Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 27/II/8-14 Agustus 99 ------------------------------ MILITER TERLIBAT RUSUH DI AMBON Oleh: Mernissi Rafly (OPINI): Masyarakat di sekitar Ambon masih diliputi kekhawatiran dan ketakutan setelah empat hari berturut-turut kota itu kembali diguncang kerusuhan. Entah sampai kapan kota yang dulu dikenal sebagai simbol kerukunan umat beragama ini, bisa kembali seperti dulu lagi. Kota yang manise, yang sangat menerapkan tradisi pela gendong yang merupakan warisan turun temurun nenek moyang mereka. Kerusuhan yang panjang sejak 19 Januari lalu memang masih menyisakan trauma dan dendam yang terus berkepajangan. Mengutip pernyataan salah seorang tokoh masyarakat disana, "ini takkan terlupa sampai tiga keturunan." Akibatnya, kerusuhan ini, pemisahan kelompok dan daerah berdasarkan agama semakin kental dan terasa. Ada terminal Islam, pasar Islam, jalan Islam. Begitu juga sebaliknya; pasar Kristen, terminal Kristen, jalan Kristen. Kerusuhan yang berlangsung sekitar tiga bulan lebih ini membuat masyarakat sekitar itu menjadi terkotak-kotak. Nah, mestinya pertengahan Juli kemarin tim Pusat Rujuk Sosial (PRS) mengadakan seminar tentang rekonsiliasi antar umat yang bertikai. Tentu saja targetnya adalah mengembalikan Ambon menjadi manise lagi. Tapi bukannya rekonsiliasi yang terjadi, malah sebaliknya, rusuh lagi. Awalnya kerusuhan yang terjadi tepat pada hari raya Idul Fitri ini dipicu oleh pertengkaran preman bernama Nursalim dan Yopi di terminal pasar Batu Merah. Tidak ada yang istimewa dari pertengkaran itu. Karena setiap tahun pertengkaran bahkan perkelahian antar preman sudah biasa terjadi. "Sudah tradisi," kata salah seorang warga Batu Merah ketika diminta tanggapannya mengenai hal itu. Namun yang bikin kaget semua orang adalah pada pertengkaran kali ini, terjadi pembakaran-pembakaran pasar Batu Merah dan Mardika yang cepat sekali bekerjanya. Orang tidak sempat berfikir untuk mencerna dan mengetahui siapa pelakunya. Tiba-tiba saja semua orang sudah siap dengan senjatanya. Isu pembakaran mesjid dan gereja berhembus dengan kencangnya. Sehingga berhasil memancing kemarahan massa dan dengan cepat kerusuhan pun meluas ke kota lainnya. Ada beberapa faktor penyebab kerusuhan ini cepat meluas dan lama sekali. Pada awalnya kerusuhan ini dikarenakan faktor keterlibatan pihak pusat. Sama dengan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di daerah lain semisal Kupang, Tasikmalaya, Situbondo dan daerah lainnya. Hal ini diakui oleh Pangdam XVI Pattimura, Max Tamaela, yang menyatakan ada keterlibatan militer dalam kerusuhan kemarin. Ia sebut sebagai provokator yang memakai orang-orang untuk membuat kerusuhan. Tapi ia mengakui susah sekali mengungkap siapa di balik provokator itu. Karena ia belum bertugas di Ambon. Tapi dalam hasil temuan investigasi Human Right Watch menyebutkan orang-orang yang disebutkan oleh pangdam tersebut adalah preman-preman yang sengaja dibayar dan membuat kerusuhan di Ambon. Ini yang mereka namakan Gangster Theory. Entah siapa dibelakangnya dan apa targetnya. Sulit untuk menembus dan mengungkapnya. Salah seorang tokoh agama pun mengakui hal itu. Bahkan ia sempat ditelpon oleh pihak intel berkaitan dengan peristiwa itu. Ia bercerita bahwa ia ditelpon dengan nomer Jakarta (7501976) tapi orang itu menelponnya di Ambon. Penulis pun sempat ditunjukkan markas para intel itu beroperasi yaitu di dekat mess para tentara. Ini semakin membuktikan bahwa di hari-hari awal kerusuhan itu, para tentaralah yang berperan. Persoalannya, kenapa dalam kerusuhan Ambon ini memakan waktu yang lama? Menurut seorang satgas MUI, hal ini dikarenakan faktor persoalan lokal ikut bermain. Misalnya kecemburuan pribumi terhadap para pendatang yang sukses. Makanya di awal-awal kerusuhan terjadi pengusiran besar-besaran terhadap para pendatang yang didominasi BBM (Buton-Bugis-Makassar) yang nota bene Islam. Pihak Islam di Ambon tidak terima dengan perlakuan ini, mereka kemudian membalasnya. Isu bergeser, yang tadinya hanya pendatang dan pribumi menjadi isu agama antara Islam dan Kristen. Politik lokal pun ikut bermain menjelang pemilu itu. Pribumi (Kristen) identik dengan PDIP sementara Islam dengan partai Islam. Antara kedua kubu ini terus-terusan melakukan pengrusakan. Sementara pihak elit agamanya pun disinyalir ikut terlibat dalam memberikan semangat perlawanan. Akhirnya yang terjadi adalah pertentangan terus-terusan tiada henti. Pertentangan dan perusakan banyak terjadi sehingga menimbulkan banyak korban. Korban-korban inilah yang memendam dendam yang suatu saat bisa meletup. Dan kemarin, letupan itu kembali mengegelegar menjadi kerusuhan kembali. Memang, butuh waktu lama untuk meredakan konflik di Ambon. (*) Penulis tinggal di Bandung --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
