Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 26/II/1-7 Agustus 99
------------------------------

MIMPI BURUK PARA JENDERAL

(POLITIK): Peringatan "Tragedi Sabtu Kelabu" pada 27 Juli 1999 membuat
sejumlah jenderal penggerak pembantaian 27 Juli 1996 mulai blingsatan. 

Puluhan ribu pendukung Megawati tumpah ruah di Senayan Selasa lalu (27/7)
membuat sejumlah pejabat dan mantan pejabat yang terlibat dalam pembantaian
warga PDI pada 27 Juli 1996 di kantor PDI Jl. Diponegoro Jakarta mulai
ketar-ketir. Sebab dalam acara itu selain untuk memperingati peristiwa
berdarah itu, PDI Perjuangan yang memperoleh suara terbanyak dalam Pemilu
1999 ini juga mengisyaratkan akan mengusut kembali pelaku-pelaku pembantaian.

Mantan Pangdam Jaya Letjen Purnawirawan Sutiyoso walaupun kepada pers
menyatakan siap mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya saat meletusnya
tragedi berdarah 27 Juli 1996 di Jakarta, namun ia sempat ketar-ketir juga.
Pada kesempatan itu ia mengajukan pembelaan diri dengan berkilah bahwa ia
saat itu telah berusaha meminimalisasi kerugian dan jatuhnya korban jiwa.
Saat itu Sutiyoso sempat mengeluarkan janji tidak akan melakukan penindakan
apa-apa asalkan massa PDI Mega tidak keluar kandang. Tetapi ternyata
kemudian Sutiyoso tidak menepati janji, bahkan bekerjasama dengan pihak
Depdagri, polisi, BIA dan Kodam Jaya. Mereka menggerakkan para pembunuh
profesional menghabiskan puluhan pendukung Megawati di Kantor DPP PDI Jl.
Diponegoro Jakarta.

Sutiyoso yang menjadi gubernur justru karena membiarkan terjadinya
pembantaian 27 Juli ini, kini sedang menunggu dengan hati berdebar-debar apa
yang akan terjadi dengan dirinya dan kawan-kawannya kalau Megawati sampai
berhasil menjadi presiden. Kalau dahulu Benny Moerdani dan Try Sutrisno
sempat khawatir akan digugat soal pembantaian Tanjung Priok tahun 1984,
kalau Prabowo sampai berkuasa, maka kini Sutiyoso, Syarwan Hamid, Feisal
Tanjung dan Yogi S. Memet yang perlu berdoa, kiranya Habibie tetap berkuasa. 

Walaupun jauh-jauh hari tokoh PDI Perjuangan, Sabam Sirait sudah menenangkan
Sutiyoso cs bahwa PDI Perjuangan tidak akan melakukan balas dendam. Namun
banyak orang yang sudah keburu blingsatan. Syarwan Hamid tak menutupi
kegusarannya ketika ditanya soal ini. Ia menyatakan sama sekali tak terlibat
dan tak bersalah. "Buka saja file-file saya," ujar Syarwan. Alasan utama
kebijakan seputar kasus tersebut bukanlah wewenangnya kepala staf. Bagi
mantan Kepala BIA Syamsir Siregar, sikap Syarwan ini membuatnya terkejut.
Peristiwa itu bidang Syarwan sebagai Kassospol. "Tanya saja ke dia," ujar
Syamsir yang disebut-sebut juga terlibat peristiwa tersebut.

Sementara itu, Feisal Tanjung menolak bicara, dan bekas pentolan PDI
Soerjadi bahkan mengaku sudah lupa persoalan tersebut. "Saya sudah lupakan,
sudah menjadi urusannya DPP, urusannya Budi Hardjono, biar dia yang
menghadapi," kata Soerjadi. Tak tertutup kemungkinan masih banyak lagi yang
tiba-tiba terserang amnesia pada hari-hari ini. Semoga saja Kubu Mega tak
ikut ketularan penyakit ingatan pendek, dan cukup puas dengan rencana
pendirian museum di bekas Gedung PDI tersebut. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke