Precedence: bulk
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99
------------------------------
SKENARIO HILANGKAN JEJAK
(POLITIK): Selain punya tim pemeras dijalur birokrasi, Tim Sukses Habibie
juga punya kelompok demonstran yang siap diorder untuk menekan dari jalanan.
Hari Rabu lalu (11/8), serombongan pemuda mendemo kantor Kejaksaan Agung RI
di kawasan Blok M Jakarta. Mereka adalah aktivis Yayasan Himpunan Masyarakat
untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika). Mereka menuntut Setya Novanto dan
Joko Tjandra diadili berkaitan dengan kasus Bank Bali.
Demonya sendiri sebenarnya tidaklah istimewa, menuntut sebuah kasus yang
sudah yang sudah transpaaran dan di-blow up besar oleh media massa. Tapi
yang menjadi sedikit ganjil adalah munculnya organ Humanika yang mengelola
demonstrasi tersebut. Sebab, Humanika selama ini dikenal sebagai sebuah
organisasi (LSM) yang dekat dengan kekuasaan Habibie. Yayasan ini didirikan
oleh Bursah Zarnubi, mantan aktivis HMI yang sekarang menjadi salah satu
operator sebuah Tim siluman yang dibentuk oleh Hariman Siregar dan Fanny
Habibie untuk menyokong calon presiden, BJ Habibie.
Bersama Hariman, Bursah membangun organisasi pemuda sebagai tandingan Komite
Nasional Pemuda Indonesia yakni Gerakan Pemuda Reformasi Indonesia (GPRI).
Organisasi ini diketuai Bursah Zarnubi sendiri dan menurut majalah Panji
Masyarakat akan digunakan sebagi penyokong Capres Habibie. Sebelum
terbentuknya GPRI, Bursah bersama A. Baskara sekjen GMNI pernah membentuk
Angkatan Muda Reformasi Indonesia (AMRI) sebagai salah satu organisasi
tandingan KNPI. Penggodokan AMRI di lobi Hotel Cemara tersebut sudah
berlangsung beberapa kali. Namun setelah Baskara mengetahui organisasi itu
sebagai penyokong Habibie, maka ia membatalkan niatnya. Ketika marak
dukungan untuk Habibie di Sidang Istimewa, Bursah konon ikut aktif memboyong
massa untuk dijadikan PAM Swakarsa di Jakarta.
Sementara itu argumentasi lain terhadap kecurigaan terhadap peranan Bursah
sebagai operator Hariman-Fanny ini dikait-kaitkan dengan sejumlah
demonstrasi yang pernah mereka lakukan, misalnya saat mempersoalkan KKN di
Perbankan Nasional dan dana BLBI pada saat konsentrasi massa terarah pada
Sidang Istimewa MPR.
Dan belakangan, bergandeng dengan Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
(PPMI), organisasi yang dikomandani Eggy Sujana mengorganisir pekerja bank
untuk mengintimidasi para pemilik bank.
"Skenarionya, mereka diorder untuk demonstrasi supaya pemilik bank takut
sehingga butuh perlindungan. Dan ketika itulah, Tim Hariman menyodok dari
belakang, memerasnya," kata sumber Xpos.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh Humanika
yang meminta Setya Novanto dan Joko Tjandra diadili -entah disadari atau
tidak oleh para aktivisnya- memang di-setting oleh timnya Habibie untuk
mengalihkan fokus perhatian orang terhadap Bank Bali. "Supaya orang
melupakan bahwa sebenarnya kasus Bank Bali adalah kerjaannya Tim Sukses
Habibie," kata sumber itu.
Dan memang, bersamaan dengan kemunculan demonstrasi Humanika itu, hampir
serempak media massa mengorbankan Setya Novanto, Joko Tjandra dan Pande
Lubis sebagai tumbal kasus itu. Berbagai bukti semua dilokalisir menjadi
kesalahan ketiga orang itu.
Dan ternyata, Fanny Habibie kepada majalah Gatra (Mei/99) mengakui
persahabatannya dia dengan Bursah dan Nuku. Jadi tidak salah dong kecurigaan
itu. (*)
---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html