Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 26/II/1-7 Agustus 99 ------------------------------ Leandro Isaac, Koord. Komisi Politik Nasional CNRT: "SETUJU, JAJAK DITUNDA...." (DIALOG): Seusai Pertemuan ASEAN di Singapura, Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengatakan bahwa di New York telah diumumkan tanggal jajak pendapat di Timor Timur kembali ditunda sampai Senin 30 Agustus. Menurut Alatas penundaan kali ini hanya disebabkan oleh proses pendaftaran yang terlambat dimulai. Alatas menambahkan kondisi keamanan di Timor Timur membaik terus dan Indonesia mampu mengatasi keadaan di sana. Bisakah jajak pendapat benar-benar dilaksanakan 30 Agustus nanti? Berikut komentar Leandro Isaac, Koordinator Komisi Politik Nasional CNRT, sekaligus Anggota Komisi Perdamaian dan Stabilitas (KPS) kepada Xpos dalam sebuah wawancara: T: Bagaimana tanggapan Anda tentang penundaan itu? J: Karena penundaan itu diumumkan oleh Menteri Ali Alatas, maka saya masih agak ragu-ragu ya apakah ini Menteri Ali Alatas sudah menjadi jurubicara Sekjen PBB. Kalau demikian maka saya sementara belum bisa berkomentar. T: Tetapi ini kan yang kedua kalinya? J: Saya kira baik kalau keputusan itu diambil oleh Sekjen PBB, karena pengambilan keputusan ini ada dasarnya karena orang PBB ada di Timor Timur. Itu orang-orang UNAMET. Berarti kalau ada keputusan seperti ini, maka ada dasarnya. Dasarnya ini menurut saya tidak lain adalah masalah keamanan, kebebasan rakyat untuk menjalankan seluruh proses jajak pendapat ini. Maka saya sangat setuju dan mendukung. T: Apakah keamanan masih menjadi masalah di Timor Timur? J: Ya masih, masih, masih. Masalah keamanan belum menjamin kebebasan bergerak rakyat Timor Timur pada umumnya, walaupun sudah ada usaha di mana-mana, tetapi belum mencapai apa yang kita harapkan yang sebenarnya. T: Berarti tanggal 30 Agustus itu realistis, bisa dilaksanakan? J: Semua tergantung pada kemauan dan niat baik pemerintah Indonesia sendiri yang bertanggungjawab terhadap keamanan di Timor Timur. Tergantung itu saja. Kalau betul-betul Indonesia khususnya aparat keamanan betul-betul melaksanakan tugas mereka sebagaimana mestinya, maka saya kira itu boleh dilaksanakan. T: Jadi Anda optimis, walaupun itu masih tergantung pada Indonesia? J: Saya sangat optimis terhadap niat dan kemauan baik Indonesia. Karena ini sudah ditunda kedua kalinya, maka itu tidak menunjukkan sesuatu yang positif daripada niat dan kemauan, keseriusan pemerintah Indonesia sendiri. T: Selama pendaftaran ini suasananya cukup tenang, tetapi nanti setelah pendaftaran lalu akan ada periode kampanye, yaitu masing-masing pihak akan berusaha untuk meyakinkan para pengikut jajak pendapat supaya memilih pihaknya masing-masing. Bagaimana harapan Anda pada situasi kampanye nanti? J: Dari pihak CNRT kami tidak terlalu sibuk kampanye. Apalagi untuk meyakinkan rakyat. Karena 23 tahun rakyat ini sudah berjuang untuk referendum, sudah berjuang masyarakat untuk memilih kemerdekaan, maka rakyat ini sudah siap sebenarnya. Tetapi karena ada di dalam program UNAMET bahwa harus ada kampanye, maka kami ikuti, kami laksanakan. Tetapi tidak berarti bahwa kami harus berjuang mati-matian untuk meyakinkan rakyat agar dia menolak otonomi. Tidak demikian. T: Anda optimis masyarakat Timtim akan menolak otonomi? J: Tak perlu saya katakan kepada Anda bahwa masyarakat Timtim akan menolak otonomi pada jajak pendapat mendatang. Namun dengan berbagai kejadian yang terjadi akhir-akhir ini masyarakat semakin sadar bahwa apa yang akan mereka pilih, tentunya sebuah pilihan yang berdasarkan hati nurani mereka. Anda bisa tanya kepada masyarakat Timtim apakah mereka akan memilih otonomi? Pasti mereka akan menjawab bahwa sebelum otonomi di dilaksanakan di Timtim saja mereka sudah mengungsi ke berbagai daerah. Apakah itu realistis masyarakat akan memilih otonomi? Saya yakin masyarakat semakin sadar bahwa mereka dikejar-kejar, diintimidasi dan diteror, justru itu dilakukan oleh orang-orang yang pro otonomi. Sangat sulit bagi masyarakat untuk menerima kehadiran orang-orang pro otonomi, tapi saya tidak bisa memaksakan masyarakat untuk menolak otonomi, biarlah masyarakat yang akan memilih sendiri. Mereka tahu bahwa apa yang terbaik bagi mereka itu yang akan mereka pilih. T: Dengan teror dan intimidasi yang dilakukan oleh para milisi tentunya masyarakat akan takut dan memilih otonomi. Bukankah itu merupakan suatu strategi dari kelompok pro otonomi untuk memaksakan kehendaknya kepada masyarakat? J: Soal teror dan intimidasi bukan masalah baru di Timtim. Bahkan sampai saat ini masyarakat Timtim sebagian besar sudah mengungsi karena tak tahan dengan teror dan intimidasi yang dilakukan oleh milisi itu. Saya hanya akan mengatakan bahwa semakin masyarakat ditekan maka dendam dan kebencian masyarakat terhadap milisi semakin membara. Masyarakat tidak mungkin ditekan untuk memilih otonomi, dan saya sarankan biarlah masyarakat yang memilih apa maunya mereka. T: Bagaimana sikap CNRT terhadap intimidasi dan teror dari milisi? J: Dari dulu kami selalu bersikap untuk tidak meladeni permainan politik yang kotor. Kami selalu bersikap sabar, karena proses ini sudah disepakati oleh PBB, Indonesia dan Portugal. Kita hanya menerima apa yang sudah disepakati bersama. Tugas kita adalah mengamankan kesepakatan itu. Sehingga saya berpendapat teror dan intimidasi yang mengakibatkan menyarakat mengungsi, justru hanya akan menjelekkan nama baik Indonesia di dunia internasional. Apa yang dilakukan oleh para milisi itu justru sebaliknya semakin menjatuhkan nama baik Indonesia di mata masyarakat Timtim. Masyarakat semakin tidak percaya lagi kepada Indonesia. T: Rombongan misi kemanusiaan dicegat, kelompok pro otonomi mengatakan UNAMET telah melanggar kesepakatan New York yakni memberikan bantuan kepada pengungsi. Bagaimana pendapat Anda? J: Saya hanya ingin bertanya ketika pasukan NATO mendarat di Kosovo dan memberikan bantuan makanan dan obat-obatan bagi pengungsi etnis Albania, siapa yang protes tentang hal itu? Apakah Yugoslavia memprotes tentang bantuan itu? Tidak ada kan? Bahkan tidak ada kesepakatan bahwa tentara NATO bertugas di Kosovo selain menjaga keamanan juga berkewajiban untuk membantu para pengungsi etnis Kosovo. Tapi setidaknya para tentara NATO yang bertugas di Kosovo mempunyai tanggungjawab moral untuk membantu sesama manusia yang menderita, maka saya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh UNAMET di Timtim hanya semata-mata tanggungjawab moral terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Mengapa kita harus serang mereka? Itu adalah tindakan yang tidak peri kemanusiaan. Apa yang sudah UNAMET lakukan terhadap kelompok pro kemerdekaan selama ini? Tidak ada, bahkan kami menilai bahwa UNAMET sampai sekarang masih bersikap netral. Artinya dia tidak memihak kelompok kami.(*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
