dari
empat tempat di kota Pontianak. Di tempat ini hampir dua hari sekali terjadi
kematian balita. Selain makanan tidak bergizi, sanitasi di tempat itu sangat
buruk, juga kondisi ruangan yang sangat terbuka -mereka menempati
balkon-balkon gedung olah raga tersebut. Di tempat ini  dihuni 2405 jiwa
dengan  jumlah bayi 50 orang, balita  224 orang, anak-anak 350 orang, remaja
205 orang, dewasa 683 orang dan lansia 102. 

Dari pengamatan Xpos, sebagian besar dari para pengungsi itu menderita sakit
demam, gatal-gatal dan diare. Kondisi sebagian dari mereka sudah lemah,
perut buncit, mata cekung, badannya hanya terbalut kulit terbaring lunglai
tak berdaya di tikar yang menutupi lantai gedung terbuka GOR Pangsuma.

Bantuan susu ataupun bubur kacang hijau hanya datang kadang-kadang saja.
"Dulu tidak rutin seminggu dua kali. Tapi sekarang katanya tak ada lagi
bantuan," kata Dullah.

Dari data resmi terakhir yang dikeluarkan pemerintah Kalimantan Barat,
selama tiga bulan ini telah meninggal 60 balita dan 37 orang dewasa. 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

KODYA PONTIANAK
 1. Asrama Haji: 2064 jiwa.
 2. Kompi A: 241 jiwa.
 3. Gudang Sei Jawi:  242 jiwa.
 4. Zeni Bang Sui Raya:  46 jiwa
 5. Ton Intel Sei Raya: 48 jiwa
 6. GG jariah Sei raya: 126 jiwa.
 7. GOR Pangsuma: 2.378 jiwa.
 8. Stadion Sultan Syarif Abdurahman: 2.693 jiwa.
 9. GOR Bulutangkis: 855 jiwa.
10. UNTAN:  561 jiwa.

DI WILAYAH KABUPATEN SAMBAS
1. Kompi B Pemangkat: 33 jiwa.
2. PMI Singkawang: 45 jiwa.
3. Koramil SKW: 198 jiwa.
4. Barak Bumakong: 267 jiwa.
5. Polsek pemangkat: 2983 jiwa.
6. Penampungan Sei Raya: 264 jiwa.

PENGUNGSI DI RUMAH KELUARGA
Kodya Pontianak: 7.504 jiwa
Kab. Pontianak: 3.653 jiwa

PENGUNGSI YANG BERSEDIA DI RELOKASI TEBANG KACANG
Tahap I: 9 kk => 40 jiwa
Tahap II: 10 kk => 55 jiwa.
Tahap III A: 11 kk => 48 jiwa.
Tahap IIIB: 5 kk => 25 jiwa

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Namun jumlah tersebut hanya separuhnya saja dari laporan para relawan posko
Komite Kemanusiaan yang berada di masing-masing kompleks pengungsian.
Menurut mereka jumlah pengungsi yang meninggal sudah mencapai angka 120-an
orang. 

Dari informasi yang diperoleh di kantor Departemen Sosial setempat, jumlah
bantuan kepada pengungsi di Sambas sudah menurun drastis, bahkan bisa
dibilang tidak ada lagi. Konon, mereka sekarang untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari para pengungsi mendanainya dari bon sementara kepada Pemda
setempat. Sebab dana untuk memberi makanan 20 ribu lebih pengungsi, saat ini
mereka hanya mengandalkan dari sumber Departemen sosial.

"Padahal, aslinya jatah untuk pengungsi menurut aturan pemerintah itu hanya
15 hari," kata sumber di Depsos.

Isu yang berkembang di pengungsian, menyebutkan, bahwa parahnya pelayanan
kepada para pengungsi tersebut memang disengaja untuk menekan para pengungsi
agar segera pindah ke tempat relokasi sementara, Tebang Kacang. 

"Pemerintah seolah menginginkan para pengungsi untuk segera memasuki lahan
relokasi di Tebang Kacang dengan mengintimidasi melalui jatah makanan dan
perlakuan terhadap mereka," tutur sumber Xpos.

Memang, sampai saat ini para pengungsi enggan untuk pindah ke tempat
relokasi karena buruknya kondisi wilayah tersebut. Selain tanahnya
bergambut, juga karena mereka tak ada jaminan aman.

Hingga saat ini, menurut catatan Pemda Kalbar, jumlah pengungsi yang
sekarang masih berada di kamp-kamp pengungsian di wilayah Kalbar masih
sekitar 20 ribu orang. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan sewaktu
kerusuhan pecah di Sambas. 

Menurunnya jumlah pengungsi ini, menurut sumber Xpos berkaitan  dengan
kepulangan mereka ke Jawa Timur dan atau menumpang ke rumah-rumah saudara
mereka di Kalbar. "Sebagian dari pengungsi yang kembali ke Jawa Timur sudah
kembali lagi kemari, lantaran kondisinya tak jauh berbeda dengan mereka yang
di Pontianak," kata salah seorang relawan.

Selain kewajiban berat yang harus ditanggung Pemda Kalbar dalam menghidupi
para pengungsi di masing-masing kamp pengungsian, saat ini mereka juga
dibebani dengan semakin maraknya tindak kriminalitas dan membludaknya
peminta-minta di jalanan Kodya Pontianak. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke