Precedence: bulk JURNAL PENENTUAN PENDAPAT RAKYAT TIMOR TIMUR 04-06 Agustus 1999 Diterbitkan oleh KOMITE UNTUK JAJAK PENDAPAT YANG BEBAS DAN JUJUR Yayasan HAK Jln. Gov. Serpa Rosa No. T-095 Dili Telp. 0390-313323 Fax. 0390-313324 ----------------------------------------------------------- Kasus LAGI, BENCANA DI LIQUICA Kabupaten Liquica seperti tak pernah sepi dari bencana. Kali ini terjadi di Kampung Lebulua Desa Ulumerah di Kec. Bazartete. Korbannya Fernanda (24 tahun) dan Paulino Gonsalves (28 tahun). Mereka baru saja disahkan sebagai suami-istri dalam sekramen perkawinan pada 22 Juli di Kapela Ulumerah. Setelah keluar dari Kapela kedua korban bersama tiga pasangan lainnya menjamu makan para sahabat dan saudaranya secara bergantian. Mereka juga menyelenggarakan pesta di rumah. Para tetamu dijamu makan dan minum tuak. Lalu mereka berdansa. Dalam acara tersebut hadir pula anggota milisi Besi Merah Putih (BMP) wilayah Ulumerah, pimpinan Faustino yang juga kepala desa di sana. Para milisi itu sudah tentu bermain judi sambil minum tuak dengan bebas. Meskipun hadir di pesta mereka tak lupa menyandang senjata tradisional rakitan. Acara yang berlangsung sampai tengah malam itu berjalan lancar-lancar saja. Tapi ketika Paulino yang sedang menidurkan anaknya ia mendengar bunyi empat kali tembakan dari rumah Januari Gonsalves, yang juga baru saja menerima sakramen perkawinan. Suara letusan senjata itu tentu saja membuat penduduk panik. Tanpa dikomando mereka segera berhamburan ke luar rumah, bahkan ada yang melarikan diri sampai ke hutan dan ke wilayah Railaco di Kab. Ermera. Lain lagi yang dilakukan para milisi itu. Sebagian dari mereka yang tengah berjudi di rumah Januario Gonsalves segera pindah ke rumah Paulino dan Fernanda. Tidak lama kemudian ada laporan bahwa salah seorang anggota milisi bernama Joao (30 tahun) dikejar oleh sesama milisi . Beberapa anggota masyarakat kemudian mencari Joao, sedangkan anggota milisi yang lain dan punya hubungan keluarga dengan Joao datang ke rumah Paulino dan Fernanda dan mengancam mereka. Sebagaimana lazimnya Falintil lah yang jadi kambing hitam. "Ini pasti gara-gara kalian mengundang Falintil. Kalau ketahuan Joao terbunuh maka kalian akan kami bunuh," bentak salah seorang milisi itu. Ternyata Joao memang terbunuh. Ia dikabarkan meninggal sekitar pukul 02.00 dini hari. Sejumlah milisi itu langsung saja menuduh Falintil yang membunuh Joao. Mendengar berita Joao terbunuh, Fernanda segera bergegas keluar rumah sambil menggendong kedua anaknya, sementara Paulino menunggu keluarganya yang juga akan meninggalkan rumah akibat mendengar ancaman akan mereka akan dibunuh. Fernanda lari menyusuri kebun kopi menuju ke wilayah Railaco. Malamnya tidur di hutan sampai pagi. Lalu ia segera bergegas menumpang angkutan umum menuju Gleno. Dari sana Fernanda menyewa mikrolet ke Dili. Ternyata pelarian Fernanda tak mulus. Di daerah sekitar Railaco ia ditahan oleh orang tua Joao, namun sopir tak mau menghentikan kendaraannya. Kelurga Fernanda tentu saja panik. Salah seorang keluarganya kemudian berhasil menemui Fernanda di suatu tempat. Ia membawa berita, setelah kejadian malam itu semua penduduk di Kampung Lebalua telah meninggalkan rumah, ada yang bersembunyi di hutan dan ada pula yang bersembunyi di Railaco. Sampai sekarang, Paulino Gonsalves tak diketahui nasibnya. Ia tak menampakkan batang hidungnya setelah menghadiri pemakaman Joao. Tak ada yang tahu ke mana perginya Paulino. Tapi ada informasi usai pemakaman Joao akan ada "operasi sisir" di kampung Lebalua Desa Ulumerah. *** SAKA MENGANCAM DI BAGUIA Pada 19 Juli 1999 salah seorang anggota milisi Saka di Desa Alawa Bawah di Kec. Baguia, Kab. Baucau mengancam para pemuda pro-kemerdekaan dengan senjata laras panjang. Para pemuda itu dimaki-maki dengan kata-kata, "Muka-muka seperti kalian ini yang mau merdeka sendiri". Bahkan, salah seorang milisi mengancam akan menembak kaki salah seorang pemuda yang berusia sekitar 28 tahun. Menjelang dan selama proses pendaftaran, kelompok pro-otonomi yang didukung oleh TNI dan beberapa anggota Tim Saka memang gencar menyebar teror terhadap penduduk di Kec. Baguia dan Kec. Quelicai, terutama di desa-desa terpencil agar mereka memilih otonomi. Bagi warga yang menolak akan ditembak, disiksa dan dihilangkan secara paksa. Di Kab. Baucau telah dibentuk Tim Sukses Otonomi yang terdiri dari 5 orang. Mereka yang mendukung program sosialisasi otonomi adalah Dandim (Komandan Kodim), Kasdim (Kepala staf Kodim), Pemda, dan Koramil. Semua orang Timor Timur yang mengabdi kepada Pemerintah Indonesia agar mengajak keluarganya untuk memilih otonomi dan selama memasyarakatkan otonomi itu mereka memutarbalikkan informasi dengan memberitahukan kepada masyarakat, bahwa akan diadakan sosialisasi perdamaian. Selama melakukan kegiatan itu mereka selalu mengancam, "Jika otonomi ditolak, maka kita akan kembali pada sitausi tahun 1975", sedangkan di Kec. Quelicai, Komandan Kompi pun selalu menteror dengan kata-kata, "Hanya Tuhan yang bisa menurunkan merah-putih, bukan orang Timor Timur." Lain pula yang terjadi di Laisorulai. Seorang anggota Tim Saka yang berpangkat Prajurit Kepala (Praka) selalu mengucapkan kata-kata, "Jika otonomi ditolak naja darah akan mengalir" seperti yang diproklamasikan oleh Fransiscus Lopes da Cruz, mantan Duta Besar Keliling untuk Timor Timur itu. *** ALEXANDRO DIKEROYOK DI MERCADO LAMA Sekitar pukul 08.30 terjadi penangkapan sewenang-wenang oleh Milisi Aitarak terhadap Alexandro Soares Martins, di Mercado Lama Dili. Setelah menangkap, Alexandro dibawa ke Mercado Lama untuk dikeroyok, dipukul, dan dicaci maki di bawah todongan senjata tajam dan pistol. Pada tanggal 22 Juli itu Alexandro juga diancam akan dibunuh oleh milisi pimpinan Eurico Guterres itu. Sebelum dibebaskan, Alexandro diancam agar tidak melaporkan penyiksaan tersebut pada CNRT, UNAMET maupun pihak lainnya. *** DANDIM AILEU: CARI 10 PENDUKUNG OTONOMI! Bukan hal yang baru jika sosialisai otonomi dilakukan oleh tentara. Di Kec. Remexio, Kab. Aileu Komandan Kodim 1632 memerintahkan pada bawahannya agar pada jajak pendapat mereka memilih otonomi. Sang komandan memerintahkan anak buahnya, agar setiap anggota mendaftarkan 10 orang pendukung otonomi. Setiap anggota Babinsa mendapat jatah dua sak beras untuk konsumsi kelompok milisi AHI dan Pam Swakarsa yang ada di pos penjagaan di desa-desa yang ada di Kecamatan Remexio. Di Kab. Aileu malah beredar informasi. Katanya, berdasarkan Kesepatakan 5 Mei pihak ABRI yang menjadi penanggung-jawab keamanan di Aileu. "Mereka adalah aparat yang netral sebagai penjaga keamanan di sini." Karena itu, Dandim 1632 menempatkan anggota Kodim 1632 sebagai intel, antara lain, Adriano Lopes, Eduardo dan Julio. Mereka ditugaskan meneror dan mengintimidasi penduduk sipil guna menghambat pendaftaran yang dilakukan oleh UNAMET. Buktinya, pada 14Juli mereka mendatangi Desa Tulatagueu dan Faturasa. Mereka bertamu ke rumah seorang kepala sekolah di Desa Faturasa. Niat jahat pada kepala sekolah itu batal gara-gara di antara mereka masih ada hubungan darah. Tentara itu hanya menunjukkan sebuah surat perintah dan pistol yang mereka bawa. Meskipun ada teror dan intimidasi, kata sebuah sumber, masyarakat di Kab Aileu tetap antusias mendatangi pos-pos pendaftaran. *** KOMANDAN UPACARA BERULAH Dalam apel pagi di Korem 146 Dili, 29 Juli lalu, komandan upacara memerintahkan pada seluruh anggota ABRI asal Timor-Timur yang telah mendaftarkan untuk megikuti jajak pendapat supaya memberikan foto kopi kartu pendaftaran atau nomor pendaftaran yang diberikan UNAMET kepada Korem. Alasannya agar pihak Korem dapat mengetahui apakah anggotanya sudah mendaftar atau belum. Semua anggota ABRI yang telah mendaftar diwajibkan supaya menyerahkan satu lembar copy tanda bukti pendaftran ke Korem. Mereka yang tidak menyerahkannya, diancam akan diproses atau dikenakan sanksi. Menurut sumber tersebut, sesuai aturan yang ada, seharusnya dokumen itu tidak boleh diserahkan kepada siapa pun juga, termasuk kepada aparat desa maupun aparat militer. Lalu mengapa Pihak Korem melakukannya? Akibatnya, instrukti itu menyebabkan seluruh jajaran anggota ABRI asal Timor Timur saat ini dihantui kekhawatiran adanya ancaman terhadap keselamatan mereka. Hingga laporan ini diturunkan belum diperoleh informasi lengkap mengenai maksud sesungguhnya dari rencana itu. *** BURUH BERSANTAI DIHAJAR MILISI Bersantai sambil ngobrol bersama rekan sekerja menjadi kebiasaan para buruh Pelabuhan Dili. Tapi nasib sial menimpa PB (31), MR (27) dan CT (45) pada 12 Juli lalu sekitar pukul 02.30 dini hari. Ketika mereka tengah beristirahat, tiga laki-laki yang tinggal di kawasan Dili itu dipukul oleh tiga anggota milisi, yang diduga Milisi Aitarak asal Pos 8. Salah seorang saksi menceritakan duduk masalahnya. Saat itu ada sekitar tujuh buruh yang tengah duduk di jalan raya di depan kompleks Pelabuhan Dili, tepatnya di bundaran depan pintu gerbang pelabuhan. Tanpa diduga datang tiga lelaki berbadan tegap berpakaian preman. Salah seorang di antaranya membawa satu pucuk senjata otomatis dan handy talky (HT). Mereka datang dengan mengendarai satu sepeda motor. Ketiga orang langsung saja berhenti di depan PB, MR dan CR. Tiga lelaki itu bukannya menyapa tapi langsung saja menendang jatuh dua buah sepeda milik para buruh yang sedang diparkir di salah satu sudut jalan raya, dekat para buruh yang tengah santai itu. Salah seorang pelaku itu bertanya, "Sepeda siapa yang jatuh itu?" Melihat gelagat yang tidak baik, PB dan MR segera menghindar dan berlindung di Pos Polisi yang ada di pelabuhan. PB dan MR mencoba mencari perlindungan pada polisi yang tengah bertugas. Armando Bianco nama polisi itu. Ia berpangkat merah lurus tiga tampak menjinjing senjata. PB dan MR langsung saja berlindung di belakang Armando. Namun tanpa diduga, ketiga orang pelaku itu segera menyusul PB dan MR ke pos polisi. Mereka menghardik dan bertanya, siapa pemilik dua sepeda itu. MR menjawab, salah satunya milik dia. MR disuruh mengambil sepedanya. Baru saja MR beranjak ternyata salah seorang dari milisi yang membawa senjata itu langsung menyerang dan memukul PB yang berdiri di belakang Armando Bianco. PB langsung dipukul dengan popor senjata otomatis, lalu ditampar, ditendang dan dicaci maki. "Lain kali jangan minta perlindungan pada polisi. Berlindung saja pada UNAMET." Ia dihajar milisi itu sekitar 15 menit dan Armando tak bisa berbuat apa-apa. Karena terlalu heboh memukuli PB, milisi itu kehilangan keseimbangan sehingga senjatanya jatuh. PB langsung saja melarikan diri dan meninggalkan teman-temannya. Ternyata, MR dan CT pun dihajar oleh tiga milisi itu. Nasib CT lebih malang. Akibat pukulan yang tak seimbang dari milisi itu wajahnya memar sedangkan tangan dan beberapa bagian di dada dan perutnya bengkak. Akibat pukulan popor senjata, wajah dan bahu kanan PB memar dan bengkak. Tindakan semena-mena dari para milisi itu sudah dilaporkan ke pimpin pelabuhan dan Komandan Polisi Pelabuhan. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
