Precedence: bulk


Benjamin Knight:

KERETA RODA ORDE ORDE BARU

Ketika kereta roda Orde baru melaju, karena ditarik oleh kuda-kuda
buruh-buruh murahan. Para anggauta menteri dan pejabat berkata : " Lihat
Raja kami dari negara ketiga berhasil meraup bintang, ekonomi Indonesia "
Boooming ".

Ketika kereta roda Orde Baru melabrak, kepala-kepala manusia tanpa tubuh.
Para anggauta ABRI dan tentaranya berderap dengan tegap. Sang komandan
berseru : " Siap sang Raja ! tentara kami yang gagah berani, berhasil
menstabilisasi keamanan.  Gerakan kedisiplinan tentara berhasil memicu laju
ekonomi Indonesia sehingga " Booming ".

Ketika roda Orde Baru menderu-deru , menggema bagai halilintar. Mulut
Menteri penerangan komat-kamit monyong bagai corong klakson oplet. 
" Dengarlah Raja kami, rakyat Indonesia sangat mendambakan pimpinan paduka
raja yang memberikan kesejahteraan rakyat dengan ekonomi " Booming ".

Ketika kereta roda Orde Baru berjaya dikelilingi pesta pora kenegaraan. Sang
putra dan putri bersama permaisuri Raja yang berdandan dengan kemegahan,
tersenyum dihadapan rakyat. " Sang Bapak, Raja kita semua,  sudah kodrat
Tuhan untuk memimpin agar rakyat mendapat pendidikan yang sepadan, karena
beliau berhasil membuat ekonomi kita " Booming ".

Ketika kereta roda Orde Baru meliuk-liuk menuju zaman keemasan. Para ulama,
pendeta dan empu-empu mengelu-ngelu. " sang Raja, kami berdoa demi kesehatan
dan kesejahteraan serta semoga Tuhan memberikan umur yang panjang, agar
kenikmatan ekonomi " Boooming " tetap terjaga.

Ketika kereta roda Orde Baru mencapai taman Sriwedari. Menteri Industri
canggih yang dilengkapi dengan panah shakti buatan IPTN, yang tubuhnya kecil
berlari tergopoh-gopoh sambil mencium tangan sang Raja. " Oh Raja sang maha
guru, lihatlah rakyat Indonesia mampu menciptakan sebungkah logam dari bumi
Nusantara menjadi panah pasopati CN 230.... bukhankah kita berhasil karena
ke geniusan sang Guru yang membawa ekonomi " Booming ". Mata Sang Menteri
menari-nari bagai mata belalang yang lagi berahi.

Bahkan ketika kereta roda Orde baru mulai oleng dan terseok-seok, para
ponghawa, perwira, menteri, ulama, pendeta, cendikiawan bahkan dhukun, artis
dan dayang-dayangnya yang berjubel di Ruang Majelis Perwakilan Rakyat justru
dengan bangga bersama-sama menyanyikan lagu. ' Oh Sang Raja perkasa, rakyat
tetap mendambakanmu untuk tetap memimpin negara ini selama tujuh turunan,
ekonomi Indonesia pasti " Booming " .

Namun ketika ekonomi " Booming " menjadi  " Glooming ", dengan angkuhnya,
Raja Orde Baru itu turun dari kereta. Sang Raja berkata menantang Tuhan."
Hai rakyat jangan ragu,percaya kepada aku yang telah bertahta selama 32
tahun, badaipun pasti berlalu ".

Ketika itu topan dahsyat menyapu, seolah-olah para dewata marah terhadap
keangkuhan sang raja. Hujan menderu-deru mencurahkan jutaan kubik air mata.
Kawah Candradimuka bergolak menangis memuntahkan lava berwarna kuning.
Sementara hantu meluap dari rimbunan pohon beringin yang daun-daunnya
berterbangan dan rantingnya patah terkuak badai.

Ketika itu pula sang Raja melompat kedalam kereta roda Orde baru, melejit
mencoba melarikan diri. Namun kereta itu terjungkal oleh tubuh-tubuh
mahasiswa, pelajar, aktivis, buruh, marsinah, pejuang Timor Leste,
Orang-orang Aceh, Irian Jaya, orang-orang miskin. Roda kereta terpental,
sang kusir berseragam safari terpuruk, Menteri Penerangan pucat, Panglima
kalang kabut, tentara memberondongkan senjatanya kearah masa, para calo
konglomerat kabur membawa karung penuh dolar Amerika, putra putri raja
bingung, ulama dan pendeta beristiqotshah, pakar ekonomi panik, pesawat
ditukar dengan beras ketan, hutan dibabat untuk bayar hutang, rakyat menderita.

Ketika badai berlalu, dari pepuingan kereta Orde baru yang kini tanpa roda
....sang Raja tergopoh-gopoh. Matanya memandang  langit, mulutnya tersenyum
sinis. Sang Raja menantang " Kenapa mereka menghujat aku " tegasnya. "
Akulah penyelamat bangsa !!!!"  

Sang Raja menjerit-jerit hai tentaraku, hai ponghawaku, hai
menteri-menteriku, hai pengikutku bersihkan itu bangkai-bangkai yang
menghalangi jalan keretaku. Buang tubuh-tubuh para mahasiswa, pelajar dan
aktivis dari mimpiku, lenyapkan itu dari bayang-bayangku. Wahai tentaraku
jagalah Istanaku, jangan sampai arwah - arwah yang  tewas bulan Mei tahun
lalu mencekik leherku, oh kemana engkau Menteri teknologiku jangan sampai
aku dihujat, Oh tolong pohon beringin yang aku tanam sekarang daunnya
gundul. Hantu-hantu itu membangunkan tidur nyenyakku. wahai begundal-
begundalku, singkirkan tubuh-tubuh itu. Habisi semangat Reformasi. Gebuk
tokoh-tokoh reformasi. 
Waladhalah...Akulah sang Raja Perkasa, biar keretaku tak beroda, aku tetap
berjaya.

( Buat para pembela sang Raja, semoga tidak terlambat untuk berthobat).

Melbourne
20 July 1999.
Bela Kusumah Kasim.
Salam hangat buat mereka yang tak pernah lelah, menumbangkan Sang Raja

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke