Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 24/II/18-24 Juli 99 ------------------------------ PROFIL SEKPRI SOEHARTO (POLITIK): Anton Tabah dekat dengan Soeharto karena mengorbankan George Aditjondro. Integritas dan moralnya juga dipertanyakan. Sejak dipaksa turun oleh gerakan mahasiswa 21 Mei 1998, Jenderal Besar H.M. Soeharto, tidak lagi memiliki ajudan, melainkan sekretaris pribadi. Sejak itu, ada dua orang sekretaris pribadi yang sehari-hari meladeni Soeharto. Salah seorang di antaranya berasal dari kepolisian dengan pangkat Letnan Kolonel (Letkol). Namanya, Anton Tabah. Ia sering menulis masalah kamtibmas di sejumlah media massa, dan pernah menjadi Kadispen Polda Jawa Tengah. Ketika sebagai Wakil kepala Polresta Yogyakarta ia sempat menuntut dosen Universitas Satya Wacana Salatiga Dr George Yunus Aditjondro atas tuduhan menghina Soeharto. Anton, yang diangkat tak lama setelah Soeharto lengser, Mei tahun lalu, memang bukan sekedar sekretaris biasa. Ia sekaligus juga merupakan salah seorang operator Soeharto, yang bukan cuma sekadar mengatur jadwal protokoler dan administratif sehari-hari. Ia memegang tugas khusus, yaitu memulihkan citra dan nama baik Pak Harto di mata rakyat Indonesia, setelah menjadi bulan-bulanan mahasiswa dan hujatan para demontran. Cara memulihkan citra dan nama baik Soeharto itu di antaranya lewat penerbitan buku tentang Soeharto, yang pernah diterbitkan Anton Tabah dan Servas Mario I Patty, belum lama ini. Buku-buku tersebut adalah "Empati Di Tengah Badai" dan "Melihat Jasa Pak Harto Bagi Bangsa dan Negara". Selain buku, Anton juga diberi order khusus menyiapakn sejumlah media untuk menjadi alat publikasi Soeharto. Sebut saja, majalah Garda, tabloid Siar dan lainnya. Anton pula yang ikut menentukan kapan dan saatnya pers mewawancarai dan menulis tentang Soeharto. "Dia-lah yang menentukan media mana dan wartawan mana yang akan mewawanacarai Pak Harto," ungkap sumber Xpos. Dari segi kemampuan, Anton Tabah memang punya kamampuan lebih. Anton sendiri sebelumnya pernah menjadi staf ahli Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto, lantaran dianggap memiliki wawasan lebih ketimbang polisi-polisi lainnya. Karena itulah, ia diposisikan sebagai sekretaris sipilnya. Sedangkan, sekretaris yang kedua, yang diambil dari personil organik TNI, tugasnya tak lebih sebagai pengawal Soeharto dan keluarganya. Kehadiran Anton di Cendana, menurut sumber Xpos, ternyata tidak luput dari peran putri sulung Pak Harto sendiri, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Konon, awal simpati muncul dari Cendana setelah laki-laki kelahiran Godean, Yogyakarta 6 Juni 1958 itu telah mampu membuat George Aditjondro kelabakan. Sejak saat itu Anton diincar oleh Cendana melalui cecunguknya di Mabes ABRI. "Mas Anton Tabah itu seorang perwira remaja yang inovatif. Ia dikenal sebagai kolumnis masalah Kamtibmas di koran-koran. Saya rasa dia layak menjadi seorang staf ahli. Jadi, harap ditindaklanjuti segera. Barangkali ke Mabes dulu, nanti kalau memungkin berikan kesmepatan menjadi ajudan," cerita sumber Xpos, mengulang permintaan Mbak Tutut. Sebelum Soeharto dihujat oleh demo mahasiswa akhir 1997 sampai Mei 1998, Anton Tabah pun ditarik ke Mabes ABRI menjadi staf ahli Pangab. Ibarat, pucuk dicinta ulam tiba. Anton pun sebetulnya juga sudah menebar jaring-jaring bagaimana caranya bisa menaruh simpati dan perhatian keluarga Cendana, yang waktu itu tengah jaya-jayanya. Lewat panggilan kepolisian, yang suratnya langsung ditandangani oleh mayor Anton Tabah waktu itu, George dipaksa dipanggil untuk menghadap Serda Budi dengan tuduhan melanggar pasal 267 KUHP, yaitu penghinaan terhadap kekuasaan Soeharto. Sosok Anton memang dikenal luas. Maklum saja, ia dikenal sebagai penulis masalah-masalah Kamtibmas, yang dianggap tidak pernah dilakukan oleh anggota polri lainnya. Kebetulan, memang, Anton Tabah itu ikut sipil yang kemudian ikut Milsuk di Polri. Sejak itulah ia menjadi seorang perwira pertama yang ditempatkan di Dinas Penerangan Polri di jalan Trunojoyo. Karir awalnya banyak dibantu oleh mantan Kadispen Polri Brigjen (Pol) Ny Jean Mandagi SH. Di pelbagai media massa ia banyak menulis buah pikirannya. Sebagai seorang sarjana komunikasi, Anton memang mempunya kemahiran berbahasa yang sederhana, enteng dan mudah dimengerti. Sejumlah bukunya sudah banyak diterbitkan, semuanya tentang kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di koran. Tentu saja, temanya tentang kepolisian dan keamanan masyarakat. Namun, meskipun dikenal sebagai kolumnis, Anton Tabah itu bukan penulis yang jujur dan memiliki integritas yang baik. Sejumlah artikelnya yang pernah dimuatnya merupakan duplikasi dari artikel sebelumnya, yang juga pernah dimuat di media lainnya dalam waktu yang berbeda maupun bersamaan. Misalnya, ia pernah menulis artikel yang judul dan isinya sama di Kompas tahun 1993 dan juga dimuat di Republika. Anton juga pernah menulis artikel di Kompas, yang isinya merupakan cut and glue dari artikelnya yang pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat. Untuk kedua artikelnya, yang ketahuan duplikasi ini, Anton dinilai tidak etis dan tidak bermoral sebagai penulis yang jujur oleh beberapa pembaca lewat Kontak Pembaca, Juni 1993. Itu memang baru sebagian contoh moralitas Anton Tabah, lewat karya-karya tulisnya di koran. Itupun yang baru ketahuan pembaca yang kritis dan jeli. Tidak tahu berpa artikel yang lolos yang merupakan duplikasi dari artikel-artikel lainnya, yang ditulisnya atau yang memang bukan ditulisnya sendiri. Kalau tugas dan perannya sebagai sekretaris Soeharto, sudah ketahuan lewat dua bukunya pujiannya. Anton, Anton. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
