Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99 ------------------------------ ANAK KSAD TERLIBAT 'SHABU-SHABU' (POLITIK): Anggota Koppasus yang juga anak Jenderal Subagyo HS membawa 4 kilogram shabu-shabu. Tak sampai 24 jam, ia bebas. Di Indonesia, sungguh enak menjadi anak jenderal. Berbuat kriminal seberat apapun, takkan bisa disentuh hukum. Hari Minggu lalu (8/8) misalnya, anak Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Subagyo HS yang kedapatan membawa narkotik, tak sampai 24 jam mendekam dalam tahanan. Padahal, barang bukti yang ditemukan bersamanya terbilang sangat besar. Ceritanya dimulai ketika Polres Jakarta Barat menggelar Operasi Kilat Jaya pada Minggu dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB. Ketika melakukan pemeriksaan di kawasan Mangga Besar, tepatnya di Hotel Travel, polisi menangkap basah Decky Setiawan alias Agus Ishak (20) beserta rekannya Doni (32) yang terbukti memiliki 4 kilogram shabu-shabu dan 7.000 butir ekstasi. Barang bukti itu ditemukan dalam lemari di kamar hotel tersebut. Dari Decky sendiri ditemukan satu kantong plastik berisi shabu-shabu dan satu lagi berisi daun ganja. Barang-barang itu kemudian diakui memang miliknya, sementara yang berada dalam lemari, milik Aciang. Pada saat hendak ditangkap itulah, Decky menggertak polisi dengan menyebut dirinya sebagai anggota Komando Pasukan Khusus (Koppasus) berpangkat letnan dua dan juga anak Jenderal Subagyo HS. Karena memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi serta menganggap gertakan itu terlalu mengada-ada, apalagi Decky tak dapat menunjukkan KTP dan bukti pengenal lainnya -polisi terus saja menyeret Decky ke kantor polisi. Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajusman pun, hari Minggu itu, sempat membenarkan adanya seorang perwira TNI yang ditangkap dalam Operasi Kilat Jaya. Ketika itu ia dengan yakinnya menyatakan bahwa kepolisian akan memproses kasus itu secara hukum tanpa pandang bulu. Belakangan, sekitar pukul 15.00 hari itu, seseorang berpangkat kapten yang mengaku bernama Bob menghubungi Polres Jakarta Barat. Ia membenarkan bahwa salah seorang yang ditangkap dalam Operasi Kilat Jaya adalah perwira TNI-AD berpangkat letnan dua dan juga anak seorang perwira tinggi berbintang empat TNI. Setelah melakukan cross-check dan koordinasi, sekitar pukul 20.00 Decky kemudian diantar pulang. Setelah Decky dilepas, tiba-tiba saja kepolisian tak lagi membenarkan adanya penangkapan terhadap Decky. Pihak Polres Jakarta Barat sempat mengatakan bahwa perwira yang ditangkap itu "masih dalam pemeriksaan intensif." Namun, Noegroho Djajusman malah membantah berita yang sempat diakuinya. Berselang sehari setelah Decky dilepas, kepada wartawan ia menegaskan, tidak ada indikasi keterlibatan oknum TNI dalam kasus tersebut. "Yang penting bagi Polri adalah pengungkapan masalah pokok. Saya tak akan bicara masalah siapa dia," ujar Kapolda berkelit. Meskipun begitu, ia berjanji akan mengungkap seluruh jaringan yang terlibat kasus narkotik, meskipun melibatkan anggota atau anak anggota TNI. Siaran pers Polda Metro Jaya yang juga dikeluarkan pada waktu yang bersamaan, tidak mengakui adanya penangkapan terhadap Decky. Malah disebutkan, petugas Operasi Kilat Jaya hanya menangkap satu orang bernama Don dengan barang bukti 4 kilogram shabu-shabu, 7.000 butir ekstasi, 0,5 ons heroin dan uang tunai Rp2 juta. Sama sekali tak disebut tentang keterlibatan anak seorang pati TNI-AD yang juga anggota TNI. Kadispen Polda Metro Jaya Letkol Zainuri Lubis pun mengaku tak tahu-menahu. "Ah, kok saya malah tidak tahu." Kalau polisi selaku pihak yang menangkap saja tidak mengakui, apalagi pihak TNI. Kepala penerangan Kodam (Kapendam) Jaya Letkok Inf. Nachrowi dan Komandan Polisi Militer Kodam (Dan Pomdam) Jaya Kol. CPM. Mungkono, sejak awal membantah keterlibatan anggota TNI dalam kasus yang tejadi di Hotel Travel. Menurut Nachrowi, laporan yang diterimanya dari Polda hanya menyebut dua orang, Decky dan Doni. "Tak ada nama Letda Agus," ujarnya. Mungkono malah mengaku tidak menerima laporan. "Tak ada laporannya, mau investigasi dari mana?" Sejak itu, berita-berita tentang Decky pun menghilang dari surat kabar. Sumber berita dari internet seperti Detikcom pun menjadi sulit diakses. Khususnya, berkaitan dengan berita yang memuat jelas nama Agus Ikho dan berita penangkapannya. Kabarnya, Koppasus secara korps merasa tersinggung dengan penangkapan dan berita-berita yang berkaitan dengan itu. Hari Selasa hingga Rabu (10-11/8) lalu, meskipun tak ada peristiwa khusus yang terjadi, ketegangan antar polisi dan Koppasus sempat memuncak. Sampai-sampai beberapa pihak menyebut seolah-olah akan terjadi 'perang'. Terlepas dari itu semua. Yang jelas, peristiwa tersebut makin memperburuk posisi Subagyo HS. Soalnya, di samping pernah punya reputasi "memelorotkan celana" di depan wartawan, jabatan jenderal bintang empat ini sebagai KSAD, kabarnya akan segera beralih ke orang lain. Letjen Soegiono, wakil KSAD, disebut-sebut akan menggantikan Subagyo HS. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
