Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 25/II/25-31 Juli 99
------------------------------

Tarmizi MSI, anggota Komite Sentral Organisasi SMUR:
"MUSUH KAMI BUKAN ORANG JAWA"

(PERISTIWA): Darah setiap saat tercecer di Aceh. Kehadiran pasukan Indonesia
justru menakutkan masyarakat. Mereka berbondong-bondong mengungsi ke luar
desa, sebab tentara sering melakukan serangan membabibuta. Sementara itu,
perlawanan menuju referendum terus dilancarkan oleh para aktivis Aceh di
semua belahan bumi. Tapi mengapa dampaknya tidak segempar Timtim? Betulkah
gerakan mereka ekslusif dan anti-Jawa? Berikut petikan wawancara Xpos dengan
Tarmizi MSI, anggota Komite Sentral Organisasi (KSO) Solidaritas Mahasiswa
Untuk Rakyat (SMUR) Aceh yang juga menjadi Presidium KIPP Aceh.

T: Pergantian aparat PPRM dari TNI ke tangan Polisi, apakah kondisi Aceh
menjadi lebih baik?
J: Jika informasi secara formal dari pihak militer maka di Aceh, PPRM
sekarang sudah diganti oleh polisi. Tapi di lapangan, yang banyak sekarang
adalah pasukan Linud 100, dari Medan. Pasukan itu sangat kejam. Bahkan
mereka mempraktekkan teror dengan bermacam cara. 

Seperti misalnya, ketika masyarakat mengungsi dari desanya mereka
menggeledah rumah dan mengambili barang-barang masyarakat, bahkan sampai
menjarah toko toko masyarakat yang ditinggali oleh pemiliknya. Begitu juga
ternak rakyat seperti ayam ataupun kambing, mereka ambil semua. Mereka juga
mandi telanjang di depan umum, ini dilakukan oleh pasukan Linud 100 itu,
yang mana hal itu tidak sesuai dengan adat masyarakat di Aceh. 

T: Apa PPRM  punya strategi berbeda?
J: Saya pikir, PPRM itu nggak ada bedanya dengan militer. Mereka yang
dikirim ke Aceh, itu tidak menggunakan pendekatan persuasif, tetapi
melakukan pendekatan tempur. Karena yang dikirim ke Aceh itu kebanyakan dari
BRIMOB dan Tim Gegana, jadi tetap mengandalkan pendekatan represi dan
senjata. Bahkan perkembangan terakhir menunjukkan banyak Kapolres yang
diganti dari unit tempur. Seperti misalnya Aceh Utara, Kapolres Aceh Besar,
kemudian Kapolres Pidie, mereka sudah diganti dari unsur Brimob. Ini juga
sudah satu cara yang menunjukkan pemerintah tidak punya niat baik dengan
cara dialog atau penyelesaian secara politis. Tetapi yang diutamakan adalah
pendekatan kekerasan militer.

T: Apakah ada bentuk kekerasan lain ? 
J: Salah satu teror lainya adalah militer memainkan kontak senjata sendiri,
antara militer berpakaian tempur melakukan kontak senjata dengan sipil, yang
sebenarnya anggota militer juga. Jadi kesan yang muncul seolah kontak
senjata antara pihak GAM dengan militer. Padahal anggota mereka sendiri, hal
ini dilakukan di tengah kota. Seperti misalnya kejadian penyerangan terhadap
kantor polisi di Lhokseumawe, saat itu akhirnya ditemukan oleh PPRM bahwa
pelakunya ternyata anggota militer, TNI.

T: Berapa korban kekerasan militer yang jatuh setelah Habibie datang? 
J: Hal itu jelas, seperti kejadian Simpang KKA, setelah Habibie datang ke
Aceh. Dalam kejadian ini berjumlah 65 orang dalam satu hari saja. Dan ini
tidak pernah terjadi sebelum Habibie datang. Di masa DOM itu tidak pernah
terjadi dalam sehari jatuh korban 65 orang. Dan banyak sekali orang yang
tidak bersalah menjadi korban tembak. Seperti kejadian di Meulaboh. Dalam
kasus itu korban bukan dari anggota GAM tetapi dari penggerak-penggerak
demonstrasi dari masyarakat yang melakukan pengerahan massa untuk memprotes
masalah tanah, atau masalah lahan untuk sarang burung walet. Namun mereka
ditangkap bahkan banyak yang ditembak dengan tuduhan GAM.

T: Apa dampak dari kejadian seperti itu?
J: Sebelum kedatangan Habibie, areal konflik hanya terjadi di tiga (3)
daerah, yakni; Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur. Namun setelah Habibie
datang konflik sudah meluas hingga ke daerah; Aceh Besar, Aceh Selatan, Aceh
Barat dan sampai ke Aceh Tengah.

T: Kenapa?
J: Menurut pikiran saya, hal itu terjadi karena di Indonesia ini sebenarnya
tidak ada Presiden. Habibie sebenarnya bukan Presiden. Karena dia hanyalah
boneka yang ditaruh. Jadi sekedar lambang saja. Sebenarnya yang menjadi
presiden Militer. Jadi bisa dikatakan sudah terjadi darurat sipil di
Indonesia karena semua kekuatan dipegang oleh Militer, apapun yang dikatakan
oleh Habibie itu tidak akan terlalu berpengaruhnya untuk perkembangan
Indonesia. Saya pikir karena ini semua, maka Wiranto harus diganti karena
sangat tidak layak menjadi panglima. Ia juga merupakan sumber yang merusak
tatanan kehidupan masyarakat dan membuat konflik makin meluas.

T: Mengapa jika tentara masuk satu desa di Aceh seringkali disusul
mengungsinya penduduk ?
J: Hal ini disebabkan oleh pengalaman yang pernah terjadi, yaitu disaat
tentara masuk selalu terjadi kekerasan terhadap rakyat. Terjadi pemukulan,
perkosaan juga penangkapan yang tidak sesuai dengan hukum. Hal itu dilakukan
sejak masa DOM hingga operasi PPRM, karena rakyat takut dan tidak mau
melawan maka mereka mengungsi. Rasa aman saat ada militer jelas tidak ada,
berbeda dengan GAM. Masyarakat Aceh tidak takut sama GAM, karena mereka
sangat baik dan santun pada masyarakat.

T: Bagaimana bentuk perlawanan masyarakat di Aceh  terakhir?
J: Kalau perlawanan rakyat, muncul dalam bentuk pengungsian-pengungsian itu.
Saat militer masuk mereka keluar. Itu ujud perlawanan terhadap militer dalam
bentuk lunak. Sekarang sudah mulai terjadi meski baru di beberapa tempat
saat anggota militer akan membeli barang atau belanja maka rakyat tidak mau
menjualnya. Atau jika militer mau naik bus atau kendaraan maka rakyat tidak
mau mengangkut mereka. Pola itu sebagai bentuk tidak mau kerja sama dengan
militer. Bahkan ada pernyataan sikap dari beberapa kelompok perempuan Aceh,
yang memutuskan segala hubungan dengan militer baik itu pacaran maupun
kawin. Karena merasa militer selalu melakukan kebiadaban pada rakyat, bahkan
di Aceh rakyat sudah memposisikan militer sebagai musuh.

T: Bagaimana dengan mahasiswa?
J: Kalau mahasiswa, dengan aksi aksi demonstrasi. Kemudian tidak mau
berhubungan dengan militer, termasuk dialog jika dengan militer. Tak ada
istilah dialog dengan militer karena pengalaman yang kita dapat, hanya
janji, yang juga dilanggar militer sendiri.

T: Mengapa terkesan perjuangan Aceh eklsusif? 
J: Saya pikir tidak juga, soalnya kenapa sekarang seolah muncul tidak
melibatkan orang lain. Yang terjadi sebenarnya, orang Aceh memposisikan Jawa
sebagai musuh. Namun bukan orang Jawa sebagai musuh melainkan pemerintah
Jawanya sebagai musuh. Karena ibukota Indonesia berada di Jawa dan selalu
melakukan kekerasan dan kebiadaban pada rakyat Aceh, maka Jawa yang identik
dengan kekuasaan di Jawa yang sentralistik itu akhirnya menjadi musuh dari
rakyat Aceh.

T: Bagaimana dengan kampanye Timor Leste yang mampu melibatkan masyarakat di
luar Timtim?
J: Kami akan melakukan seperti itu, namun persolannya khan kami masih baru.
Jadi karena kami baru terlibat perlawanan rakyat Aceh ini, maka kami akan
ikut kehendak rakyat. Jika rakyat inginnya merdeka maka itu yang akan kami
perjuangkan, untuk itu maka referendum perlu dilakukan di Aceh. Melihat
kondisi Aceh sekarang tak ada satupun kekuatan yang dapat membendung rakyat
Aceh. Jika kekerasan timbul maka bukan kekalahan yang muncul dari rakyat
Aceh dan bukan dari pihak Indonesia, melainkan korban. Karena dari sejarah
kita tahu bahwa masyarakat Aceh tidak punya budaya menyerah, meski tinggal
seorang apalagi menghadapi kekerasan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke