Precedence: bulk CARA PRIMITIF: OPISISI DITUDUH KAFIR DAN DIBANTAI Oleh: Alam Tulus Tujuan mempolitisasi agama ialah untuk terbentuknya negara yang berazaskan Islam di Indonesia. Isu pilih caleg muslim menjelang pemilu 7 Juni yang lalu, dan isu gender menjelang SU MPR yang mendatang, adalah bagian dari usaha mempolitisasi agama. Atas usaha Gerakan Nasional Rakyat Indonesia (GNRI) telah dilansungkan sebuah diskusi tentang negara dan agama, Selasa (12/7) kemarin.Dalam diskusi tersebut telah berbicara Khatib Aam Said Aqil Siradj dan budayawan serta pengajar STF Driyarkara Mudji Sutrisno (Rakyat Merdeka, 12/7/99). Isu Agama dan Gender Cara Primitif Menurut Rakyat Merdeka di atas, antara Said Aqil Siradj dan Mudji Sutrisno sepakat: bahwa menggunakan isu agama dan gender dalam berpolitik, terutama untuk menyikapi hasil pemilu 1999, adalah cara primitif. Dan itu adalah tindakan berbahaya dan bisa menimbulkan disintegrasi bangsa. Munculnya isu gender pencalonan presiden wanita adalah isu politis agama yang tidak mengingini Mega naik jadi presiden. Yang mengangkat isu tersebut adalah orang-orang yang mabok agama, jelas Said. Agama, kata Said, dalam bernegara seharusnya dipakai sebagai dasar moral. Dengan tujuan agar mampu mengarahkan orang untuk berperilaku baik, jujur dan adil. Dan bukan untuk kemenangan partai, apalagi untuk merebut kursi yang banyak. Menurut Said Aqil, manusia memang sarat dengan kepentingan dan konflik. Karena itulah agama diturunkan untuk mengatur konflik. Artinya, perebutan kekuasaan itu memang ada. Tapi harusnya dilakukan dengan cara yang etis. Boleh berantem, tapi sopan. Inilah yang disebut demokrasi. Selanjutnya Said mengatakan banyak orang yang tidak paham beragama secara benar. Sehingga agama dipakai untuk membuat dan menciptakan konflik. Salah satuny dengan memunculkan isu gender. Secara blak-blakan Said mengatakan bahwa isu itu diangkat untuk menjegal Megawati. Pelakunya adalah orang yang sudah memiliki posisi yang mapan. Tapi takut kehilangan kemapanannya. Cara Kolonial Sementara itu Mudji Sutrisno dalam kesempatan itu juga menilai bahwa isu calon legislatif (caleg) non-muslim, adalah tindakan yang juga tidak punya integritas dan tidak beretika. Dia menilai tindakan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang merasa terancam. Sehingga secara emosional memperalat agama untuk kemenangan politiknya. Lebih lanjut diungkapkannya bahwa tindakan mempolitisir agama---terutama Kristen---memang mudah dilakukan di Indonesia. Sebab, bangsa ini sudah mengalami trauma sejarah dengan agama itu, Yaitu, adanya identitas Krsiten yang masuk ke Indonesia menggunakan cara kolonialisme. Padahal di Kristen sendiri, kata Mudji, sudah dianjurkan untuk tidak menyebarkan agamanya melalui politik praktis. Jalur yang dipakai ialah pencerdasan, itu bisa lewat sekolah atau bantuan sosial. Dari situ, baru diterapkan toleransi beragama. Pembantaian Opsisi Pernyataan Mudji ini disepakati Said Aqil. Menurut dia, upaya membenturkan agama dengan negara adalah tindakan seseorang yang tidak memahami agama secara benar. Sehingga agama yang seharusnya menjadi landasan partai politik, malah dipakai untuk mencapai kekuasaan. Sekali lagi, kata Said, mempolitisir agama itu sangat berbahaya sekali. Bahkan dengan agama orang bisa menghantam oposisinya. Jadi, kalau oposisi yang mengkritik, nanti jangan-jangan disebut kafir dan murtad. Sebagai contoh Said mengungkapkan salah satu kisah sekitar tahun 65 Hijriyah. Ada seorang penguasa Islam yang memerintah negaranya berdasarkan azas Islam. Saat itu ada sekelompok rakyatnya yang beroposisi. Hanya dengan mereka anti Islam, rakyat yang beroposisi itu dibantai. Akibatnya, sebanyak 70 ribu orang meninggal atasnama agama. Jadi, mereka yang oposan itu disebut anti pemerintah dan anti Islam. Lantas mereka dituduhkan sebutan kafir. Lah, ini kan bahaya, tandas Said. Dengan mendalami uraian Said Aqil dan Mudji Sutrisno dapat disimpulkan bahwa langkah isu caleg non muslim, isu gender adalah langkah untuk menuju berdirinya negara yang berazaskan Islam di Indonesia. Jika itu berdiri, oposisi bisa dituduh anti Islam dan bisa pula dibantai, seperti yang terjadi pada tahun 65 Hijriyah. Isu Caleg Non Muslim Gagal Seperti diketahui menjelang pemilu 7 Juni 1999, Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan disepakati 40 ormas Islam, mengamanatkan agar umat Islam jangan memilih calon non muslim. Ternyata amanat itu dianggap sepi oleh pemilih. Perolehan suara partai-partai Islam, kecil. Sehingga Jalaluddin Rakhmat menyimpulkan melalui DETAK ( No 046) perolehan suara kecil menunjukkan musim menjual Islam sudah berlalu. Tugasnya amanat MUI tersebut tak berpengaruh kepada pemilih. Para pemilih dalam memilih menunjukkan kebebasannya. Mereka pilih nama yang sesuai dengan hati nuraninya, yang mereka nilai mewakili aspirasinya. Bagi mereka tidak soal muslim atau non muslim. Bagaimana Nasib Isu Gender Di SU MPR? Bila amanat MUI untuk jangan memilih caleg non muslim gagal dalam pemilu, apakah akan gagal pula isu gender guna menjegal Megawati dalam SU MPR mendatang? Yang jelas, situasinya memang berbeda. Dalam pemilu rakyat benar-benar menunjukkan kemerdekaannya untuk menentukan pilihan. Sidang Umum MPR, tidak sama dengan pemilu. Dalam MPR yang dihadapi ialah wakil-wakil rakyat. Masing-masing punya fraksi. Dan antar fraksi akan terjadi dialog, kompromi, untuk menggolkan capresnya. Dalam dialog itu bisa terjadi permainan, misalnya uang. Sekiranya SU MPR berhasil menjegal Megawati, maka itu bukan karena persoalan Megawati itu adalah perempuan, tetapi lebih banyak karena faktor lain. Peranan isu gender di SU MPR, hanya sedikiti saja. Kesimpulan Jelasnya kiranya bahwa usaha menggunakan isu agam dalam berpolitik, adalah cara primitif. Agama mereka pakai untuk menciptakan konflik, bukan untuk mengurus konflik. Akan lebih berbahaya lagi jika tujuan mereka tercapai mendirikan negara Indonesia berazaskan Islam, maka nasib oposisi, bisa terulang kisah tahu 65 Hijriyah di Tanah Arab, seperti yang dikisahkan Said Aqil Siradj. Rakyat Indonesia, terutama umat Islam Indonesia tidak ingin terjadi di Indonesia, oposisi dibantai, dengan tuduhan anti Islam dan kafir. Tuduhan yang mengerikan. Umat Islam ingin tegaknya keadilan dan bukan kezaliman. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
