Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 26/II/1-7 Agustus 99
------------------------------

MEGAWATI

(LUGAS): Tak bicara salah, bicara pun salah. Demikian nasib Megawati di mata
lawan-lawan politiknya. Mega angkat suara di acara Isthiqosah Kubro
Nahdlatul Ulama di Stadion Senayan, Ahad pekan lalu. Kali kedua, pada
peringatan Peristiwa 27 Juli, Selasa pekan lalu. Itu dua kesempatan pertama,
Mega tampil di depan umum sejak berbagai jegalan menyerangnya. Dalam diamnya
Mega dikecam. "Bagaimana ini, Mega kok diam saja. Calon Presiden macam apa dia?"

Orang berharap, pada pidato 27 Juli, Mega menjawab semua serangan itu:
mengenai calon presiden perempuan, kemampuan dirinya, nasib koalisi Paso,
soal poros tengah, amandemen UUD 45, peluangnya menjadi presiden dan
sebagainya. Ia hanya bicara singkat soal sikap PDI Perjuangan yang anti
kekerasan. 

Ini, terang saja membuat lawan-lawan politik Mega gembira, terutama kubu
Habibie dan kubu Amien Rais. Mereka bisa berkata, "Oo, cuma segitu kapasitas
Mega." Apalagi, Mega menghindar dari konperensi pers, dan menugaskan dua
orangnya yang paling cerdas, Prof Dr Dimyati Hartono dan Kwik Kian Gie.
Wartawan bertanya, mengapa tak Megawati sendiri yang menghadapi pers. Tak
cukup cerdaskan Mega untuk menjawab berbagai pertanyaan wartawan?

Entah, siasat apa yang tengah dijalankan Mega. Atau pertanyaannya: apakah
siasat diam ini merupakan siasat partai atau siasatnya sendiri. Sidang Umum
tinggal tiga bulan lagi, apakah sisa waktu itu cukup untuk menggalang
kekuatan di MPR? Tampaknya sulit, apalagi Amien Rais, Ketua Umum PAN, yang
sejak awal berjalan beriringan dengan Mega, berbalik melawannya. Halangan
yang dihadapi Mega akan makin keras, apalagi jika Gus Dur tergiur godaan
Amien Rais dan mau dicalonkan jadi Presiden. 

Sayang memang, partai yang menang tak memimpin pemerintahan. Dan
jegalan-jegalan yang dialami Mega lengkap sudah. Malang benar nasib
perempuan itu. Namun, bukankah Mega besar karena jegalan-jegalan? Sejak
1995, diktator Soeharto telah menjegalnya. Lolos dari Soeharto, Mega masih
menghadapi jegalan: dari partai-partai Islam, MUI, Habibie hingga Amien
Rais. Ia malah makin besar. Nah, jika sekali ini ia dijegal lagi:
dipecundangi para politisi laki-laki dan gagal jadi presiden, tak ayal ia
akan makin besar. Di pemilu 2004, mungkin ia mungkin justru akan meraih
lebih dari 50 persen suara. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke