Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99
------------------------------

MEGA TIDAK SENDIRIAN LAGI

(POLITIK): Peta perpolitikan nasional kembali berubah. Tantangan Amien Rais
dkk ditanggapi Megawati dengan bergabung bersama Akbar Tanjung. Kini,
tergantung kekuatan uang.

Malam "Silaturahmi Badan Kontak Alumni HMI-GMNI" di ballroom Hotel
Indonesia, Jl.Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/8/1999) itu menjadi
sangat istimewa, tidak seperti acara yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Sebab, pada malam itu hadir dua orang besar di negeri ini, Ketua Umum
Megawati dan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung. Dan yang lebih
mengistimewakan lagi, karena pertemuan itu terjadi ketika Megawati sendirian
dalam gempuran hebat dari partai-partai poros tengah soal pencalonan
presiden. Semula memang  bersama PKB. Tetapi, setelah manuver Amien dengan
mencalonkan Gus Dur, Mega pun akhirnya sendirian lagi. PKB pecah, tak bulat
lagi.

Nah ketika dalam kondisi kubu Megawati sediri ini, muncul peristiwa politik
di tubuh Partai Golkar. Kondisi partai berlambang beringin ini terpecah
antara kubu Habibie dengan Akbar Tanjung. Ditambah dengan kegiatan-kegiatan
kotor para pendukung Habibie dalam mencari dukungan massa maupun dana. Kubu
Akbar pun akhirnya berniat menganulir rencana pencalonan Habibie sebagai
presiden. 

"Penyelesaian skandal Bank Bali akan menentukan perjalanan BJ  Habibie dalam
pencalonan presiden oleh Partai Golkar. Jika terbukti terlibat atau tidak
mampu menyelesaikan kasus itu dengan baik, Partai Golkar akan mencari
alternatif calon presiden lain," kata fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat
(DPP) Partai Golkar Eky Syachrudin dalam Dialog Reformasi Bidang Politik:
Mencari Presiden Indonesia Milenium Ketiga di Jakarta, Kamis (12/8). Diskusi
CIDES ini juga menampilkan pembicara caleg PDI Perjuangan Aberson Marle
Sihaloho dan pakar politik dari Universitas Indonesia Eep Saefullah Fatah.

"Buat Habibie yang terpenting adalah membersihkan dulu dirinya dari kasus
ini. Karena kalau tidak bersih, atau terlibat, Golkar akan cari capres
alternatif lain," tutur Eky.

Tapi siapa yang bisa diajak berteman jika mereka terang-terangan beroposisi
dengan kubu Habibie?  Bagi kubu Akbar, bergabung dengan kekuatan poros
tengah dipandang cukup beresiko, karena kekuatan Islamnya terlalu
mendominasi dan juga di sana sebagai ada Amien Rais yang sudah diidentikkan
sebagai musuh Golkar. Maka, jalan satu-satunya yang bisa dijajaki, bagi
Akbar adalah menempel Megawati. Sebab, dari segi plat form partai cita-cita
Golkarnya Akbar dengan PDIP tidaklah terlalu jauh. Pendek kata, ikut PDIP
jauh lebih aman dibanding dengan mengikuti partai-partai lainnya.

"Golkar siap bekerja sama dengan Megawati," kata Akbar dalam pertemuan itu.

Dan memang, suasana silahturahmi itu seolah telah "menobatkan" pasangan
Megawati dan Akbar Tanjung sebagai Presiden dan Wapresnya.

"Yang akan memimpin kita nanti adalah partai yang memenangkan Pemilu.
Alangkah idealnya jika partai-partai besar duduk bersama di bawah
pemerintahan Megawati. Dan yang menjadi orang kedua atau Wapresnya adalah
partai yang berada di posisi kedua. Yaitu Golkar dengan diwakili ketua
umumnya, Akbar Tanjung," tutur Dahlan Ranuwihardjo, sesepuh HMI dalam acara
itu dengan disambut meriah oleh ratusan hadirin di situ.

Memang, pernyataan Dahlan itu bukanlah mimpi di siang hari. Sebab
kemungkinan untuk itu terbuka lebar. Bayangkan saja, jika PDIP dengan full
team-nya bisa menyuguhkan 150 suaranya di MPR dan Golkar Akbar Tanjung mampu
setor 70% suara dari 120 suara total perolehan Golkar, maka akan terkumpul
234 suara.

Itu artinya, jika jumlah suara MPR nya 700 orang, maka tidaklah sulit untuk
mencari  117 lagi. Yang mungkin 80% bisa terpegang adalah 38 suara dari TNI.
Sebagian suara dari PKB-nya Mathori Abdul Jalil, sebagian dari suara PAN
seteru Amien Rais, suara partai-partai kecil nasionalis dan juga kemungkinan
dari sebagian suara utusan golongan.

Dan jika itu betul, maka menjadi pukulan telak untuk Amien Rais dan poros
tengahnya.

Hanya saja, kubu Habibie tak akan mungkin diam. Rencana akan menyediakan
uang triliunan rupiah untuk membeli suara dalam SU MPR nanti, bukanlah
sesuatu sulit bagi kubu Habibie. Apalagi belakangan mereka terus gencar
bergerilya ke bank-bank beku operasi dan usaha gelap mengeruk uang
masyarakat lewat judi buntut. Dan Habibie bisa dianulir, jika rakyat
beramai-ramai menolaknya dan menghentikan serangkaian kegiatan tim sukses
Habibie karena telah melakukan tindakan-tindakan kriminal dan tak bermoral
itu. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke