Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 29/II/22-28 Agustus 99
------------------------------

Kamala Chandrakirana, Sekjen Komnas Perempuan:
"PEMERINTAH BERTEPUK-TANGAN UNTUK DIRINYA SENDIRI"

(DIALOG): Komisi Nasional Anti Penyiksaan terhadap Perempuan (Komnas
Perempuan) menggelar perayaan kemerdekaan yang unik di Tugu Proklamasi
Jakarta (18/8). Tampilan seni yang selama Orde Baru dilarang, dengan sengaja
dipanggungkan oleh Komnas Perempuan seperti tarian etnis Tionghoa yang
diberi judul Tari Padang Pasir. Dua lukisan  besar yang menggambarkan massa
pengungsi dan penderitaannya melatari panggung mengapit patung proklamator.
Dua lukisan itu digarap oleh Kelompok Taring Padi yang mewarisi semangat
realisme sosialis. Suasana jadi kian dramatis ketika di tengah acara, Ketua
Komnas Perempuan, Saparinah Sadli dalam mengakhiri sambutannya mengajak para
korban kekerasan yang hadir malam itu untuk memimpin hadirin menyanyi lagu
Maju Tak Gentar. Puncaknya, lagu-lagu kritis dinyanyikan oleh Oppie
Andaresta dan Franky Sahilatua.

Di balik kesederhanaan acara yang penuh makna itu, Kamala Chandrakirana
sibuk mondar-mandir mengatur panitia. Ia sendiri terjun langsung mengurusi
protokoler acara. Berikut wawancara Xpos dengan Kamala yang biasa dipanggil
Mbak Nana:

T: Apa latar belakang pagelaran acara ini?
J: Komnas Perempuan selama ini menghadapi kenyataan adanya 500.000 pengungsi
di seluruh Indonesia. Lebih lima puluh persennya adalah ibu-ibu dan
anak-anak. Kami merasa sangat sulit sekali mencari jalan keluar untuk
mengatasi hal ini. Inginnya sih kalau bisa memberikan kembali hak hidup
untuk korban yang mati, tapi itu jelas tak mungkin. 

T: Ada kontradiksi keinginan dan kenyataan?
J: Ya, kenyataannya militer seperti tidak tahu malu terus menggunakan
pendekatan kekerasan. Sementara relawan kemanusian bekerja setengah mati,
diancam, diintimidasi, bahkan diserang di Timor Leste. 

T: Lantas apa yang mau dicapai dengan acara ini?
J: Acara ini untuk membantu, paling tidak sebagai ungkapan solidaritas
bagaimana caranya supaya ada perhatian yang lebih untuk ibu dan anak yang
sekarang ini ada dalam pengungsian. Inti tujuannya untuk mengedepankan misi
dan visi kemanusiaan. Kami merasa bahwa perayaan tujuhbelas agustus ini
adalah suatu kesempatan yang sangat baik untuk kita peringati, karena pada
tanggal tujuhbelas Agustus inilah kita sebagai bangsa melihat kebangsaan
kita. Kita bercermin dan bertanya kepada diri kita sendiri, siapa
sesungguhnya diri kita ini? Pada saat itu kita merasa sangat perlu untuk
mengingatkan (terutama untuk pemerintah) bahwa perayaan tujuhbelas Agustus
ini seakan-akan kita masih negara yang serba bertepuk-tangan untuk diri kita
sendiri, untuk kehebatan diri kita sendiri, kewibawaan negara dan
sebagainya. Padahal kita ... (Nana kebingungan mencari istilah yang tepat,
red). Jadi jangan sampai perayaan itu diisi hanya dengan pembagian
medali-medali dan pengibaran bendera-bendera. Kita perlu membangunkan
pemerintah untuk menyatakan bahwa ada banyak masalah saat ini. Selain itu
kita juga perlu untuk memberi penghargaan setulusnya kepada relawan-relawan
yang notabene warganegara biasa, anak-anak muda, perempuan-perempuan yang
selama ini tidak terlibat dengan soal-soal politik orang-orang ini tidak
dilindungi. Pertarungan kekuasaan bisa melibas mereka. Nah malam inilah kita
memberi penghargaan pada mereka agar mereka dihormati selayaknya saja.

T: Apa yang membedakan acara ini dengan perayaan lain?
J: Kita berusaha dengan wacana yang beda, wacana renungan, wacana lagu,
wacana doa, untuk menyatakan cerita yang sama. Saya bersama-sama rekan juga
mencoba mengangkat etnis cina sebagai bagian dari identitas kita. Selama ini
etnis cina bukan hanya diabaikan tapi juga tidak diakui sebagai bagian dari
bangsa kita. Kita ingin mengembalikan etnis cina yang hidup di negeri ini ke
wacana kebudayaan kita. Jadi mungkin itu, beda yang lain di sini banyak
perempuannya. Eh..eh udah ya aku harus urus itu tuh (Mbak Nana ngeloyor
pergi setelah melihat seorang rekan panitia melambaikan tangan dari samping
panggung, red). (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke