Precedence: bulk


ISTIQLAL (24/8/99)# ISLAM KALAH ATAU MENANG DALAM PEMILU

Oleh Sulangkang Suwalu

        Harian Pelita (6/8/99) sungguh menarik dibaca. Betapa tidak, pada
harian itu terdapat dua berita yang isinya bertentangan tentang hasil pemilu
yang lalu bagi Islam. Yang satunya menyatakan "Islam Kalah", sedangkan yang
satunya lagi menyatakan, "Islam Menang". Mana yang benar? Atau siapa
sesungguhnya yang kalah dan siapa yang menang?

"ISLAM KALAH"
        Di tulisan bersambung yang berjudul "Menegakkan Hukum Allah SWT di
bumi Indonesia", dikatakan "Islam kalah" di pemilu 1999. Tulisan tersebut
dimulai dengan pernyataan, "Menegakkan hukum Allah SWT di Indonesia menjadi
kewajiban setiap muslim laki-laki dan perempuan. Selama ini hampir tidak ada
UU Allah SWT yang diterapkan di bumi Nusantara. Kalaupun pernah dilakukan,
sifatnya hanya sepotong-sepotong, tidak menyeluruh dalam semua aspek kehidupan".
        Kemudian dikatakan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah SWT di muka
peradaban manusia di bumi memerlukan perjuangan. Masyarakat muslim harus
berjuang untuk terlaksananya seluruh ketentuan Allah SWT.
Lebih lanjut dikatakan bahwa kehidupan di masyarakat hari-hari ini diwarnai
kekalahan. Kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik kenegaraan
masyarakat muslim  dalam kondisi kalah. Untuk itu perlu kajian ulang seluruh
aspek kehidupan di masyarakat.
        Kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masih menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat muslim. Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat
muslim masih diwaranai ketidakberdayaan. Pendidikan Islam belum mampu
menunjukkan jati dirinya, ekonomi masyarakat muslim belum baik. Demikian
halnya dengan sosialk budaya dan sosial politik.
        Kekalahan partai Islam dalam Pemilu 1999 menunjukkan ketidakkompakan
masyarakat muslim. Selain dari kekalahan para pemimpin umat Islam yang
mengabaikan ajakan ukhuwah Islamiah. Untuk itu perlu pemberdayaan agar
masyarakat muslim yang menjadi komponen terbesar penduduk negeri mampu
memainkan peranannya secara maksimal.
Di masa depan harus dipersiapkan secara matang guna memenangkan partai Islam
dalam pemilu yang memungkinkan masyarakat muslim tampil sebagai pemimpin di
bumi nusantara.
        Demikian di antaranya tulisan serial yang ditulis wartawan Pelita
tersebut. 
        Sementara itu, pada media yang sama, Haryo Sasongko, Ketua Humaniora
membantah bahwa Islam kalah dalam Pemilu. Menurut Haryo, adalah keliru
anggapan bahwa umat Islam kalah dalam pemilu 1999, hanya dengan alasan bahwa
parpol-parpol Islam tidak mendapatkan suara mayoritas. Pendapat seperti itu
bia menyesatkan persepsi masyarakat mengenai keberadaan umat Islam dan
parpol Islam di negeri kita dewasa ini.
        Haryo, yang kini sedang mempersiapkan bukunya "Sosialisasi Islam di
Indonesia" berpendapat bahwa umat Islam tidak identik dengan parpol Islam.
Mengukur eksistensi umat Islam berdasar perolehan suara parpol Islam dalam
pemilu, jelas merupakan penilaian yang sempit.
        "Ndak betul itu. Coba lakukan penelitian, nanti akan terbukti bahwa
partai-partai yang tidak berasaskan Islam dan memperoleh suara besar,
mayoritas suaranya pasti berasal dari umat Islam. Misalnya saja dari PDI-P,
PKB, Golkar dan PAN. Dari lima partai yang memperoleh suara terbanyak, hanya
PPP yang tegas menyatakan  partainya berasaskan Islam," kata Haryo.
        Lebih lanjut Haryo mempridiksi, andaikata saja 35 juta pendukung
PDIP, yang 10 juta non muslim, maka masih ada 25 juta umat muslim yang
mendukung partai berlambang banteng gemuk itu. Haryo menyayangkan adanya
para tokoh partai Islam yang meletakkan wawasannya bertumpu pada keparpolan
Islam. Lalu mereka menghitung-hitung suara yang akan diperoleh parpol Islam
di DPR/MPR, seolah-olah kursi itu menentukan masa depan umat Islam secara
keseluruhan. "Nasib umat Islam tidak ditentukan dari sana. Itu hanya format
politik. Dan umat Islam tidak boleh terjebak di situ. Apalagi, kemudian juga
terlihat pada pengkotakan antara Islam di satu sisi dan nasionalis sekuler
di sisi yang lain".
        Pemilu 1999, menurut Haryo jelas dimenangkan umat Islam, apakah itu
yang berada di PDI-P, PKB, PAN maupun Golkar dan partati-partai lain.
Masalahnya sekarang, bagaimana umat Islam yang menduduki posisi mayoritas di
banyak parpol itu dapat menyatukan visi untuk memberikan konstribusinya bagi
pembangunan  nasional. Di sini umat Islam seharusnya tidak terjebak dalam
dikotomi yang diciptakannya sendiri, yakni dikotomi antara kelompok Islam
dengan kelompok nasionalis sekuler.
        Bagi Haryo, keberadaan parpol-parpol Islam merupakan hal yang
positif, sejauh parpol-parpol itu tidak membangun ekslusivisme, yang justru
dapat mengundang munculnya benih konflik horisontal.
        Karena itu, berkaitan dengan munculnya partai-partai Islam, Haryo
itu perlu disambut dengan baik. Kita jangan apriori, tetapi parpol-parpol
itu harus menjaga agar tidak justru membawa umat Islam ini dalam kotak-kotak
sempit.
        "Parpol Islam harus dapat menjadi alat perjuangan umat Islam, bukan
sebaliknya, umat Islam diperalat oleh parpolnya untuk kepentingan perjuangan
politik para tokohnya yang berwawasan sempit dan semu. Tetapi perjuangan
uamt Islam tidak hanya dapat dilakukan lewat parpol Islam. Parpol yang tidak
berasaskan Islam, juga dapat menyuarakan aspirasi keislaman," katanya.
        Haryo ingin menyangkal kalau dikatakan Islam kalah dalam Pemilu
1999. Jadi, sesungguhnya siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam Pemilu
1999?

YANG KALAH DAN YANG MENANG
        Adalah benar bahwa umat Islam tidak identik dengan parpol-parpol
Islam, seperti dikatakan Haryo Sasongko. Jika umat Islam identik dengan
parpol-parpol Islam, karena kecilnya perolehan suara parpol-parpol Islam,
memang benar umat Islam kalah. Tetapi karena umat Islam tidak hanya menghuni
parpol Islam, tetapi juga berdiam di parpol non Islam dan parpol itu menang
dalam pemilu, berarti umat Islam juga menang. Jadi ukuran kalah dan menang
umat Islam, bukan ditentukan kalah atau menangnya parpol Islam dalam pemilu.
        Ukuran kalah atau menangnya umat Islam dalam pemilu, ialah apakah
dengan menangnya suatu partai (Islam atau non Islam) mendekatkan kepada
tegaknya hukum-hukum Islam tentang kemasyarakatan, atau tidak? Jika
mendekatkan, berarti umat Islam menang. Sebaliknya, jika tidak ada
perubahan, apalagi menjauhkan, itu berarti kekalahan umat Islam.
        Juga menjadi pertanyaan: kalah atau menangnya umat Islam itu umat
Islam yang mana? Karena umat Islam dewasa ini  tidak satu, tidak tunggal.
Ada umat Islam yang tertindas, yang teraniaya, yaitu kaum mustadhafin. Ada
umat Islam yang menindas, yang menganiaya, yaitu kaum mustakbirin. (Suharto
dan pelanjutnya Habibie, bukanlah Islam dari kalangan mustadhafin, melainkan
dari kalangan mustakbirin).
        Bagi kaum mustadafin umat Islam menang, jika kaum mustadhafin telah
menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi. Ini sesuai dengan janji Tuhan
dalam surat Al Qhasash ayat 5-6, umat Islam menang, jika di Indonesia sudah
diharamkan orang "memakan darah yang mengalir" dalam tubuh manusia yang
lain. Itu ditegaskan dalam surat Al An'am ayat 145; umat Islam menang, jika
pencuri (seperti melakukan korupsi, kolusi untuk  menambah kekayaannya)
dipotong kedua belah tangannya, itu ketentuan dalam surat Al Maidah ayat 38.
Umat Islam menang, jika tidak ada lagi di bumi ini yang menganiaya dan
teraniaya seperti dikemukakan dalam suart Al Baqarah ayat 279, dst.
        Sebaliknya umat Islam yang mustakbirin, berlakunya surat-surat Al
Qhasash ayat 5-6, surat Al An'am ayat 145, surat Al Maidah ayat 38, surat Al
Baqarah ayat 379 dan sebagainya merupakan kekalahan bagi mereka. Mereka
tentu akan mengatakan umat Islam kalah. Bagi Islam mustakbirin, Islam itu
menang, bila kekuasaan menjamin kebebasan bagi manusia menumpuk-numpuk harta
yang diperdapat secara batil, padahal itu bertentangan dengan surat Al
Baqarah ayat 188 dan surat Al Humazah 1-3.
        Untuk mengetahui partai-partai mana yang akan mendekatkan membuminya
ketentuan-ketentuan ayat Al Quran di atas, tentu harus dipelajari program
partai masing-masing. Baik partai yang memakai bendera Islam maupun partai
yang memakai bendera secra umum. Seperti dikatakan Haryo Sasongko, meskipun
partai itu tidak menyatakan berasaskan Islam, ia bisa saja mewakili aspirasi
umat Islam.
        Yang terang, partai-partai yang memakai bendera Islam, yang turut
dalam pemilu 1999 tidak satu pun yang memajangkan sebagai programnya untuk
menjadikan kaum mustadhafin sebagai pemimpin di bumi dan mewarisi bumi.
Jadi, tidak ada jaminan dengan partai-partai Islam itu akan tegak
hukum-hukum Islam, mengenai kemasyarakatan seperti yang disebut-sebut di
atas. Hal demikian juga tidak ditemui dalam program partai-partai non Islam
yang menang dalam Pemilu 1999.
        Dengan pemilu lalu, tidak akan ada perubahan prinsip yang akan
terjadi dalam masyarakat. Kaum mustakbirin masih akan diperbolehkan memakan
darah yang mengalir dalam tubuh manusia lain; masih akan diperbolehkan
menumpuk-numpuk harta yang diperolehnya secara batil. Masih jauh dari
menjadikan kaum mustadhafin sebagai pemimpin di bumi dan mewarisi bumi.

KESIMPULAN
        Pemilu 1999 belum memenangkan umat Islam kalangan mustadhafin
(orang-orang yang tertindas dan miskin). Mustadhafin masih tetap pihak yang
kalah. Yang menang tetap kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya).
Mereka tetap dapat melanjutkan melakukan penghisapan sesama manusia seperti
yang berlaku selama ini. Belum ada hukum yang melarang mereka berbuat demikian.
        Umat Islam dari kalangan mustadhafin, baru akan mencapai kemenangan
bila mereka mengorgnaisasikan dirinya dan berjuang melemparkan belenggu
penghisapan yang dilekatkan mutakbirin pada mereka. Ingatlah akan surat A
Ra'du ayat 11: Tuhan tidak akan merubah keadaan mereka, bila bukan mereka
sendiri yang merubahnya. Jangan mengharap belas kasihan kaum mustakbirin
yang zalim dan aniaya itu. Jangan menganiaya dan jangan teraniaya. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke