Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 24/II/18-24 Juli 99
------------------------------

Gus Dur, Ketua PBNU:
"SOAL MEGA, KITA PELAN-PELAN"

(DIALOG): KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, adalah tokoh kontroversial.
Banyak pro-kontra  seputar pernyataan-pernyataannya. Betapapun juga, dia
salah seorang tokoh kunci dalam  politik nasional. Basis sosialnya ada di
Nahdhatul Ulama, kalangan Muslim tradisional di pedesaan Jawa dan Kalimanan.
Jutaan massa tersebut membuat PKB, Partai Kebangkitan Bangsa yang didirikan
Gus Dur, menjadi partai bermassa Islam terbesar di Indonesia. Pada pemilihan
umum tahun 1955 NU menduduki peringkat kedua, dan sekarang PKB, partai Gus
Dur itu, menempati jajaran ketiga. Sebagai tokoh politik nasional, dia dan
NU-nya digempur pada awal Orde Baru, namun selamat. Dua kali Soeharto gagal
menyingkirkan Gus Dur dari pucuk NU, bahkan Gus Dur mampu mengecohkan
Soeharto di kala masih jaya. 

Dalam Fokus Awal Pekan Selasa 6 Juli 1999 ini, Radio Nederland
berbincang-bincang dengan Gus Dur. Berikut adalah cuplikan wawancara panjang
mereka.

T: Seberapa besar peluang koalisi antara PDI Perjuangan, PKB dan PAN?
J: Cukup besar, kita bisa menang 60 persen, tapi kalau 40 persennya enggak
mau terima bagaimana?

T: Endak mau terima Megawati jadi presiden?
J: Iya, itu kan sulitnya di situ, karena masalah agama di negara-negara yang
masih berkembang itu masih menjadi masalah. Masih banyak yang berpendirian
bahwa agama itu terbukti dalam kehidupan bernegara. Nah itu kan kalau mbak
Mega diangkat, itu kan berarti sebaliknya yang terjadi.

T: Bahwa kehidupan agama tidak terbukti dalam kehidupan bernegara?
J: Nah begitu, nah ini masih banyak yang berpendapat demikian. Makanya saya
katakan tidak konklusif, gitu lho.

T: Kan masih banyak juga kyai dan kelompok Islam yang menerima wanita
sebagai presiden bukan?
J: Iya, tapi jumlahnya apa cukup. Taruhnya PKB umpamanya sekian kursi gitu,
ya. Nah, sekian kursi apakah semua mau ikut, belum tentu lho. 40% atau 37%
PDI, taruhlah umpamanya dibutuhkan untuk mencapai angka 50% itu, 13% dari
PKB, apakah itu tercapai? Enggak tahu saya!

T: Selaku pemimpin NU, Anda kok tidak bisa meyakinkan umatnya bahwa
wanitapun layak menjadi presiden?
J: Memangnya saya malaikat. Saya kan manusia, saya mencoba kalau mau. Tapi
jangan  dipikir bahwa itu gampang, masalah itu 10 tahun lagi lah jelas,
sekarang kan belum tentu.

T: Sepuluh tahun lagi umat Islam Indonesia akan mampu menerima seorang
perempuan sebagai presiden?
J: Iya, iya, dewasa. Kalau sekarang belum tentu. Keputusan munas NU baru dua
tahun, taruhlah itu makan waktu 10 tahun, jadi masih perlu delapan tahun
lagi untuk Mega supaya bisa diterima orang. Presiden itu syaratnya apa, ya
sesuai dengan UUD 45, jadi berarti wanita boleh jadi presiden kan. Nah, tapi
itu baru dua tahun yang lalu di Lombok. Untuk sosialisasi ke bawah itu kan
enggak gampang. Semua peserta munas itu sekarang menjadi anggota MPR. Banyak
juga lho anggota MPR itu yang dulunya tidak ikut munas.

T: Bagaimana menerangkan kepada rakyat dan dunia bahwa walaupun menang tapi
Megawati tidak bisa menjadi presiden?
J: Ya pokoknya itu urusannya rakyat banyak, itu urusannya pendidikan, bukan
urusan saya. Pendidikan urusan semua orang! Saya sendiri setuju dengan
Megawati menjadi presiden, tetapi saya tidak bisa menjamin. Saya sudah
mengatakan terus terang berbicara terbuka seperti ini, kan sudah untung saya
mau.

T: Bagaimana Megawati menanggapi pendapat itu?
J: Ya dia ketawa aja. Orang ketawa itu gimana kan saya enggak tahu. Dan saya
sangat menghargai dia, saya juga enggak mau maksa-maksa omong sama dia. Apa
dia terima atau tidak itu urusan dia, bukan urusan saya. Bukankah saya sudah
bilang, pelan-pelan saja, tenang-tenang aja dulu. Waktunya masih agak panjang.

T: Anda juga siap-siap untuk maju kalau sampai macet, meskipun menganggap
dirinya enggak ada potongan.
J: Saya enggak tahu, saya enggak tahu, kenapa? Karena bagi saya satu hal:
saya tidak punya keinginan ke arah itu. Pendapat saya itu jelas bahwa yang
menang itu Mbak Mega, mari kita yakinkan orang, pelan-pelan, secara sabar.

T: Kemungkinan setelah pemilihan umum ini tampaknya ada kecenderungan
polarisasi Islam versus kebangsaan, bagaimana ini?
J: Saya rasa ini bukan soal apa-apa, soal waktu. Kalau menangnya sih jelas
menang, PKB dan PDI-P serta PAN, itu Anda bayangkan itu 70%, berarti 70
lawan 30 itu orang yang berpikir bahwa Indonesia tidak perlu terkait dengan
agama, negara tidak perlu terkait dengan agama. Itu sudah bagus sekali. Nah,
tapi dalam hal itu ada cacatnya yaitu mengenai Megawati masih ada persoalan,
di PKB ada persoalan, di PAN ada persoalan. Saya rasa yang enggak cuma di
PDI saja yang tidak ada persoalan.

T: Apakah hanya persoalan internal partai-partai Islam?
Betul-betul saya setuju itu. Artinya masalah ini bukan masalah seluruh
bangsa, bukan, ini hanya masalah, lagi-lagi soal edukasi lah.

Persoalan Megawati, perempuan, pantas atau tidaknya jadi presiden ini kan
persoalan yang semu. Karena sebenarnya mereka lebih khawatir Megawati akan
disetir oleh kalangan non-Islam?

Saya enggak ngerti gituan itu. Sebab bagi saya yang terpenting bangsa ini
sudah matang. Kebetulan masalah itu terkait dengan masalahnya Megawati. Jadi
dengan kata lain ini masih persoalan yang belum tentu juga apa motifnya.
Umpama ya, umpama ini, Megawatinya seorang doktor gitu ya kali persoalannya
jadi lain. Susahnya di situ kenapa pada waktu yang begini ini, lalu muncul
nama Mbak Megawati. Ya sebagai seorang demokrat yang betul-betul demokrasi
tegak, ya saya menginginkan Megawati yang menjadi presiden. Tapi itu kan
keinginan, ya. Kalau keinginan, antara keinginan dan kenyataan itu
bagaimana. Ini demokrasi itu dari dulu masalahnya kan itu saja. Di mana saja
di dunia. Demokrasi yang sudah majupun. Coba ambil contoh, pernahkah ada
perdana menteri wanita di Belanda?

T: Hampir!
J: Ya baru hampir. Belanda yang sudah begitu lama, baru hampir. Amerika yang
begitu gede, yang begitu hebat demokrasinya yang ngajarin semua orang dan
Belanda yang sudah ngajarin kita bangsa Indonesia juga belum.

T: Bukankah dulu Benazir Bhutto sebagai pemimpin Pakistan dihormati di
Indonesia?
J: Dia tidak dihormati oleh organisasi Islam. Waktu itu yang menang di
Pakistan adalah Partai Nasionalisnya Benazir Bhutto, Partai Islam kalah.
Nah, sekarang di Bangladesh yang ada itu partainya Mujibur Rahman, ini juga
partai yang nasionalis, bukan partai Islam. Gerakan Islam menentang dari
dulu. Jadi dengan kata lain, baru Nahdhatul Ulama di Indonesia melalui PKB
timbul kesadaran bahwa pemimpin wanita itu sama haknya dengan  pemimpin
pria. Nah, hak ini adalah faktor pendidikan.  Dan ini ironis sekali lho. NU
yang begini kolot, begini gombal, begini terbelakang, katanya, kan? Ternyata
cukup maju. Sebaliknya saudara-saudara kita yang penuh dengan PhD (doktor,
Red). Coba bayangkan, Yusril itu kan PhD, Amien Rais kan PhD, ternyata
enggak sama pendiriannya dengan NU yang kyai pesantren. Jadi ini masalah
pendidikan kok mas. Dengan kata lain PhD-PhD itu belajar dari Barat kan.
Amien Rais kan sekolahnya di Chicago, negara yang sudah maju kan? Ternyata
pendiriannya juga begitu. Sedangkan kami yang dari pesantren,
masalah-masalah gini sudah paham, sedangkan yang doktor enggak. Sebabnya
sepele. Tahu enggak, sebabnya apa? Karena mereka sekolah ke luar negeri
itulah. Dengan kata lain mereka takut menghadapi modernitas. Kalau
modernitas terjadi, itu mereka takut kalau Islam kehilangan identitasnya,
gitu lho. Identitas mereka hilang sebagai Muslim yang baik. Tapi di
Indonesia, karena kita hidup di kalangan rakyat yang biasa hidup
sehari-hari, kita enggak takut. Enggak ada masalah kehilangan identitas itu. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke