Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 27/II/8-14 Agustus 99
------------------------------

BANK BALI DAN PERSEKONGKOLAN ELIT

(POLITIK): Skandal di Bank Bali bukan sekedar 'dosa' oknum. Konspirasi elit
sudah sering gunakan BPPN untuk selamatkan usaha para kroni Cendana.

Cerita tentang kolusi tak pernah habis di Indonesia. Bank Bali, yang pernah
menjadi salah satu bank tersehat di masa krisis moneter, akhirnya tumbang
juga. Kesalahannya, sebagian memang karena gegabahnya manajemen yang
dipimpin Rudy Ramli. Namun, sebagian terbesarnya karena ada persekongkolan
elit untuk kepentingan orang-orang yang berada dan dekat dengan lingkaran
kekuasaan. 

Seperti telah banyak diungkap media massa, akhir Juli lalu, Bank Bali secara
resmi berubah statusnya menjadi bank take over di bawah kendali Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Hal ini terjadi karena sampai batas
waktu 22 Juli lalu, bank ini tak mampu memenuhi persyaratan rasio kecukupan
modal (Capital Adequacy Ratio, CAR) minimum sebesar 4%. Untuk memenuhi
persyaratan itu, Bank Bali harus mencari tambahan modal sebesar Rp4,3
triliun -lebih besar Rp1,5 triliun dari saat perhitungan pada April lalu
ketika masih berstatus bank rekapitalisasi. Ini yang gagal dipenuhi Rudy
Ramli, meskipun segala cara sudah ia coba. 

Sebetulnya, Bank Bali masih punya piutang sebesar Rp2,8 triliun yang
diberikan melalui pinjaman antar bank pada Bank Dagang Nasional Indonesia
(BDNI), Bank Bira dan Bank Umum Nasional (BUN). Hanya saja, piutang tersebut
tak dapat ditagih karena bank-bank tadi tak sanggup mengembalikannya, alias
macet. Pada saat itulah datang tawaran dari beberapa orang yang dianggapnya
punya pengaruh politik pada BPPN. Mereka adalah Setya Novanto, wakil
bendahara DPP Partai Golkar, M Marimen, salah seorang fungsionaris Partai
Golkar yang dekat dan dihubung-hubungkan dengan pengusaha real-estat
Enggartiarso Lukito, serta Djoko Chandra, 'bos' Hotel Mulia. 

Datangnya tawaran itu tentu bukan tanpa imbalan. Dan harga yang mereka patok
bukan main-main, Rp550 miliar. Angka yang sangat fantastis. Namun, tak ada
pilihan lain bagi Rudy Ramli. Sebab, sudah berkali-kali ia melobi BPPN tapi
tak pernah ada hasil. Lebih baik dapat sedikit, dari pada tidak sama sekali,
mungkin begitu pikirnya. 

Pengaruh para 'calo' tadi ternyata cukup ampuh. Mereka bekerja sama dengan
Pande Lubis, deputy chairman BPPN bidang Risk Management and Bank
Liabilities untuk menjadi penghubung sekaligus penentu yang akan menggolkan
pencairan piutang Bank Bali. Setelah beberapa waktu ditunggu, ternyata yang
berhasil dicairkan hanya sebesar Rp904 miliar, yaitu piutang ke BDNI. Uang
tersebut ditransfer ke Bank Bali pada tanggal 2 Juni lalu. Karena Rudy telah
terlanjur mengiyakan fee para 'calo', mau tak mau ia mesti membayar Rp550
miliar yang ditransfer keesokan harinya ke rekening perusahaan Setya
Novanto, PT Era Giat Prima. Diketahui, Rp125 miliar ditransfer melalui Bank
BNI, selebihnya melalui bank lain. Belakangan diketahui, Bank Bali tak
menerima sepeserpun dari Rp904 miliar yang dicairkan dari BPPN. Selesailah
kisah kepemilikan Bank Bali oleh keluarga Ramli. 

Yang dipersoalkan orang kemudian, adalah fee yang diterima para 'calo' tadi.
Bukan saja karena nilainya yang begitu besar. Lebih dari itu, karena menurut
pengamat hukum Perbankan, Prajoto, yang 'membocorkan' kasus ini ke publik,
dana tersebut digunakan untuk membiayai kampanye Partai Golkar dan Tim
Sukses pencalonan BJ Habibie sebagai presiden periode mendatang. 

Anehnya, penyebab kasus ini seolah-olah terlokalisir pada oknum-oknum
tertentu. Padahal, bila melihat posisi penting aktor-aktornya, baik yang
menawarkan jasa maupun yang menerimanya (Golkar) tak mungkin begitu saja
melepaskan keterkaitannya dengan 'dosa' lembaga. Di situ ada deputy chairman
BPPN. Ada pula wakil bendahara DPP Partai Golkar yang dikaitkan dengan "Tim
Sukses" Habibie. Pertanyaannya, apakah BPPN dan Golkar, sebagai lembaga
benar-benar bersih? 

Kenyataannya, selama ini BPPN terlalu mudah diajak berkonspirasi oleh
orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, termasuk para elit di Golkar.
Karena itu, banyak pihak percaya kasus yang dialami Bank Bali kemungkinan
besar cuma contoh dari sekian banyak kasus yang sebetulnya sudah sering
terjadi. Apakah hal ini benar, memang masih perlu bukti dan pengujian lebih
lanjut. Namun, peluang melakukan itu terbuka lebar, terutama bila melihat
BPPN selama ini. 

Sebagai sebuah lembaga yang mengkontrol aset bernilai lebih dari Rp600
triliun, BPPN adalah lembaga terkaya dan terkuat di negeri ini. Apalagi,
badan ini mempunyai kewenangan untuk mengambil alih dan menjual aset bank
serta mengganti manajemennya tanpa khawatir bakal dituntut secara hukum.
Tapi, justru lantaran besarnya kekuasaan BPPN, dengan mudah itu bisa
disalahgunakan. 

Buktinya, sekitar Rp96 triliun aset industri BPPN di 215 perusahaan, hampir
semuanya disuntikkan untuk menyelamatkan berbagai perusahaan bermasalah
milik orang-orang dekat Soeharto, seperti Liem Sioe Liong dan Bob Hasan.
Para pemilik lama ini, meskipun diminta untuk menjual sebagian sahamnya
tetap bisa mengendalikan perusahaan-perusahaannya. Sebaliknya, Bank Bali
yang kinerjanya dikenal bagus justru dibiarkan terpuruk dan dialihkan
kepemilikannya ke pihak lain, Standard Chartered Bank. Tadinya, berdasarkan
due diligence awal, CAR Bank Bali hanya minus 8,2%. Belakangan, bengkak jadi
minus 32%. Kewajiban Rudy Ramli untuk menyuntikan modal segar membengkak
Rp1,5 triliun menjadi Rp4,3 triliun. 

Dengan proses yang tidak terkontrol dan transparan seperti ini, amat mudah
terjadi persekongkolan. Bahkan menurut The Economist, terbuka kemungkinan
para kroni Soeharto membeli kembali aset-asetnya yang disita BPPN justru
dengan harga sangat murah. Caranya, bisa dengan menggunakan tangan
perusahaan mereka yang didirikan di luar negeri, yang berpura-pura masuk ke
Indonesia sebagai investor asing. Itu artinya, sejumlah besar uang negara
kembali dinikmati para penyebab kanker ekonomi negara ini. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke