Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99
------------------------------

SI PENGGAGAS TIM SILUMAN

(POLITIK): Hariman Siregar disebut-sebut menjadi salah seorang aktor kuat
dalam tim pendongkrak Habibie. Balas jasa, atau sekedar cari penghidupan?

Di tahun-tahun akhir delapan puluhan atau sembilan puluhan awal, Hariman
Siregar adalah salah seorang sosok yang dekat dengan sekelompok gerakan
mahasiswa. Ia adalah salah satu dari sekian puluh orang yang mau memberikan
"sumbangan" kepada gerakan mahasiswa. Pendek kata, pada tahun-tahun itu,
Hariman merupakan pelanggan tetap "todongan" para aktifis. Ia dianggap
sebagai bagian dari barisan pro demokrasi.

Kedekatan kalangan aktivis mahasiswa tersebut lebih dikarenakan oleh Hariman
yang ditempatkan sebagai tokoh yang berperan dalam gerakan Malari 1974. Pria
kelahiran 1 Mei 1950 ini pernah di penjara karena aktifitasnya dalam
peristiwa penolakan modal asing tersebut. Sebagai Dewan Mahasiswa UI, waktu
itu ia memang cukup berperan.

Namun sejumlah sumber menyebutkan, bahwa sebenarnya ketokohan Hariman dalam
peristiwa Malari 1974 tidaklah seheroik cerita-cerita yang dibangun oleh
buku-buku cerita yang beredar saat ini. Konon, ia muncul sebagai tokoh dalam
peristiwa Malari tidaklah kurang hanya sebagai sebuah bagian dari permainan
Ali Murtopo. Hariman disebut-sebut sebagai anak asuh Ali Moertopo (Opsus),
yang sengaja disusupkan ke dalam gerakan mahasiswa untuk menginteli sesama
aktivis gerakan mahasiswa lainnya, seperti Rachman Toleng, Marsilam
Simanjuntak, Jusuf AR, Jopie Lassut, dan Julius Usman.  Dan, ketika
dipenjara, ia merengek-rengek minta grasi kepada presiden Soeharto. 

Selama menjadi mahasiswa itu pula, ia kenal dengan saudara kandung BJ
Habibie, yaitu Fanny Habibie. Bahkan ada isu bahwa keluarnya grasi dari
Soeharto juga berkat lobby Fanny. Perkawanan itu terus berlanjut. Ketika
Fanny Habibie memimpin  Direktorat Perhubungan Laut (Perla), diberilah
Hariman pekerjaan di klinik "Baruna". Sebuah klinik  yang dibangun oleh
organisasi pekerja terkaya "Kesatuan Pelaut Indonesia" yang juga merupakan
mesin uang sampingan dari Fanny waktu itu. 

Melalui Fanny pula, Hariman masuk dalam jaring ICMI dan Golkar bahkan
sekarang sebagai penasehat pribadi Presiden BJ Habibie. Menjelang kejatuhan
Soeharto, khabarnya Hariman sudah mempersiapkan sebuah skenario untuk
mempercepat pendongkrakan Habibie sebagai presiden. Termasuk ikut berperan
menyusun skenario rusuh di Jakarta Mei 1997. 

Gus Dur sempat mencium gelagat yang tidak beres di Golkar sewaktu Pemilu 97.
Gus Dur waktu itu sempat menyebut, bahwa DPP GOLKAR sedang diurus secara
tidak benar oleh preman-preman politik. Tentu, tudingan Gus Dur itu
dialamatkan kepada Hariman dan kawan-kawannya. Di kalangan elit Golkar dan
Hariman memang terkenal dengan pat gulipatnya di dunia preman. Konon Hariman
adalah salah satu orang yang waktu itu ditugasi menggali dana untuk Golkar
melalui jalur gelap-gelapan. Maka tidak lama setelah dikenalkan dengan Didi
Darwis, teman dekat Abdul Gafur dan Alamsyah, muncullah undian SDSB itu.
Tapi, akhirnya undian ini ditutup lantaran diserang masyarakat.

Setelah Habibie naik jadi presiden, persahabatan Hariman-Fanny berubah
menjadi geng politik yang berbahaya. Mereka berdua membentuk sebuah Tim
Sukses (di luar Golkar) yang mati-matian menggalang dukungan massa dan dana
bagi pencalonan Habibie. Mereka sibuk membuat manuver-manuver untuk
mengesankan kedemokratisan Habibie dan menghancurkan reputasi Megawati.
Memasukkan 41 anggota MPR dari kalangan dekat Habibie dan mencopoti anggota
MPR pendukung Soeharto

Tim ini juga terlibat adalam pengorganisasian aksi pendukung Habibie di DPR
22 Mei 1998 dengan sokongan dana dari Fanny dan Timmy Habibie, pemilik
konglomerasi Timsco. Mereka membayar kelompok masyarakat yang mau dibawa ke
Jakarta, membentengi Habibie.

Kerja Tim bentukan Hariman-Fanny ini memang misterius, mereka masuk ke semua
lini kehidupan masyarakat. Untuk menggarap LSM dan aktivis mahasiswa, mereka
bekerja melalui Dr Kastorius Sinaga, Bursah Zarnubi dan Eggy Sujana. Kasto
yang direkrut Hariman sejak ia -selaku konsultan proyek World Bank- tidak
bisa mempertanggungjawabkan sekitar puluhan juta alokasi dana Bank Dunia.
Namun belakangan Kasto tidak mampu meraih simpati kalangan LSM dan Bursah
(pendiri Himpunan untuk Kemanusiaan dan Keadilan -Humanika)  juga gagal
membangun projek Gabungan Pemuda Reformasi Indonesia (GPRI), organisasi
tandingan KNPI. Adapun Tim dari jalur tentara ada ZA Maulani, Kivlan Zein
Sintong Panjaitan. Di sektor Birokrasi ada Baramuli, Muladi, Ginanjar
Kartasasmita, Adi Sasono dan sejumlah menteri kabinet. Sejumlah wartawan dan
bahkan media cetaknya, di bawah koordinasi Parni Hadi dan grup Adil-nya. 

Di divisi penggalian dana terdapat sejumlah nama, Timmy Habibie, Tanri
Abeng, Setya Novanto dan sejumlah nama lain. Salah satu jalan penggalian
dananya dengan jalan memeras sejumlah pemilik Bank dan para pengusaha
bermasalah. Salah satunya yang sudah terbongkar adalah skandal Bank Bali dan
BII. Bahkan, ada yang sudah berlangsung sebelum Pemilu 1999, Tim Habibie ini
juga telah mengeruk dana masyarakat secara gelap melalui judi kupon
berhadiah "pakong" dan sejenisnya, yang modelnya tak jauh berbeda dengan
SDSB. Bedanya, SDSB legal, Pakong ini gelap. 

Ternyata mengandalkan kemampuannya sendiri tidak membuat keduanya PD. Tim
Hariman-Fanny ini pun akhirny mengorder konsultan dari Korsel dan Jerman
yang didatangkan khusus ke Jakarta sebagai konsultan.

Semula, keterlibatan Hariman menjadi antek Habibie sangat misterius. Posisi
Hariman baru transparan setelah beredarnya surat pribadi aktivis PDR
Syahganda Nainggolan untuk Menkop PPK Adi Sasono.

"Saya sudah koordinasi dengan Bang Hariman Siregar untuk mengidentifikasi
kekuatan-kekuatan yang mungkin bisa kita rangkul dan juga kekuatan kekuatan
yang melawan. Hariman juga sudah koordinasi dengan Fanny dan sudah
memerintahkan Bursah untuk melakukan operasi mendukung Pak Habibie lewat
GPRI. Bursah akan meloby elite tentara supaya menerima kombinasi
Sipil-Militer dengan mendorong isyu duet Presiden Habibie-Pak Wiranto
(tentara ini kalo nggak diakalin emang susah). Sedikit ganjalan hanya dari 2
Colis (Muzaki Colis dan Noorcholis/gepeng) yang tidak bisa kompromi dan anti
Habibie. Muzaki Colis ini binaan lama dari Tutut-Hartono sedang Noorcholis
ini tangannya Arifin Panigoro. Hariman juga sudah memerintahkan Kastorius
Sinaga untuk menjaga Tim 11 bersama Bang Buyung serta aktif melakukan
pemantauan terhadap Pemantau Pemilu. Ini penting mengingat ada gerakan
Arifin Panigoro dan kawan-kawannya yang akan menggunakan Pemantau Pemilu
untuk menghantam hasil-hasil Pemilu 1999 nanti. Hariman juga nitip pesan
supaya Mas Adi menekan Akbar Tanjung kenapa Golkar mengeluarkan 5 (lima)
calon seharusnya kan calon tunggal," ungkap Syahganda Nainggolan dalam
suratnya kepada Adi Sasono beberapa saat sebelum Pemilu.

Hasil Pemilu 1999 membuat Syahganda habis reputasinya seiring dengan
jebloknya perolehan suara PDR. Namun satu hal jasa Syahganda adalah ia
memberikan sinyal terhadap adanya jaringan Tim Siluman Habibie. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke