Precedence: bulk


[DIREITO, No. 2/27 Juni '99]

PEREMPUAN DISEKAP JADI PELAYAN MILISI

(DIREITO UTAMA). Milisi punya cara sendiri untuk memelihara pasukannya,
yaitu dengan cara memperbudak orang lain. Sekurangnya 31 perempuan tak
berdosa di Bazartete disekap oleh milisi Besi Merah Putih (BMP) di bawah
pimpinan Jacinto Gonzalves. Kepada Direito beberapa korban mengaku menjadi
tawanan. Katanya, sebagai 'jaminan' bagi pejuang otonomi di daerah itu untuk
memenangkan otonomi luas. 

Pada 27 April lalu mereka ditangkap saat ada perintah dari pimpinan BMP
Manuel de Sousa untuk merekrut anggota milisi di wilayahnya. Semua penduduk,
terutama kaum muda, diperintahkan untuk mendaftar menjadi anggota. "Ikut BMP
atau mati," begitulah bunyi slogan BMP saat itu. Dengan berat hati warga
yang ketakutan berbondong-bondong ke pos milisi di sebuah rumah milik Abilio
dos Santos de Fatima, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Fahilebo,
Bazartete. Mereka yang tidak mau ikut - termasuk 31 perempuan itu -
ditangkap, disiksa lalu ditahan sampai sekarang. Mereka dipukul dengan popor
senjata, ditampar, ditendang karena tetap menolak jadi anggota milisi.
Pakaian mereka pun dilucuti. Mereka mengalami tindak kekerasan setiap saat.

Penganiayaan tidak berhenti di situ, mereka juga dijadikan pelayan bagi
milisi itu. Setiap hari, siang dan malam, mereka disuruh memasak, mencuci
pakaian, mengangkut kayu di hutan. Tidak jarang mereka juga diganggu oleh
para milisi, dan dipaksa menuruti segala kehendaknya. Salah seorang diancam
akan dibunuh kalau menolak, lalu masih dipaksa membayar uang sebesar Rp
100.000 kepada pimpinan milisi di daerah itu.

Akhirnya, pada 8 Juni 1999, lima orang berhasil melarikan diri, melintasi
rerumputan dan kebun kopi, lari ke kota Dili. Tujuannya hanya satu,
mengadukan perlakuan tak bermoral itu. Rekan mereka sebanyak 26 orang sampai
sekarang masih dalam sekapan milisi. Hidup mereka seperti dipenjara dengan
hukuman menerima otonomi luas yang sedang dipaksakan kepada rakyat Timor Timur.

Milisi pro-otonomi nampaknya sedang menemui jalan buntu. Gagal di arena
diplomatik, mereka mulai beraksi dengan kekerasan. Tapi bukan Falintil yang
jadi sasaran, melainkan rakyat kecil di pedalaman. Sekarang perjuangan
mereka dibayar dengan uang palsu. Dana JPS yang ditunggu-tunggu sebagai
'suntikan' pun tidak datang-datang. mungkin 'mampir' ke kantong para
pejabat. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke