Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99
------------------------------

TNI ANCAM PERANG DI TIMOR TIMUR

(POLITIK): Rencana rahasia dari Panglima PPI, Joao Tavares bocor. TNI telah
memobilisasi personilnya di perbatasan Timtim untuk mengantisipasi kekalahan
pihak pro-integrasi. 

Wilayah Timor Timur akan menjadi medan perang kembali jika pro kemerdekaan
akan memenangkan jajak pendapat di Timtim. Sebab, sejak akhir bulan Juli
lalu, TNI telah menempatkan pasukannya dalam jumlah besar secara diam-diam
di perbatasan Timor Timur dan NTT. 

Tanggal 26 April, pasukan marinir telah mendarat di pelabuhan Betano, Kab.
Manufahi pada 26 Juli lalu dengan menggunakan kapal TNI-AL bernomor lambung
503. Demikian juga di beberapa base camp di Kab. Soe, Kab. Kefa, Kab.
Atambua, Besikama dan Betun di wilayah NTT. Kamp-kamp itu telah ditempatkan
sejumlah besar personil TNI. Terutama di Kab. Atambua, telah ditempatkan
sebanyak 30 batalyon personil TNI-AD yang telah dikunjungi sebanyak empat
kali oleh Panglima TNI, Jenderal Wiranto.

Selain itu TNI-AU juga telah memperkuat pangkalan angkatan udaranya di
Kupang dengan pesawat-pesawat tempur jenis Sky Hawk dan Bronco. Semua
peralatan militer itu telah disiapkan untuk kemungkinan adanya perang
terbuka antar pro-integrasi dan pro-kemerdekaan di Timor Timur.

Saat ini, di Timtim juga telah berkumpul sejumlah pewira tinggi TNI.
Sejumlah nama yang dikenali berada di Timtim itu antara lain Letjen Zaky
Anwar Makarim, Mayjen Sintong Panjaitan, Mayjen Kiki Syahnakri. Bahkan Zacky
dan Kiki telah berada di Timor Timur lebih dari satu bulan. Mereka dipercaya
sebagai yang mengendalikan semua operasi militer di sana, termasuk ikut
mengorganisir para milisi pro-integrasi di Timor Timur. 

Selain tentara yang sudah siap-siap mengantisipasi kekalahan pro-integrasi
dalam jajak pendapat, juga para milisi pro-integrasi yang tersebar di 13
kabupaten di Timor Timur. Bahkan sejak dibentuk oleh TNI, mereka terus
menerus meneror dan mengintimidasi masyarakat. Targetnya, memenangkan opsi
otonomi dan tetap bergabung dengan Indonesia. 

Salah seorang komandan pasukan pro-integrasi pada acara pengukuhan
sub-ranting pasukan pro-integrasi di Kabupaten Dili mengatakan, langkah
konkrit dari persiapan itu adalah, mempersenjatai masing-masing anggota
pasukan milisi pro-integrasi dengan satu pistol. Senjata itu rencananya akan
digunakan pada saat kampanye diselenggarakan pada 19-27 Agustus mendatang.
Sementara itu TNI juga telah memberikan senjata kepada milisi pro-integrasi
Mahidi (Mati Hidup Integrasi dengan Indonesia) sebanyak 3,000 pucuk dan
ABLAI (Aku Berjuang Lestarikan Amanat Integrasi) sebanyak 500 pucuk senjata.

Persiapan untuk mengacaukan proses jajak pendapat tersebut merupakan isi
surat dari Panglima Pasukan Pejuang Integrasi, Joao Tavares yang bocor dan
beredar di tengah masyarakat. Isi surat tertanggal 17 Juli 1999 di Balibo
dan bernomor No. 010/INS/PPI/VII/1999 tersebut, selain tentang gambaran
persiapan-persiapan juga menginstruksikan kepada komandan milisi di 13
kabupaten agar terus melakukan teror dan intimidasi. Para milisi
diinstruksikan untuk terus menekan dan mengancam rakyat untuk tidak ikut
kampanye. Joao juga minta kepada warga untuk mengumpulkan senjata-senjata
tradisional, rakitan dan senjata-senjata bekas peninggalan Portugis untuk
diserahkan kepada pihak POLRI dihadapan UNAMET.  Sebaliknya, sebelum hasil
jajak pendapat diumumkan, Joao berjanji akan membagikan senjata-senjata
modern yang telah disiapkan oleh ABRI sebanyak 15.000 (lima belas ribu)
pucuk. "Saat pengumuman hasil jajak pendapat, ternyata pihak pro-otonomi
dinyatakan kalah, maka secara serentak dengan kekuatan penuh, lancarkan Operasi 

Pembersihan terhadap pendukung-pendukung Pro-Kemerdekaan mulai dari yang
berusia 15 tahun ke atas baik laki-laki maupun perempuan tanpa terkecuali,"
tulisnya.

Namun surat PPI yang bocor itu serta merta dibantah kebenarannya oleh Joao
Tavares. Menurut sumber Xpos di Mabes TNI, Joao ketakutan atas suratnya yang
bocor itu karena Panglima TNI Jenderal Wiranto marah besar. Dalam suatu
pembicaraan yang serius, Wiranto menanyakan kenapa surat rahasia itu bisa
beredar di masyarakat Dili dan dibaca oleh kalangan luas di Jakarta dan
kota-kota lain di Indonesia. Menurut Wiranto, isi surat itu akan merusak
citra TNI dan Pemerintah Indonesia di mata dunia internasional.

Sebaliknya, bocornya dokumen surat Joao tersebut membuat cemas masyarakat
Timor Timur. Mereka sangat khawatir jika berita dalam surat itu menjadi
kenyataan. Oleh sebab itu, belakangan ini sudah ribuan warga Timor Timur
berangsur-angsur meninggalkan wilayah Timtim mencari tempat yang lebih aman.
Bahkan, rakyat NTT di perbatasan Timor Timur juga mulai mengungsi ke Kab.
Atambua. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke