Precedence: bulk


[DIREITO, No. 2/27 Juni '99]

KALAU PRO-INTEGRASI KAMPANYE

(DIREITO UTAMA). Genderang 'merdeka' bagi Timor Timur sudah ditabuh sejak 27
Januari 1999. Tapi kali ini penabuhnya adalah pejabat pemerintah Indonesia
sendiri, yakni Menlu Ali Alatas. Tanggal itu ia menyatakan bahwa kalau
rakyat menolak status khusus dengan otonomi luas, maka Timor Timur akan
'dilepaskan' (dibiarkan merdeka). Tawaran ini sepertinya langkah terakhir
dari pemerintah Indonesia yang sudah lebih dari 23 tahun menghadapi masalah
Timor Timur. Rupanya reaksi para pendukung integrasi juga keras. Pada 29
Januari lalu, Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilam (FPDK) mengadakan
seminar di Hotel Mahkota. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Danrem
164/WD Kol Tono Suratman, Kapolda Timtim Kol (Pol) Timbul Silaen, komandan
pasukan milisi Aitarak Eurico Guterres dan komandan pasukan Mahidi, Cancio
Lopes de Carvalho. 

Tiba-tiba, pukul 11.15 WTT sekelompok pemuda datang dan berteriak-teriak
mencaci mereka yang berseminar di Hotel Mahkota. Mereka menuntut agar Eurico
dan Cancio segera keluar menemui mereka. Tantangan itu mereka sambut dengan
tembakan senjata api. Seorang pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh
di pelabuhan ditangkap oleh pasukan milisi, tapi kemudian dilepas karena
dianggap tidak tahu apa yang dilakukannya. 

Insiden ini kemudian dianggap sebagai tanda berlanjutnya konflik yang
berkepanjangan. Pemerintah Indonesia sepertinya sengaja menyodorkan 'dua
opsi' sehingga suasana menjadi panik, dan masing-masing pihak berjuang keras
untuk memenangkan posisinya. Para pejabatnya selalu mengatakan bahwa Timor
Timur tidak mungkin berdiri sendiri atau merdeka. Dan sekarang tiba-tiba
mengharuskan Timor Timur lepas dari Indonesia jika menolak otonomi. Pilihan
pun terasa sebagai paksaan. Apalagi di banyak daerah orang dipaksa untuk
mendukung otonomi, dan jika tidak, nyawa mereka jadi taruhannya. 

Walau belum waktunya, kampanye mendukung otonomi sudah dimulai oleh milisi
dan para pejabat, sipil maupun militer. Spanduk otonomi dibentangkan di
mana-mana, disebut-sebut dalam acara resmi sampai upacara adat. Tidak ada
dialog, diskusi atau konvoi. Terima dulu, soal isi urusan belakang. 

FPDK pimpinan Domingos MP Soares malah membentuk Tim Sukses Otonomi (TSO).
Cabang organisasinya sudah dibentuk di daerah-daerah, walau sempat
menimbulkan pertanyaan warga. "Kenapa pembentukan FPDK selalu bersamaan
dengan pembubaran CNRT? Itu menunjukkan bahwa pembubaran CNRT direkayasa
oleh FPDK. Tapi harus dicatat bahwa CNRT tidak dan tidak akan  pernah bubar.
Itu sudah terbukti selama 23 tahun," ujar koordinator CNRT David Dias Ximenes.

Pembubaran itu, menurut David, dilakukan untuk memberikan image sekaligus
bahan kampanye kepada dunia dan Indonesia bahwa pihak pro-kemerdekaan sudah
tidak ada di Timor Timur. "Ingat, kelompok pro-kemerdekaan adalah rakyat
Timor Timur juga. Jangan sekali-sekali diabaikan. Sebab, mengabaikan rakyat
Timor Timur dalam menyelesaikan masalah status politik, sama dengan menusuk
duri di hidung rakyat. Artinya, masalah Timor Timur tidak akan selesai kalau
rakyat tidak dilibatkan secara penuh," kata David dalam wawancara melalui
telepon.

Kampanye lainnya adalah dilakukannya pertemuan-pertemuan umum secara paksa
di desa-desa. Pegawai negeri dan anak pegawai negeri diharuskan memilih dan
mendukung otonomi. Sebab, mereka dinilai telah "dibesarkan" oleh Indonesia.
Di antaranya digaji secara memadai dan mendapat jabatan empuk. Gaji yang
memadai dapat digunakan untuk membeli rumah mewah. Anak-anak pun diberi
beasiswa. Mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. 

Pembaca tentu maklum bahwa yang penting bukan  pendidikan tinggi, rumah
mewah atau gaji besar. Yang penting adalah memberikan rasa aman dan damai di
hati rakyat Timtim. Kampanye politik yang selalu menyengsarakan rakyatTimtim
selama ini, sekiranya segera dihentikan. Apabila bangsa Indonesia sadar dan
tahu bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, maka sudah sepatutnya tidak
memanfaatkan milisi yang juga rakyat Timtim untuk membunuh saudaranya.
Kampanye pembunuhan rakyat sudah semestinya dihentikan. Sebaliknya, tentu
semua seia sekata untuk berkampanye tentang perdamaian, persatuan dan cinta
kasih.  

Sosialisasi otonomi yang dilakukan di daerah-daerah sebelum penandatanganan
kesepakatan tripartit pada 5 Mei lalu tidak lebih dari tindakan-tindakan
intimidasi, teror dan pemaksaan kehendak politik kelompok pro-integrasi
kepada rakyat Timtim. Sosialisasi otonomi seperti itu merupakan kampanye
tindak kekerasan  dan upaya pembodohan rakyat. Sebab, rakyat tidak diberi
kebebasan bermoral untuk menentukan pilihan politiknya. Dengan demikian,
rakyat hanya menjadi alat untuk "membesarkan" para elit politik
pro-integrasi. Januario Pereira, salah satu korban pembantaian di rumah
Manuel Carrascalao pada 17 April lalu, pada awal pengungsiannya dari Maubara
ke Dili, mengatakan, "Kami dipaksa untuk masuk Besi Merah Putih. Kalau tidak
masuk, kami diancam untuk dibunuh", katanya. 

Januario memang telah pergi untuk selama-lamanya. Rintihan hatinya dirasakan
juga oleh Januario-Januario yang lain. Menurut dia, selama ini anggota Besi
Merah Putih melengkapi diri dengan senjata api (pistol dan M-16) dan
tradisional (misalnya pedang, parang dan panah) dalam melakukan
aksi-aksinya. Setiap ujung senjata dibalut atau diikatkan bendera Merah
Putih, bendera nasional Indonesia. Pertanda apa? Komandan Mahidi (Mati atau
Hidup Untuk Integrasi dengan Indonesia), Cancio Lopes de Carvalho dalam
sebuah wawancara dengan Direito  mengatakan, "Kami mati atau hidup tetap
integrasi dengan Indonesia, sekali Merah Putih tetap Merah Putih". 

Di sini, Merah Putih dijadikan alat kampanye kelompok pro-integrasi. Bahwa
TNI boleh pergi tapi Merah Putih harus tetap berkibar di Timtim. Karena itu,
jiwa dan raga menjadi taruhannya. Siapa menolak Merah Putih sama artinya
dengan menggorok leher sendiri. Artinya, kalau menolak Merah Putih dan
dibunuh karena sikapnya adalah wajar. Itu hukum yang berlaku bagi kelompok
pro-integrasi. Tidak ada kompromi bagi yang menolak integrasi atau otonomi.
Karena itu, boleh dibilang bahwa kampanye otonomi pun dilakukan melalui
pembunuhan. 

Apa alasannya? Tindakan pembunuhan itu sendiri merupakan salah satu cara
menakut-nakuti rakyat. Sehingga rakyat tidak mempunyai pilihan lain kecuali
otonomi. Tindakan menakut-nakuti dan membunuh rakyat seperti itu malahan
diklaim sebagai upaya sosialisasi otonomi. Sosialisasi otonomi tidak hanya
dilakukan melalui tindakan pembunuhan tapi dipaksakan pula melalui perusakan
dan pembakaran rumah-rumah rakyat. Binatang piaraan ditangkap kemudian
dibunuh untuk pesta-pora. Tanaman penduduk dibabat. 

Sosialisasi otonomi juga dilakukan melalui "penyanderaan" gadis-gadis desa.
Caranya, gadis-gadis itu dipaksa untuk bekerja, misalnya memasak bagi para
milisi. Mereka yang menolak keinginan milisi akan diberi "upah" yang
setimpal: diperkosa atau dibunuh. Beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa
sebanyak 30 perempuan ditahan di salah satu markas milisi di  Liquica.
Beberapa perempuan di antaranya diperkosa. Tapi hal itu dibantah oleh
Kadispen Polda Timtim Kapten Pol Widodo DS. "Sampai saat ini kami belum
mendapat laporan kasus yang anda tanyakan itu. Dari mana Anda mendapat
informasi itu," kata Widodo setengah bertanya kepada salah seorang wartawan. 

Cara-cara kampanye dan sosialisasi otonomi seperti itu adalah cara-cara
ilegal dan melawan hukum. Kesepakatan Tripartit 5 Mei 1999 yang
ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Portugal yang disaksikan Sekjen PBB
di New York, dianggap tidak pernah ada. Dan, meskipun kampanye baru akan
dilakukan menjelang Jajak Pendapat mendatang, tapi kelompok pro-integrasi
malahan sudah mencuri start. Sedangkan kelompok pro-kemerdekaan hanya diam
saja. Kenapa diam, menurut Leandro Isaac, persiapan untuk merdeka sudah
dilakukan selama 23 tahun lebih. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke