Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 29/II/22-28 Agustus 99 ------------------------------ KEPADA PARA PEMBUNUH KEMERDEKAAN (Rakyat Miskin Kota) (OPINI): Kita telah belajar lama tentang mahalnya kemerdekaan, sekian abad yang dirampas, diubah dan dihancurkan. Penjara yang dibangun di atas tanah kita sendiri. Tanah yang mengeluarkan air, tempat kita minum. Tanah yang membuat sungai dan telaga untuk ikan-ikan membangun rumah tangganya. Tanah yang membuat hutan, perkebunan, pertanian, tambang-tambang, taman dan lapangan tempat bermain. Tanah yang melahirkan bayi-bayi, benih-benih kehidupan, tempat untuk merancang hari esok. Beragam kebudayaan yang tumbuh di bawah matahari tropis dan laut yang mengantar kami hidup di antara pulau-pulau. Merajut kehidupan bersama matahari, ayah, ibu, keluarga dan kerabat-kerabat kita. Itu semua bukan milik kita lagi tanpa kemerdekaan. Kita telah belajar merebut kemerdekaan, mengembalikannya kembali ke tangan kita. Tetapi kemerdekaan itu telah menjadi asing setelah sekian abad dirampas. Kemerdekaan yang telah terbelah-belah, menyakitkan hati. Kemerdekaan yang masih menyimpan mata musuh, mata penjajah. Kemerdekaan terkutuk yang menumpahkan darah saudara-saudara kita sendiri dan saling merampas harta kita sendiri. Sebuah kuburan besar telah melubangi kemerdekaan itu, tempat kita mempertahankan musuh lewat dirikita sendiri. Wajah kemerdekaan kian bertambah asing, berubah sosok menjadi kepentingan mereka yang memerintah dan berkuasa. Kemerdekaan gagal menjadi denyut nafas kita sendiri. Kemerdekaan gagal menjadi langkah kita sendiri. Tentara rakyat mengubah diri menjadi tentara kekuasaan. Hukum yang berkeadilan berubah menjadi hukum yang melindungi mereka yang berkuasa. Kita dikuasai oleh pemerintah kita sendiri, yang tidak pernah mengajak rakyat dalam menentukan arah negeri kita bersama. Tiga dekade buruh diperas dengan harga murah, ancaman phk dan teror. Tiga dekade rakyat digusur, dikejar-kejar, dipermainkan lewat bahasa dan birokrasi yang datang dari tombol kekuasaan. Tiga dekade sejarah berada dalam tombol kekuasaan yang mengaturnya. Tiga dekade kita kehilangan rajutan historis dari kehidupan bersama kita. Tiga dekade kita kehilangan keberagaman kita bersama. Tanah kita berubah menjadi tempat untuk modal-modal asing menanamkan kekuasaannya. Mereka mulai menghancurkan kita. Langit menjadi kotor, sungai-sungai mengalirkan racun, tanah rakyat dikuasai, tanah adat dihancurkan. Desa dimiskinkan. Buruh-buruh murah bergerak ke kota. Perempuan-perempuan menjual tenaganya di negeri asing. Gaya hidup kita kian kehilangan dasar-dasar kemerdekaan sebuah bangsa. Mereka kirim makanan kita hingga makanan ayam dari luar. Mereka kirim buku-buku, majalah hingga sabun mandi kita. Mereka kirim lembaga pendidikan yang menghasilkan sarjana-sarjana yang mengejar karier dan kedudukannya sendiri, dan membiarkan rakyat hidup dalam kebisuan. Tanah yang telah diberi racun untuk pemaksaan produksi. Tetapi kita hidup dengan hutang-hutang yang terus membesar, menciptakan jalan untuk bagi lahirnya para koruptor, peremanisasi. Kehidupan yang tergadai. Sebuah kuburan besar untuk kemerdekaan kita bersama. Lalu kita menyebut kuburan itu sebagai globalisasi. Kita telah belajar lama tentang mahalnya kemerdekaan. Tentang besarnya arti kemerdekaan sebagai syarat mendasar untuk kita merajut kehidupan bersama kita yang setara, saling menghormati, dan melindungi hak-hak rakyat. Melindungi alam, udara, pikiran dan hati kita. Karena itu kita mengatakan "tidak" untuk pemerintah yang menghancurkan kemerdekaan banggsanya sendiri. Karena itu kita mengatakan "tidak" untuk tentara yang menumpahkan darah rakyatnya sendiri. Karena itu kita mengatakan "tidak" untuk lembaga-lembaga keuangan internasional yang mau merampas kebebasan kita. Karena itu kita mengatakan "tidak" kepada para pembunuh kemerdekaan. Rakyat Mesti merdeka. (*) Tulisan disusun oleh Urban Poor Consortium (UPC) yang dimoderatori Wardah Hafidz, Afrizal Malna, dan Achmad Huzairin --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
