Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 25/II/25-31 Juli 99 ------------------------------ HABIBIE INGKARI RAKYAT ACEH (PERISTIWA): Habibie mengingkari janji kepada rakyat Aceh. Tentara terus beroperasi dan banyak penduduk sipil mati, mengungsi dan kelaparan. Dengan senyum seperti boneka, Habibie berjanji di hadapan hadirin Masjid Baiturrahman Banda Aceh, 26 Maret 1999, bahwa tidak akan ada lagi kekerasan di Aceh, dan pelaku pelanggaran HAM akan diusut sesuai hukum yang berlaku. Tapi kenyataan bicara lain, dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR tanggal 2 Juli 1999, Panglima TNI Jendral Wiranto membeberkan data korban pertempuran TNI versus GAM sejak Mei hingga 1 Juli 1999 sebagaimana tercantum di tabel. Tabel. Korban Tewas dan Luka-luka ------------------------------------- Tewas Luka ------------------------------------- TNI 29 30 GBPK/AGAM 8 4 Penduduk Sipil 69 146 Total 106 180 ------------------------------------- Sumber: Mabes TNI Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FP-HAM) Aceh menyodorkan hitungan lain. Sejak April hingga Juli 1999, serentetan kasus penembakan telah menjatuhkan korban sipil 315 orang, TNI 61 orang dan AGAM 3 orang. Kondisi korban setelah kejadian 136 tewas (26 diantaranya TNI), 240 luka berat (26 di antaranya TNI), dan tiga sisanya selamat (semuanya TNI). Tercatat, TNI melakukan 230 kasus penembakan, AGAM memicu 28 kasus penembakan, sementara penembakan misterius (tak jelas identitasnya) 102, sedangkan baku-tembak TNI vs AGAM sebanyak 19 kasus. Di samping penembakan, FP-HAM juga mencatat 83 kasus penangkapan penduduk sipil oleh aparat TNI, dan baru tiga di antaranya yang dilepas. Selain penangkapan, dipaparkan pula kasus penculikan terhadap 33 orang yang sampai sekarang nasibnya tidak diketahui. Dari sekian data saja terlihat bahwa sesungguhnya TNI telah gagal melaksanakan amanat Panglima Tertingginya, yaitu Habibie. Lebih tragis lagi lantaran korban yang jatuh itu seiring berdirinya Komando Daerah Militer (KODAM) baru yang dinamai KODAM I/Iskandar Muda. Rencananya, KODAM tersebut adalah bagian dari Rencana Strategis V tahun 1999-2004. Duh, jadi sebegitu banyak korban yang jatuh itu baru awal dari kemungkinan jatuhnya korban-korban berikut. Hitung saja berapa algojo yang dikirim. Tahun 1990, Soeharto telah mengirim 6.000 pasukan tambahan dari berbagai satuan (Kopassus, Marinir, Paskhas AU, dan Brimob Kepolisian). Waktu itu ABRI sedang menggelar Daerah Operasi Militer (DOM) dengan Operasi Rencong dan Operasi Jaring Merah I-VIII. Tahun ini, Habibie mengirim tambahan lagi dengan 1.500 personil Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM). Hasilnya? Penduduk sipil yang jadi korban terbesar. Sudah saatnya ini dihentikan dengan menggusur sisa-sisa pengikut dan sistem otoriter Soeharto yang militeristik. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
