Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 26/II/1-7 Agustus 99 ------------------------------ HABIBIE DIBALIK RAIBNYA MODAL BANK BALI (EKONOMI): Modal Bank Bali raib dan gagal ikut program rekapitalisasi. Ada kabar, Bank itu dibobol pemiliknya untuk Habibie. Bank Indonesia akan menyelidikinya. Bank Bali bobol. Sehari menjelang batas waktu yang ditetapkan Bank Indonesia untuk menyetorkan modal, 22 Juli lalu, bank milik keluarga Ramli itu, ketahuan kosong kasnya. Uang yang sedianya akan disetorkan ke Bank Indonesia, ada beberapa triliun, raib entah ke mana. Walhasil, karena tak bisa memenuhi penyetoran modal pada hari yang ditentukan, Bank Bali diyatakan diambilalih. Kegagalan Bank Bali menyetor modal ini masih misteri. Soalnya, beberapa waktu lalu, Standart Charter Bank, sebuah bank asing, bersedia membeli sebagian saham Bank Bali, malah sudah menyetor modal sebanyak US$56 juta atau sekitar Rp392 miliar. Standart sendiri bukannya tak tahu bahwa pada 21 Juli lalu adalah batas yang ditetapkan Bank Indonesia untuk Bank Bali. Menurut sebuah sumber Xpos di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sebelum batas akhir itu, terjadi transfer ratusan miliar rupiah ke luar dari bank itu. Belum diketahui siapa dan ke mana uang itu ditransfer, namun sumber di BPPN tadi mengatakan tak sulit mencari tahu. Dugaan awal, keluarga Ramli yang mengambil uang itu dan menyerahkan Bank Bali untuk dimiliki pemerintah lewat program bank take over. Cara ini, tampaknya sudah dibicarakan dengan BPPN. Jadi semacam kompensasi bagi keluarga Ramli untuk pembelian bank itu. Selesai? Belum. Bank Indonesia (BI) mencium bau tak sedap dari peristiwa yang menimpa Bank Bali ini. Bank Indonesia menduga ada penggembosan modal di tubuh Bank Bali yang dilakukan oleh pemilik Bank Bali sendiri. Ini dikemukakan Deputi Gubernur BI, Subarjo Joyosumarto. Memang di take over-nya Bank Bali memang mengejutkan. Bank itu selama ini dikenal sehat, kendati agak sakit karena krisis moneter. Bank yang didirikan oleh mendiang Djaja Ramli ini terkenal konservatif dan tak bermain-main dengan membiayai grupnya sendiri apalagi melanggar batas maksimum pemberian kredit. Nah, dugaan penggembosan modal Bank Bali ini yang kabarnya membuat Standard bermaksud membatalkan investasinya. Rudy Ramli, Direktur Bank Bali dalam jumpa persnya tidak memberikan komentar mengenai masalah itu. Ia hanya meminta Standard yang menjawabnya. Douglas Beckett dari Standard menyatakan tidak menemukan penggembosan aset seperti itu dalam proses due diligence. Sumber Xpos di Bank Bali mengatakan, sebelum pemilihan umum, para pengusaha yang masih punya uang dan usahanya masih baik diminta menyetorkan sejumlah uang tertentu ke kas Tim Sukses Habibie. Nah, keluarga Ramli ini tak luput dari todongan itu, tentu dengan ancaman-ancaman tertentu. Ramli menyerah dan menyerahkan sekian puluh miliar. Ada kabar juga, Ramli harus menyetor dana yang jumlahnya puluhan miliar juga ke kas Golkar untuk dana pemenangan. Walhasil, Ramli tekor. Dasar pengusaha ia punya cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Caranya? Ya itu tadi, menggembosi modal banknya sendiri dan menyerahkan banknya ke BPPN. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
