Precedence: bulk Direito No. 03/27 Juli 1999 SKENARIO PENYERANGAM KANTOR UNAMET DI MALIANA Sejak aktifnya milisi di Timor Timur, Maliana merupakan salah satu kabupaten yang selalu panas. Hampir setiap hari diterima laporan tentang tindak kekerasan milisi di wilayah itu, tidak jarang menyebabkan korban jiwa. Banyak penduduk dilaporkan tewas, namun hingga kini tak diketahui di mana kuburannya. Di wilayah ini, pemimpin sipil maupun militer Indonesia juga lebih terang-terangan terlibat dalam aksi-aksi itu. Sejumlah komandan dan anggota TNI juga dilaporkan terlibat secara langsung dalam sejumlah pembunuhan terhadap warga sipil. Aksi-aksi ini ternyata tidak pandang bulu. Tanggal 29 Juli lalu, Kantor Regional UNAMET di Maliana diserang. Serangan itu berawal dari laporan Mateus, seorang anggota Milisi Dadurus Merah Putih. Mateus melaporkan pada Sersan Frederico, anggota KODIM Maliana yang bertugas sebagai intel di bawah komando Kasi Intel KODIM, Lettu Sutrisno. Mateus melaporkan ada seorang warga pro-kemerdekaan yang menyampaikan pada masyarakat, bahwa siapa pun yang terbukti anggota Dadurus Merah Putih tidak diperbolehkan berada di halaman Kantor UNAMET. Laporan itu ditanggapi serius oleh Sersan Frederico. Ia memobilisasi warga dan sejumlah anggota Dadurus Merah Putih, terutama para pemuda, dari Desa Odomau dan Desa Holsa yang terletak di Maliana Kota. Warga dari kedua desa itu kemudian dikumpulkan di depan Mess Pemda Maliana yang berjarak sekitar 30 meter dari Kantor UNAMET. Frederico kemudian memerintahkan warga yang berkumpul tadi untuk mengenakan ikat kepala berwarna merah-putih dan memerintahkan mereka menuju lapangan didepan Kantor Polres Maliana. Di situlah warga disuruh meneriakkan yel-yel: "Viva Otonomi, Viva Integrasi, Viva Merah Putih, Viva Joao Tavares". Joao Tavares adalah panglima pro-integrasi. Yel-yel tersebut disambut oleh sejumlah pemuda pro kemerdekaan yang berada di Kantor UNAMET untuk melaporkan kasus-kasus pelanggaran HAM di wilayah itu. Para pemuda pro kemerdekaan tersebut membalas yel-yel para milisi dengan pekikan "Viva Xanana" dan menggelar spanduk. Balasan para pemuda pro kemerdekaan itu kemudian dijadikan alasan oleh para milisi untuk menyerbu kantor UNAMET. Lettu Sutrisno, Kasi Intel KODIM Maliana, Sersan Frederico serta Juli�o yang sejak tadi telah berada di antara para milisi, memerintah para anggota milisi DMP untuk menyerbu kantor UNAMET. Mereka menghujani kantor UNAMET dengan batu. Kaca-kaca jendela pecah berantakan dan pagar rumah pun roboh. Penyerangan itu dilakukan dari dua arah. Sekelompok anggota milisi menyerang dari arah depan Kantor. Kelompok lainnya menyerang dari samping, dari arah tempat pembakaran roti milik Monis. Polisi dan Brimob yang saat itu berada di sekitar lokasi tampak diam saja. Di antara para penyerang itu terdapat sejumlah anggora KODIM, antara lain Serma Azis Fontes, Praka Romeo, Sersan Moizes, Sersan Manuel Lopes. Sejak UNAMET hadir di Maliana, sejumlah anggota Kodim yang berpakaian preman dan Dadurus Merah Putih mulai memantau setiap warga yang berkomunikasi dengan staf UNAMET. Daniel (bukan nama sebenarnya), yang menyaksikan peristiwa itu menuturkan kesaksiannya kepada Direito. Saya melihat Domingus dan Paulus, intel dan anggota DMP yang mencatat siapa saja yang datang ke kantor UNAMET pagi itu. Sambil mencatat mereka mengatakan, "Selama masih ada PBB kalian tidak apa-apa, tapi kalau mereka pergi kalian akan diculik." Mendengar ancaman itu, saya langsung melaporkan pada staf UNAMET. Setelah itu, ulang ke rumah. Namun, sekitar pukul 18.00, anggota DMP dan Kodim Maliana menyerang Desa Holsa sambil berteriak, "Kalau berani lawan kami." Saat itu, hanya perempuan dan anak-anak yang berada di rumah. Saat itu saya dan sejumlah warga tengah berkeliling desa. Di tengah jalan kami berpapasan dengan Joao Koli, anggota Kodim. Ia berteriak, "Kalau berani melawan kami, seluruh warga desa ini akan kami bantai." Joao Koli segera menuju ke Pos DMP, yang berjarak 30 meter dari arah kami. Di pos ia marah-marah, "Jika ada kejadian selalu nama saya disebut-sebut?" Ia marah sambil menendang-nendang kursi. Ia mengayunkan pedangnya ke segala arah. Sabetan surik itu hampir mengenai Manuel dan Oscar. Karena mereka lari, Joao mengejar. Warga yang lain pun segera bersembunyi di belakang Kantor Koramil. Karena Joao tak menemukan Manuel di rumah, maka ia merusak seluruh isi rumah Manuel. Tahu Joao mengamuk kami segera memukul kentongan. Warga segera berhamburan ke luar rumah berusaha mengejar Joao lalu mengobrak-abrik rumah Joao. Warga pun segera menyelamatkan diri ketika mendengar bunyi tembakan. Belum sempat kami beranjak menuju kantor UNAMET datang Domingus, komandan DMP dan anggota Kodim. Ia mengajak kami berdamai. Merasa tak bersalah, salah serorang dari kami mengatakan, "Masalah ini akan kami sampaikan ke UNAMET saja." Keesokan harinya, 29 Juni 1999 kami mengadukan kejadian itu ke Kantor UNAMET. Ternyata, dari arah Koramil kami melihat anggota DMP berdatangan ke lapangan. Kepala mereka berikatkan kain merah putih dan meneriakkan: "Hidup Integrasi, Hidup Merah Putih, Hidup Otonomi". Ketika mendekati kantor UNAMET, salah seorang dari kami melihat Kasintel Kodim, Sutrisno. Mereka melempari batu sedangkan Brimob yang berjaga-jaga melarikan diri. Pada saat itu pula pemuda pro-kemerdekaan di dalam kantor menggelar spanduk dan meneriakkan: "Viva Xanana". Warga segera menyingkir ke belakang kantor. Rupanya, di kiri dan kanan telah dijaga oleh polisi tapi mereka membiarkan saja milisi beraksi. Melihat staf UNAMET melompat pagar, Jamaludin tentara Kodim berteriak, "Kalau takut kenapa datang ke Timor Timur?". Setelah aman, saya keluar dari tempatnya persembunyian. Saya mendengar kabar, sorenya milisi akan kembali menyerang warga Desa Holsa. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
