Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 24/II/18-24 Juli 99
------------------------------

DANA CGI UNTUK SIAPA?

(POLITIK): Pemerintahan Habibie akan minta utang baru pada sidang CGI di
Paris. Padahal, beban cicilannya bakal ditanggung pemerintah baru.

Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia masa pemilu, banyak orang nyaris
lupa dengan agenda ekonomi yang amat menentukan masa depan negara. Khususnya
berkaitan dengan warisan utang luar negeri rezim Soeharto. Kemampuan
membayar kembali utang Indonesia sudah amat rendah. Soal ini pasti bakal
memusingkan siapapun yang kelak memimpin negara. 

Bayangkan saja, selain utang pemerintah yang berjumlah sekitar 67 milyar
dolar AS, masih ada pula utang swasta yang lebih besar, antara 70 milyar
dolar AS hingga 80 milyar dolar AS. Utang ini tertumpuk dari tahun ke tahun
selama pemerintah Orde Baru berkuasa. Pertemuan tahunan dengan negara donor
bagaikan upacara rutin yang tak memiliki konsekuensi bagi rakyat Indonesia.

Kini, ritual itu kembali berada di depan mata. Tanggal 27 hingga 28 Juli
mendatang, para donor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia
(CGI) akan bersidang di Paris, Perancis. Anehnya, pemerintahan BJ Habibie
yang masa jabatannya sudah akan berakhir beberapa bulan lagi sudah
bersiap-siap melakukan negosiasi penambahan utang luar negeri -diperkirakan
berkisar antara 9 hingga 10 milyar dolar AS. Tentu saja hal ini membuat
orang bertanya-tanya. Siapa yang kelak akan bertanggung jawab terhadap
cicilan utang ini? Apakah Habibie begitu yakin ia akan kembali terpilih
sebagai presiden?

Sikap pemerintah yang demikian segera saja menimbulkan reaksi. Dalam sebuah
dialog yang diselenggerakan Solidaritas Profesional untuk Demokrasi beberapa
waktu lalu (8/7), Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Faisal Basri
menyatakan, setidaknya lima partai politik mesti dilibatkan dalam
perundingan dengan CGI di Paris. Menurut Faisal, tidak tepat bila hanya
pemerintahan Habibie yang terlibat, sebab pemerintah sekarang adalah
transisi. Untuk memperoleh legitimasi  sebaiknya partai-partai peraih suara
terbesar dalam pemilu dilibatkan dalam perundingan tersebut. 

Tak cuma itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam
International NGO Forum on Indonesia (Infid) malah mengeluarkan pernyataan
lebih keras yang meminta para donor dalam CGI agar tidak memberikan utang
baru pada Indonesia. Malah, bila perlu CGI diminta untuk tidak mencairkan
dana yang sudah disetujui tahun lalu. Menurut Zoemrotin K. Soesilo yang
menjadi juru bicara Infid, cicilan dan bunga utang yang mesti dibayar
Indonesia sudah berada di ambang batas maksimum, yakni mencapai 33 persen
dari pengeluaran rutin APBN. Atau, sebesar 52 persen dari rata-rata
pendapatan ekspor. Dengan menambah lagi utang, cicilan akan semakin besar
pula dan bisa berakibat makin memberatkan langkah pemerintah baru menata
ekonomi. Kualitas pelayanan sosial diperkirakan akan sangat memburuk, karena
negara tak lagi bisa membiayai berbagai fasilitas yang diperlukan.

Sikap pemerintah tampaknya tak bergeming dengan jadwal yang sudah
ditetapkan. Hal ini memancing pertanyaan besar, mengapa harus ngotot? Ada
kepentingan apa di balik ini?

Alasan resmi yang dipakai hingga kini adalah, karena Indonesia memerlukan
kepastian mengenai sumber dana yang bakal digunakan untuk membiayai APBN
2000/2001. Kepastian ini diharapkan bisa menentramkan masyarakat. Seandainya
pemerintahan baru nanti merasa tidak cocok dengan apa yang telah dihasilkan,
bisa saja melakukan pertemuan susulan.

Cukup masuk akal memang. Hanya saja, adalah hal yang tak mudah mengharapkan
orang-orang untuk berunding kembali jika kesepakatan sudah dilakukan
-meskipun secara efektif hasil sidang CGI baru akan dijalankan pada 1 April
tahun depan.

Bagi yang percaya dengan ambisi Habibie untuk kembali merebut kursi
kepresidenan, momentum sidang CGI ini adalah upaya meraih kepercayaan luar
negeri terhadap dirinya. Bagaimanapun, jika ia berhasil melakukan deal
dengan pihak donor, akan lebih mudah baginya meraih dukungan politik dari
negara tersebut. Caranya, dengan meyakinkan dirinya sebagai pihak yang
paling bisa dipercaya 'mengamankan' hasil keputusan dengan para donor. 

Upaya memperoleh kepercayaan asing juga terlihat dilakukan Habibie melalui
Menteri Pemberdayaan BUMN Tanri Abeng. Beberapa hari lalu (13/7), di New
York, Tanri melakukan presentasi mengenai model privatisasi BUMN pemerintah
Indonesia dengan mengundang 53 perwakilan investor Amerika Serikat, termasuk
Managing Director Soros Fund Management LLC David Cowitz dan mantan Menlu
legendaris AS yang kini menjadi direktur sejumlah perusahaan berskala
internasional Henry Kissinger. Meskipun presentasi itu dikabarkan
mengesankan, namun pertanyaan mengenai siapa yang akan melaksanakan program
privatisasi itu kelak, tetap saja muncul -yang dijawab "telah disetujui IMF
dan partai-partai di Indonesia telah berkomitmen mendukungnya."

Tentu saja tak ada salahnya mencari dukungan dari dalam dan luar negeri.
Asalkan dana dikelola dengan baik -termasuk memperhitungkan beban cicilan
utang seandainya memperoleh tambahan pinjaman dari CGI. Bukan untuk
bagi-bagi proyek sebelum hengkang. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke