Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 26/II/1-7 Agustus 99 ------------------------------ AMBON PERANG LAGI (POLITIK): Penyelesaian sejumlah kerusuhan yang terjadi di Indonesia tidak pernah tuntas. Termasuk konflik antar agama di Ambon pada awal tahun 1999. Karena itulah peristiwa berdarah terjadi kembali di Ambon Sabtu (24/7) lalu. Kerusuhan berawal di kompleks Perumnas Poka Kecamatan TA Baguala Ambon pada sekitar pukul 01.00 WIT ketika terjadi aksi saling lempar antarwarga di kompleks Perumnas tersebut. Penyebabnya sendiri tidak diketahui secara pasti. Lama kelamaan konsentrasi massa dari masing-masing pihak yang berseteru semakin banyak. Peristiwanya kemudian berlanjut dengan aksi saling lempar dengan menggunakan tombak, panah dan merusak rumah. Peristiwa tersebut berlangsung sampai malam harinya. Mulai sekitar pukul 21.30 WIT massa bukan sekedar hanya saling lempar, tapi sudah saling membakar rumah. Keributan terus meluas hingga ke rumah-rumah di Desa Poka dan Desa Rumah Tiga. Dan meluas terus ke wilayah pusat kota. Antara lain ke Jl. Diponegoro Atas dan Diponegoro Bawah, Tugu Trikora, sekitar Jl. A.Y. Patti, Depan Masjid Al Fatah dan Kudamati. Peristiwa yang tak diduga ini membuat panik masyarakat. Banyak penduduk yang kebingungan dan memilih lari mengamankan diri di tempat-tempat yang aman dengan pakaian di badan tanpa sempat membawa barang dan surat berharga. Mereka mengungsi ke berbagai lokasi. Antara lain Gedung Musyawarah Desa Rumah Tiga, Gereja Desa Rumah Tiga, Gedung Gereja Sejahtera-Perumnas, Masjid Al Ishar-Perumnas, Kompleks Den Zipur TNI-AD di Desa Rumah Tiga, BKPI Dinas Perikanan di Desa Rumah Tiga, Desa Hative Besar dan Kompleks TNI-AL Halong, serta Gereja Galala. Pihak kepolisian mengatakan, massa muslim yang berikat kepala putih turun dari desa-desa seperti Hitu dan desa-desa lain di sekitarnya. Mereka mengamuk di kota lantaran tersebar isu bahwa masjid besar di pusat kota telah dibakar. Sementara massa kristen yang berikat kepala merah mencoba bertahan dan menghalang-halangi. Namun upaya itu justru menjadikan perang terbuka antar kedua kelompok tersebut. Sedangkan aparat keamanan yang ada tidak mampu mengedalikan. Sebaliknya, massa yang bertahan justru ditembaki aparat keamanan. Akhirnya pembakaran terus meluas di tengah kota. Kerusakan dan kebakaran besar terjadi di Perumnas, perumahan pemda di Poka dan sejumlah rumah dosen di Kompleks Unpatti di Poka, kompleks Perumahan LIPI di Rumahtiga, pemukiman penduduk lainnya. Menurut informasi, persoalan agama di Ambon, sebenarnya sudah cukup mengkhawatirkan. Rasa saling curiga di antara mereka telah sampai titik jenuh. Budaya pela gadong yang menjunjung tinggi persahabatan dan pernah menjadi kebanggaan masyarakat setempat sudah luntur. Meletusnya peristiwa di awal tahun ini konon kabarnya meluas karena sentiman agama. Orang Ambon Kristen yang merasa lebih mayoritas mulai terpinggirkan baik dalam ekonomi maupun pemerintahan. Sampai hari Kamis (29/7) lalu situasi Ambon sudah berangsur-angsur mereda, bersamaan dengan pengiriman 1 batalyon oleh Menhankam/Pangilma TNI Jenderal Wiranto. Namun menurut penduduk solusi Wiranto itu diragukan, karena kenyataannya justru tentara sering berbuat brutal dengan menembaki penduduk tanpa dosa. Seperti yang terjadi di Aceh dan Timtim. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
