Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 27/II/8-14 Agustus 99 ------------------------------ TNI 'KEJEBLOS' DI ACEH (POLITIK): Bermaksud menghabisi GAM, TNI malah serbu penduduk sipil. Karena tak bisa berdiplomasi, citra mereka kian memburuk. Terlepas dari hiruk-pikuk sengsara pengungsi dan serangkaian pembunuhan di Aceh, apa yang terjadi di tanah rencong saat ini menggambarkan betapa seru dan kejinya benturan antara gerilya dan kontra gerilya. AGAM (Angkatan Gerakan Aceh Merdeka) dalam jumlah pasukan yang kecil tapi terlatih dan sangat menguasai medan, bertempur mati-matian melawan pasukan-pasukan khusus TNI (Kopassus dan Marinir) yang relatif besar dalam jumlah dan mahir menggunakan berbagai senjata serta didukung oleh logistik yang kuat. Kasus pembantaian Beutong Ateuh adalah salah satu puncaknya. Dari operasi intelijen TNI didapat informasi bahwa Teungku Bantaqiah (52) adalah pemasok logistik untuk GAM. Informasi itu diperkuat dengan tumbuh suburnya ladang ganja seluas sepuluh hektar di 'dekat' dusun Blang Meurandeh tempat Sang Teungku bermukim. 'Dekat' dalam arti ladang di tengah hutan itu bisa ditempuh dengan jalan kaki selama delapan jam. Diketahui pula, banyak anggota GAM yang bertandang ke tempat Sang Teungku, untuk mampir makan. Teungku Bantaqiah, yang mengaku pernah menolak tawaran bergabung dengan GAM, memang punya kenalan dengan para gerilyawan Aceh -saat ditahan di Tanjung Gusta Medan bersama pentolan GAM, Daud Ishak. Atas dasar info itulah, serangan pagi digelar menyerbu Beutong Ateuh. Bersama Bantaqiah, turut tewas empat eks tahanan politik GAM di tempat itu. Total korban tewas mencapai 31 orang, lainnya tewas dalam siksa. Penduduk menemukan 52 mayat dalam kondisi memilukan tergeletak di jurang, lainnya belum ditemukan. "Wiranto itu bodoh, ia tak tahu perang gerilya. Semua perwira tinggi TNI sekarang tidak pernah besar di hutan, mereka tentara sekolah." ujar Abu Said Anan, Ketuha (gubernur) GAM wilayah Passe. Anan menyesalkan TNI yang berani membunuh orang-orang tak berdosa sambil menantang Wiranto menemukan dirinya. Menurutnya, kemampuan tentaranya sebetulnya tak istimewa. Beberapa di antaranya memang pernah dilatih di Libya, Thailand, Malaysia, dan Swedia, tapi kebanyakan berasal dari penduduk biasa yang bahkan tak mampu baca-tulis. Perang gerilya yang dilancarkan AGAM sebenarnya tak lebih istimewa dari perang gerilya di Timor Timur. Mereka menyerang titik-titik terlemah dari TNI untuk merebut senjata dan logistik. Kemenangan-kemenangan kecil itu disebar-luaskan hingga mendemoralisasi pasukan TNI. Dan bila mereka membalas secara membabi-buta ke penduduk, maka sayap politik akan melakukan kampanye protes untuk menjatuhkan citra TNI. Seperti pada kasus Beutong Ateuh. Kekuatan utama dari pasukan gerilya, mengutip Che Guevara dalam buku Guerilla Warfare, terletak pada pemahamannya yang sangat detil terhadap situasi medan ditambah dukungan rakyat yang sangat kuat. Wiranto lantas mengirim Mayjen Sjafrie Syamsoedin untuk mengkomandoi operasi kontra gerilya di Aceh. Sjafrie, mantan Pangdam Jaya ini adalah salah satu lulusan terbaik West Point Military Academy bidang kontra intelijen dan gerilya. Di sana, buku wajib yang harus dipahami adalah buku-buku perang gerilya yang ditulis Che Guevara, AH Nasution, dan Mao Tse Tung. Selain lulus West Point, Sjafrie juga 'lulus' dari Timor Timur dengan penilaian sangat baik. Ia mengerti betul bagaimana menahan teror dengan anti teror, dan bahkan mendesain operasi kontra intelijen. Kasus Beutong Ateuh dan pembantaian di tempat lain, adalah aplikasi dari strategi anti gerilya. Pertama-tama penduduk diteror, dengan membantai orang yang dituduh membantu gerilyawan di depan umum. Diharapkan penduduk akan takut membantu gerilyawan sehingga mereka terdesak ke hutan. Nah, di hutan-hutan itulah mereka diisolasi lalu dibantai. Namun, rupanya TNI justru terperangkap dengan strateginya. Justru 'bocornya' penyerbuan ini malah mencoreng muka sendiri di mata dunia internasional. 'Keberhasilan' membantai Teungku Bantaqiah dan pengikutnya terekspos di media. Sehingga kesan TNI sebagai mesin pembunuh jadi makin kuat. Sementara gerilyawan GAM mampu menciptakan kesan manusiawi. Misalnya dengan menyilakan jurnalis Indonesia berfoto bersama dengan para pemimpin GAM seperti Abu Said Anan dan Panglima GAM wilayah Pidie Teungku Abdullah Syafi'i Di Matang. Politik diplomasi ke'dunia luar' mereka lebih berhasil. Sementara citra TNI yang tak pernah (tak bisa?) berdiplomasi dan membuka dialog, makin buruk. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
