Precedence: bulk PEMILU TIDAK MENYELESAIKAN PERSOALAN BANGSA Oleh Alam Tulus Pemilu 1999 dinilai tak memenuhi harapan gerakan reformasi. Hasil akhir yang diharapkan bisa membawa perubahan terhadap kehidupan nasional, jauh dari yang diharapkan. Partai peserta pemilu belakangan lebih sibuk memikirkan perolehan suara daripada agenda reformasi yang sudah digalang mahasiswa. Pernyataan ini diungkapkan pengamat poltik LIPI, Hermawan Sulistyo. Menurut Hermawan, pemilu yang tempo hari dilaksanakan tak lebih dari sebuah arisan, di mana masing-masing kekuatan berusaha mendapat bagian kekuasaan dari perlombaan yang digelar selama pemilu. Selain itu, pemilu sendiri masih diselenggarakan oleh orang-orang yang selama ini ikut merekayasa pemilu Orde Baru. Tujuan reformasi menjadi kabur karena pemilu itu sendiri. Pemilu akhirnya tak lebih dari alat meligitimasi kekuasaan pemerintahan yang sekarang saja. Kompromi-kompromi yang berorientasi pada kekuasaan lebih mendominasi daripada penegakkan kedaulatan rakyat. Itu adalah budaya status quo. Cuma cari kekuasaan saja. Karena itu Hermawan mengusulkan agar kekuatan reformasi kembali bersatu. Sasarannya bergerak untuk benar-benar menumbangkan kekuatan status quo. Kalau itu terjadi, sulit bagi rakyat mendapatkan perubahan. Pengamat LIPI yang lain, Dwi Susanto mengatakan gagalnya kelompok reformasi memperoleh suara terbesar menjadikan pemilu kali ini hanya menjadi tahap awal dari pertarungan panjang yang masih diwarnai misteri. Dwi menilai puncak pertarungan politik pasca pemilu akan ada di Sidang Umum MPR nanti. Soal siapa yang masih sulit diramalkan, sebab tidak ada parpol yang meraih suara di atas angka 50 persen. Masing-masing punya peluang yang sama, bahkan parpol yang tidak mempunyai suara terbanyak sekalipun. Puncak pertarungan di SU MPR ini akan memunculkan dua kekuatan. Yakni kekuatan Habibie dan kekuatan Megawati. Tanpa menafikan adanya kekuatan lain, dua kekuatan ini akan menjadi konsekuensi kompromi politik. Karena itu bukan mustahil juga jika kekuatan yang bersaing di MPR ini akan diikuti kekuatan lain yang seideologi dengan keduanya. Dua kekuatan ini sepertinya menjadi refleksi dari kekuatan kelompok Islam dan kelompok nasionalis. Pertarungan dua kelompok besar ini sebenarnya tidak didasarkan pada sinisme ideologis. Pertarungan ini bukan pertarungan ideologi, melainkan pertarungan antara dua kelompok. Awalnya, pertarungan akan membawa ideologi atau agama, namun bukan kerena ideologi atau agama pertarungan itu dilakukan. Akhirnya agenda reformasi akan terbengkelai. Masing-masing kekuatan akan bertarung, dan yang paling diuntungkan adalah kelompok pro statusquo. Sebab agenda terhadap mereka tidak dilanjutkan, dan mereka pun bisa melenggang dengan tenang. Milik Beberapa Orang DI kalangan pengamat politik ada kesepakatan bahwa pemilu kali ini tidak bisa menyelesaikan persoalan bangsa secara keseluruhan. Rusdi Muhtar, juga pengamat politik dari LIPI, bahkan melihat pemilu kali ini tak bisa menggoyang kekuatan status quo. Target reformasi adalah menghabisi kekuatan status quo. Tapi, terbukti bahwa pemilu kali ini masih banyak orang yang mendukung kekuatan status quo. Buktinya, Golkar masih menang. Dalam konteks demokrasi, bisa dipahami, namun dalam konteks perubahan bangsa, itu menunjukkan betapa perubahan masih sulit dilakukan di negri ini. Sebab Golkar adalah personifikasi kekuatan lama yang harus dirombak. Rusdi mengatakan, kegagalan perubahan dan gerakan reformsi ini, terjadi karena sosialisasi dari tema pemikiran reformasi ini dipertaruhkan dengan pemilu, ya hasilnya masih bisa direkayasa. Rusdi melihat, situasi akan makin gawat saat SU MPR nanti dilaksanakann. Sebab, di situ yang bermain hanya kalangan elit saja. Bayangkan, 200 juta penduduk Indonesia, tiba-tiba dihadapkan dengan pilihan yang ditentukan 700 orang. Yang saya yakin, rakyat tak tahu apa benar aspirasinya terwakili. Agenda Reformasi Diabaikan Penilaian tiga pengamat politik dari LIPI tadi tentang pemilu jelas sekali: hasilnya tak memenuhi harapan gerakan reformasi. Mengapa? UU Pemilu yang menyiapkan adalah DPR yang dulu merekayasa pemilu Orde Baru. Untuk kepentingan kemenangan pihak stsatus quo. Maka dalam UU Pemilu tetap dipertahankan kursi gratis bagi TNI. Sosialisasi tema reformasi belum sampai ke seluruh negeri, melainkan hanya dipahami di kota-kota saja. Sementara di desa orang belum banyak paham. Kaum tani di desa belum paham arti reformasi, maka Golkar masih leluasa di desa-desa, terutama di luar Jawa. Bila para petani paham soal reformasi, mereka tak akan memilih Golkar.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
