Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 27/II/8-14 Agustus 99
------------------------------

M Syafiq  Allilha, Aktivis FAMRED dan FKGMNU:
"MAHASISWA TAK RELA HABIBIE PRESIDEN"

(DIALOG): Pemilu seolah merontokkan legitimasi rakyat atas mahasiswa. Dan
dalam kelompok mahasiswa sendiri seolah tak punya tenaga untuk bangkit.
Betulkah mahasiswa tidak punya greget lagi setelah pemilu? Masihkan ada
peluang-peluang mahasiswa bergerak? Berikut jawaban dari M Syafiq Allilha,
Aktivis FAMRED yang sekaligu aktifis Forum Komunikasi Generasi Muda NU (FKGMNU).

T: Apa sebab gerakan mahasiswa belakangan lesu darah?
J: Ada banyak faktor, antara lain, mahasiswa tergabung di banyak organ sejak
pemilu banyak  yang terdisorientasi dalam konteks gerakannya. Karena saat
pemilu banyak masyarakat berpartisipasi. Adapun bagi mahasiswa, Pemilu
dianggap sebagai salah satu jalan saja. Bahkan sejak awal mahasiswa skeptis
apakah pemilu dapat mengembalikan kedaulatan rakyat? Sebab pemilu dipakai
olah pemerintah Habibie untuk menunjukkan sudah melakukan demokratisasi,
padahal belum. Itu salah satu yang membuat mahasiswa bingung. Termasuk
munculnya sejumlah isu yang disetting oleh rezim. 

T: Adakah faktor lain?
J: Faktor lain adalah partisipasi dari mahasiswa sendiri yang belum begitu
besar seperti Mei 98. Tampaknya gerakan mahasiswa masih sulit merumuskan
kembali gerakannya, mungkin karena moment sejak Sidang Istimewa hingga
Pemilu yang dibawa ke politik parlementariat.

T: Apakah pemilu menyelesaikan agenda reforamsi total?
J: Saya pikir masih jauh, memang Sidang Istimewa merekomendasi pemilu tetapi
Pemilu yang macam apa ? Bagi mahasiswa pemilu tidak problem, memang salah
satu pintu merubah demokrasi lewat pemilu. Tentunya pemilu yang berdasarkan
kedaulatan rakyat, sementara pemilu yang hasil rekomendasi sidang Istimewa
(Nov, 98) tersebut adalah pemilu yang jauh dari prinsip demokrasi dan
kedaulatan rakyat. Seperti terlihat dari UU Pemilu yang jauh dari prinsip
demokrasi dengan 38 kursi gratis untuk militer, begitu pun kriteria kursi
untuk utusan golongan dan daerah yang tak jelas. Praktek demokrasi semu
seperti itu masih jauh dari reformasi total. Jadi Pemilu 99 merupakan
praktek demokrasi semu, itu menurut saya.

T: Setelah pemilu, lokomotif reformasi bergeser ke partai?
J: Di beberapa negara berkembang mungkin begitu. Setelah partisipasi,
masyarakat tersedot ke arah pemilu, lalu pertarungan politik menjadi begitu
formal kembali. Menjadi di parlemen, sedangkan di media itu jadi
konsekwensinya. Menurut saya hal itu boleh terjadi asal partai melakukan
fungsinya dengan baik. Tapi partai partai sekarang tidak melakukan fungsi
itu. Dalam konteks itu gerakan mahasiswa dalam fungsi gerakan ekstra
parlementer menjadi relevan untuk menjebol kemacetan politik yang terjadi.

T: Bentuk kemacetannya?
J: Yah seperti, kericuhan di KPU dan partai partai yang asyik manuver
sendiri, itu jelas indikasi.

T: Sesuai dengan harapan reformasi total?
J: Jelas tidak, karena mahasiswa berharap partai yang terbentuk dan di KPU
itu, seharusnya menyuarakan suara rakyat. Yang terjadi sebaliknya, partai
dan KPU sendiri mencerminkan interest kelompok dan pribadi masing masing.
Sangat mengecewakan.

T: Artinya ada penyelewengan dalam politik formal?
J: Jelas, dan hal ini ironis. Karena kita lihat partai partai belum masuk
parlemen saja sudah terlihat tak serius, bagaimana saat masuk parlemen.
Dengan bermacam iming-iming, sekian banyak tekanan dan dilema, karena ini
sebenarnya titik uji bagi partai-partai yang lolos dalam pemilu. Tapi
faktanya mereka tidak ada yang cukup serius mendesakkan demokratisasi.
Mengecewakan!

T: Contoh yang mengecewakan?
J: Mereka tidak bicara hal yang prinsipil, yaitu pembagian kekuasaan,
seperti konstitusi dasar UUD 45. Konstitusi itu membuka peluang terjadinya
kekuasaan presiden yang otoriter dan tidak bisa dikontrol oleh kekuasaan
legislatif apalagi yudikatif. Seperti MA dipilih oleh presiden dan DPR tidak
bisa mengontrol eksekutif. Hal-hal seperti itu tidak pernah disuarakan oleh
partai. Hal lainnya adalah partai-partai sudah merasa enjoy duduk di
parlemen padahal di sana masih ada tentara yang sudah menang, dapat kursi
meski tanpa ikut pemilu. Mereka telah menerima posisi tentara. Begitupun
aturan dalam UU Politik, yang menyebutkan partai harus bersumpah menjaga UUD
45 dan pancasila, ini artinya sudah menutup kritik dan upaya amandemen UUD
45. Hal ini menutup kemungkinan demokratisasi, partai-partai itu diam saja.
Jadi, sejak awal UU politik itu disusun hingga pensahan hasil pemilu, tidak
ada suara dan upaya partai mendorong proses demokratisasi.

T: Apa sebabnya?
J: Saya kira partai partai di Indonesia pada dasarnya memang belum matang
dan belum siap untuk berdemokrasi. Semua partai tampaknya lebih bermotivasi
menaikkan kelompoknnya masing masing. Jadi bohong kedaulatan rakyat yang
utama. Mereka lebih mementingkan kekuasaan.

T: Melihat perkembangan itu apa yang sebaiknya dilakukan?
J: Mahasiswa harus tetap memilih jalur ekstra parlementer, dan jangan hanya
percaya dan mengandalkan model demokrasi parlementarian saja. Karena kita
sudah 35 tahun ditipu parlementarisme. Walau PDI P, PKB menang, kita tidak
bisa terhipnotis dengan kemenangan itu. Hal tersebut karena selama ini
mereka  juga belum secara konsisten menunjukkan anti status quo. Terlalu
kompromis. 

Dalam kondisi partai-partai seperti itu, gerakan mahasiswa sangat relevan
untuk menjaga tensi perlawanan lewat gerakan resistensi ekstra parlementer.
Dan saatnya rakyat terlibat. Agar tidak selalu ditipu oleh partai.

T: Apakah tensi gerakan mahasiswa akan naik kembali?
J: Ya. Selama ini kami di Jakarta memang tetap saling kontak. Famred,
Forkot, Front Jak, Kamtri, FKSMJ tetap rutin konsolidasi. Gerakan mahasiswa
akan naik karena melihat potensi rezim orde baru ini akan kembali lagi
dengan segala upaya. Dan itu jelas membuat mahasiswa kembali bergerak. Jadi
saat Habibie, tentara dan sisa rezim Orde Baru ini main di pentas politik
nasional itu akan membuat naiknya kembali gerakan mahasiswa. Apalagi saat
Sidang Umum. Jika Habibie sampai naik, maka mahasiswa tidak akan merelakan,
itu karena sudah terbukti tidak aspiratif dengan kepentingan reformasi dan
upaya demokratisasi. Habibie rezim kleptokrasi yang dibangun pemerintahan
para maling itu. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke