Precedence: bulk CATATAN PERJALANAN DI BUMI LOROSAE (3) Dear Joko dan Riri, Tentu kalian sudah tahu, ya, hari ini, Kamis, 26 Agustus 1999, di Dili terjadi kerusuhan. Kalau kalian menyaksikan televisi tentu kalian bisa menyimak apa yang tergambar di layar kaca itu. Aku tidak tahu dari mana sumber kerusuhan itu. Sebab, aku mendengar adanya kekacauan itu ketika aku dan beberapa teman tengah memasuki wilayah kota Dili. Dan sebagaimana biasa, berita itu sudah jadi kusut dan simpang siur. Tapi, sebagaimana kita lihat dan baca di media massa, ada sejumlah warga sipil meninggal dunia dan beberapa rumah hangus dibakar. Belum ada data yang pasti berapa orang yang mengalami luka-luka. Kalian nggak perlu kaget karena aku sudah menulis surat lagi. Aku ingin membayar utang pada kalian, menjawab sejumlah pertanyaan yang kalian ajukan itu. Banyak betul ya ketidakmengertian kalian pada persoalan Timor Lorosae ini. Aku dan Manuel tentu saja senang karena kalian merasa mendapat informasi yang lain. Bukan berita yang justru sering membuat kita jadi semakin tidak paham apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mungkin, kalian bosan membaca suratku kali ini. Surat yang panjang dan berat. Aku akan mencobanya untuk tidak membuat kalian pening. Oh ya, aku baru saja mengikuti beberapa kawan yang keliling ke beberapa kabupaten. Aku ingin tahu juga apa yang sebenarnya terjadi di beberapa pelosok wilayah Timor Lorosae ini. Maklum, banyak kejadian di pelosok yang nggak terliput oleh media. Teman-temanku itu menjadi observer bagi pelaksanaan kampanye untuk referendum yang tinggal beberapa hari ini, ke Baucau. Kota kecamatan itu tetap saja indah meski aku telah beberapa kali pergi ke sana. Tak bosan-bosannya aku menatap kecantikan alamnya. Duh, jangan kalian bayangkan kami diangkut dengan kendaraan yang mulus. Kami berangkat dengan angkutan umum yang kami sewa. Di Jakarta kita sebut dengan mikrolet. Kali ini aku tidak bepergian bersama Neves, Manuel maupun Jose. Aku pergi bersama Ronaldo, Helio dan Mirta. Kendaraan berwarna hijau itu tak berjalan mulus. Di tengah jalan, beberapa kali kami harus berhenti. Ada saja penyebab ngadatnya kendaraan itu. Tapi, kami merasa santai saja berkat kejenakaan Ronaldo. Ada saja komentar yang dia lontarkan yang membuat kami tertawa. Hari telah senja ketika kami menginjak Kota Baucau. Ketika kami berangkat, aku dan Mirta tak membayangkan akan menginap di sebuah penginapan, meski ada beberapa tempat untuk melepas lelah di sana. Kalian tahu, semua sudah penuh ditempati staf UNAMET. "Santai saja, kita bisa menginap di rumah kawan," begitu jawab Ronaldo. Kami mengunjungi sobat Ronaldo maupun Helio, tapi tak seorang pun berhasil kami temui. Mereka pasti punya acara, pikirku. Perutku sudah melilit tapi aku pun tidak tahu di mana mencari makanan ketika hari sudah menjelang sore. Meski membawa kudapan dan air tapi perut kami minta diisi dengan nasi. Ronaldo seperti tahu apa yang aku pikirkan. Aku dan Mirta diantarkan ke rumah orangtuanya. Letak rumah mereka artistik bener, menurut ukuranku. Ada tangga setapak untuk menuju rumah orangtua Ronaldo itu, dari bebatuan. Agak menjauh dari jalan raya. Ibu dan seorang adik perempuannya ramah menyambut kedatangan kami. Aku tak mengerti apa yang dikatakan Ronaldo pada ibunya. Yang aku mengerti, perempuan setengah baya itu tersenyum ramah pada aku dan Mirta. Tak lama setelah Ronaldo meninggalkan kami, entah pergi ke mana, Natalia datang membawa kopi dan kacang goreng. Setelah puas ngobrol dengan Natalia yang sekolah di bangku SMA, Ronaldo dan Helio datang menjemput kami. Tujuan kami tentu saja mencari makan. Ah, ternyata masih ada restoran Padang yang buka. Dengan lauk seadanya kami melepas lapar sore itu. Belum beranjak dari restoran itu kami mendengar suara para pemuda berteriak, entah apa yang mereka katakan. Mereka berhenti di depan kantor CNRT, hanya dua ruko dari tempat kami makan. Ada yang seperti bertengkar dan ada pula yang cuma berdiri dan menonton di sana. Kami tak paham betul apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ada yang mengatakan, seorang oom membawa lari seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Karena itu, para pemuda itu mencoba menyelesaikannya. Perhatianku dan Mirta bukan pada pokok persoalan itu, tapi kami mengamati kenapa begitu banyak anak-anak yang mungkin belum genap berusia 7 tahun ikut bersama barisan itu. Anak-anak itu bukan sebagai penonton tapi menjadi bagian dari barisan orang dewasa. Mereka tak merasa takut meski ada yang membawa parang, pedang atau kayu yang besar. Mirta tertawa geli melihat semua itu. "Sejak masih bocah mereka sudah paham benar apa yang dirasakan orang dewasa di sekitar mereka itu," kataku pada Mirta. Hari telah gelap ketika kami berhasil meninggalkan tempat makan itu. Di rumah Ronaldo aku tak lagi mampu untuk berbincang-bincang dengan seisi rumah. Mataku telah lama penat. Pagi masih bening ketika aku mulai membuka mata. Aku ingat pesan Ronaldo dan Helio, kami harus cepat bergegas untuk pergi ke sebuah kota kecamatan. Di sana akan digelar kampanye dari kelompok pro-kemerdekaan, kata Bareto, salah seorang kawan Ronaldo. Aku tak sampai hati mandi bergayung-gayung, mengingat Natalia lah yang mengangkut air dari drum di pinggir jalan, ke kamar mandi mereka. "Di sini air sulit. Tak ada air yang bisa dipompa karena sumber air itu ada di bawah batu-batuan," kata Natalia. Hampir seluruh penduduk di Baucau membeli air untuk keperluan sehari-hari. Per drum harus diganti dengan uang seribu rupiah. Bisa kalian bayangkan betapa terbatasnya mereka mendapatkan air bersih 'kan? Ketika kami akan sarapan, aku membayangkan ibunda Ronaldo masih ada di kamar tidur. Natalia hanya tertawa mendengar pertanyaanku. "Mama sudah ke pasar sejak jam dua dini hari tadi. Dan baru pulang jam 11 siang." Astaga. Perempuan beranak empat itu berjualan belimbing sayur dan sayuran lain dengan menempuh perjalanan panjang karena sulitnya transportasi. Dan itu sudah ia lakukan selama bertahun-tahun. Kami segera bergegas meninggalkan rumah yang hangat itu, tanpa sempat mengucapkan terima kasih pada ibunda Ronaldo. Sepanjang perjalanan terasa senyap. Kami hanya menyaksikan kemiskinan di sana-sini. Kering dan kering itulah yang aku saksikan sepanjang jalan menuju tempat kampanye diadakan. Riri, entah apa perasaan kamu ketika menyaksikan bendera merah putih ditancapkan di sembarang tempat. Kamu pernah bercerita, ketika menjadi anggota pengibar bendera saat peringatan tujuh belas agustus, bagiamana terharunya kamu saat mencium bendera itu. Kamu tahu bagaimana bendera itu direbut dari pihak lawan dengan kucuran darah dan air mata. Tapi apa yang kita lihat di wilayah Timor Lorosae ini? Pengibaran bendera itu hanya sekadar menunjukkan bahwa penduduk patuh pada instruksi aparat. Patuh sekadar patuh. Mereka mengibarkan bendera karena takut dibunuh, dianiaya atau diteror akibat dianggap tidak mendukung kelompok pro-otonomi. Dan, lucunya para aparat percaya begitu saja. Aku melihat satu-satunya rumah penduduk yang reot, nyaris rubuh, di sebuah bukit pun terpancang merah putih. Kamu mengerti apa yang aku maksudkan, Ri? Dalam perjalanan menuju kecamatan itu, kami bertemu dengan kendaraan para peserta kampanye. Mereka hanya menggunakan kendaraan umum, bus atau truk dan jumlahnya pun tak seberapa. Ketika kami menuju lapangan tempat kampanye diselenggarakan, aku bertemu dengan sejumlah polisi dari Indonesia. Aku menatap wajah mereka sekilas. Salah seorang di antara mereka ada yang tersenyum lepas. Mungkin, dia merasa senang karena bertemu dengan sesama orang dari Indonesia. Aku hanya membalas senyumnya sekelebat saja. Kami segera bergabung dengan para peserta yang sejak pagi telah berkumpul. Terdengar musik yang dijadikan pembuka acara siaran UNAMET di teve lokal, di Timor Lorosae. "Sudah saatnya, bagi rakyat Timor Lorosae untuk menentukan masa depannya �." begitu salah satu syair lagu yang amat populer di sini. Tumpah ruah penduduk di tempat itu. Aku tahu tak ada seorang pun yang memaksa agar mereka berada di lapangan itu, dalam terik matahari. Ya, mereka datang atas kemauan mereka sendiri. Joko dan Riri, saat aku berada di antara mereka itu aku tak sanggup berkata-kata. Aku hanya diam dan menatap mereka. Ya, mereka hanya ingin merdeka. Mereka ingin terbebas dari penjajahan Indonesia. Dalam salah satu surat kalian, kalian bertanya, apakah rakyat Timor Lorosae sudah siap merdeka? Soal siap tidaknya mereka merdeka, aku pernah diskusi serius dengan Manuel. Kalau dibilang siap, menurut Manuel, rakyat Timor Lorosae sudah siap untuk merdeka sejak tahun 1975 lalu. Ketika itu Fretilin mendeklarasikan kemerdekaannya, tapi itu tidak diakui oleh dunia internasional. Ketika sebuah bangsa mendeklarasikan kemerdekaannya, tak perlu dipertanyakan lagi apakah mereka sudah siap atau belum. Apakah ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Bangsa Indonesia sudah siap? Begitu tanya Manuel. Pasti Indonesia belum siap juga. Menurut aku, di negara mana pun ketika rakyatnya dijajah oleh bangsa lain, pastilah mereka memberontak dan melakukan perlawanan. Untuk orang Timur Lorosae ada istilah yang sangat popular, "patria ou morte", yang berarti tanah air atau mati. "Sangat tidak bebas 'kan kalau kita dijajah, karena itu tak heran jika rakyat Timor Lorosae ingin bebas dari belenggu penjajahan itu," begitu kata Manuel. Memang selama ini, Indonesia selalu melakukan propaganda bahwa Timor Lorosae tidak layak merdeka. Tentu, kalian berdua dan kebanyakan masyarakat Indonesia amat terpengaruh dengan propaganda ini. Kata pejabat pemerintah Indonesia, Timor Lorosae secara ekonomi tidak layak untuk merdeka. Indonesia juga mengatakan, dari segi sejarah Timor Lorosae mempunyai kesamaan dengan Indonesia, sehingga tidak ada alasan untuk merdeka. Tentu, semua ini tidak berdasar sama sekali. Karena dalam hukum internasional tidak ada satu pertimbangan ekonomi ataupun sejarah yang bisa dijadikan alasan untuk menolak hak rakyat sebuah bangsa untuk menentukkan nasibnya sendiri. Dari kesiapan orang Timur Lorosae untuk memulai suatu negara baru, boleh dibilang mereka sudah cukup siap. Kalau nggak salah, bulan April lalu mereka mengadakan konvensi pertama di Peniche, Portugal. Konvensi itu dihadiri semua wakil perlawanan dari diaspora dan dari Timor Lorosae sendiri. Dalam konvensi itu mereka berhasil merumuskan magna carta CNRT sebagai penghormatan akan hak asasi manusia, dan berhasil menetapkan anggaran dasar CNRT yang bakal menjadi cikal bakal konstitusi Timor Lorosae merdeka. Kalau kalian membaca anggaran dasar CNRT, maka kalian akan tiba pada suatu kesimpulan, bahwa rakyat Timur Lorosae telah siap untuk merdeka, tidak hanya melalui yel-yel, tapi juga secara konseptual. Dalam anggaran dasar CNRT, telah diatur pula tentang sistem pemerintahan, struktur sistem pemerintah, sistem ekonomi, sistem hukum dan semua aspek penting kehidupan secara umum. Sebagai tindak lanjut konvensi CNRT di Peniche, mereka juga mengadakan perencanaan strategis pertama di Melbourne, Australia. Pada pertemuan itu, semua pimpinan politik dan intelektul Timor Lorosae, baik yang berada di Timor Lorosae maupun yang berada di diaspora berkumpul dan berdiskusi selama satu minggu tentang masa depan Timor Lorosae merdeka. Mereka berhasil membentuk task force-task force untuk membicarakan berbagai aspek kehidupan dalam sebuah negara merdeka. Ada task force tentang hukum, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Walaupun di sana-sini masih terdapat kelemahan, namun ini menunjukkan titik awal yang bagus. Artinya dari sisi perencanaan, Indonesia tidak bisa lagi dengan sombong mengatakan, bahwa rakyat Timor Lorosae belum siap merdeka. Kalian jangan pusing ya mendengar khotbah Manuel. Dia memang begitu. Selalu menjawab dengan antusias jika ditanya berbagai hal yang berkaitan dengan kesiapan kemerdekaan bangsanya. Dari jawaban di atas pasti timbul pertanyaan lain, apakah infrastruktur manusianya sudah siap? Semua orang pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan kamu, Ri. Bagi rakyat Timor Lorosae jangan pernah mengukur kemajuan negara Timor Lorosae dengan standar dari luar. Ketika ada standar kemajuan dari luar, maka ada kompetisi dan ketika ada kompetisi maka ada bentuk penindasan yang lainnya. Rakyat Timor Lorosae akan membangun negerinya sesuai dengan kebutuhan rakyatnya. Bukan kebutuhan dari luar yang sebenarnya tidak penting. Dulu ketika hanya ada beberapa orang sarjana, nggak nyampe 10 orang pada saat penjajahan Portugis, rakyat Timor Lorosae sudah siap menjalankan roda pemerintahannya, apalagi sekarang dengan ribuan sarjana lulusan luar negeri, termasuk dari Indonesia. Dalam kampanye kelompok pro-kemerdekaan, poster Xanana Gusmao pastilah juga dipasang di mana-mana, di samping tanda gambar CNRT. Apa bentuk kongkret dari visi kepemimpinan Xanana? Mungkin karena masih berada dalam tahanan pemerintah Indonesia, ia semata sebagai simbol perlawanan, yang kharismanya akan berbeda seandainya dia berada di Timor Lorosae, di tengah orang-orangnya sendiri, yang masih terpecah belah? Itu bagian dari pertanyaan yang kalian ajukan dalam surat beberapa waktu lalu. Kata Manuel, bentuk kongkret dari visi kepemimpinan Xanana adalah membuat rakyat Timor Lorosae tetap bersatu melawan satu musuh yang sama, yaitu penjajahan Indonesia. Persatuan nasional merupakan agenda kongkret dari Xanana. Orang-orang yang dulunya sangat kental bergabung dengan integrasi berubah haluan ke kemerdekaan. Rakyat Timor Lorosae yang terpecah belah, akibat invasi dan pendudukan kembali memperkokoh diri melawan invasor. Xanana berteriak mengenai rekonsiliasi nasional. Rekonsiliasi yang harus dilakukan di seluruh Timor Lorosae pada semua level. Tentu, ada juga suara yang menentang ide rekonsiliasi nasional. Bagaimana mungkin berbicara mengenai rekonsiliasi, sementara keluarga mereka telah dibantai sedemikian keji. Begitu suara mereka yang tidak terlalu setuju dengan ide rekonsiliasi. Tentu, ide ini perlu dikembangkan lebih lanjut. Tapi untuk saat ini, paling tidak menurut Xanana, ide rekonsiliasi harus mulai dilontarkan sebagai upaya awal untuk menyatukan kembali orang Timor Lorosae yang telah dipecah-pecah oleh ABRI. Perjuangan rakyat Timur Lorosae bagaikan gelombang laut yang tidak ada hentinya. Di bawah kepemimpinan Xanana, perjuangan Timor Lorosae terjadi di mana-mana. Di mana saja orang Timor berada di situlah perjuangan kemerdekaan muncul dan bertahan. Lihat saja demonstrasi-demonstrasi yang mereka lakukan, baik di Timor Lorosae sendiri, di Indonesia maupun di luar negeri semuanya berjalan dengan irama perlawanan. Ketika posisi gerilyawan di hutan dan gunung semakin terjepit karena operasi ABRI, Xanana pun mentransfer perang dari hutan ke kota-kota di seluruh Timor Timur. Bahkan Xanana dan CNRT-nya berhasil membawa perang Timor Lorosae ke seluruh dunia. Hasilnya adalah referendum yang akan dilakukan dalam beberapa jam mendatang. Secara militer dan diplomasi Indonesia telah mengakui keunggulan perjuangan di bawah pimpinan Xanana. Lalu, jika disandingkan apakah Xanana sebanding dengan Che? Ah, kok begitu, kata Manuel. Kalau dibandingkan dengan Che tentu saja zamannya berbeda. Setiap zaman akan melahirkan pemimpin yang berbeda pula. Che lahir dan dibesarkan pada zamannya demikian pula Xanana. Sama sekali tidak benar jika Xanana hanya sebagai simbol perlawanan saja. Karena dia lah yang memimpin perjuangan ini. Kalau simbol perlawanan dalam artian mewakili perlawanan Timur Lorosae maka dia lah simbol perlawanan tersebut. Karena kharismanya itulah maka Xanana tidak dibebaskan oleh Pemerintah Indonesia. Dengan pembebasan Xanana, maka bisa seratus persen orang Timur Lorosae akan memilih kemerdekaan. Kalian tentu ingat, ketika Xanana diadili pada tahun 1992 di Dili setelah Kopassus menangkapannya. Benny Murdani, yang dijuluki sebagai sang jenderal mesin pembunuh di Timor Timur itu menganggap Xanana sebagai "tikus basah di pinggir jalan". Tapi sejarah ternyata berpihak pada rakyat Maubere. Si "tikus basah" tersebut kian mengundang perhatian dan kekaguman dunia. Mulai dari Mandela, Madeline Allbright hingga pengamen-pengamen jalanan di Jakarta. Semua kagum melihat kepatuhan atas komando Xanana dari penjara. Kepada Falintil di puncak gunung Matebian, kepada Ramos Horta di pusat-pusat kota metropolitan di seluruh dunia, kepada Juventude Loriku Assuwain di Timor Lorosae dan di diaspora. Dari balik terali besi ia berhasil mengatur dan mempercepat irama perlawanan rakyat Timor Lorosae melawan penindasan Indonesia. Lelah juga ya menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Aku cerita yang lain dulu ya sebelum aku meneruskan diskusi yang serius ini. Hari ini, sehari setelah kerusuhan kemarin, kehidupan di kota Dili seperti padam. Nyaris nggak ada keramaian. Aku baru saja keliling kota melihat situasi. Pasti kalian akan becanda, seperti pejabat saja yang turun ke lapangan. Semula aku bermaksud pergi ke bank, tapi sia-sia. Kata petugas di sana, transaksi baru ada setelah jajak pendapat berlangsung. "Itu pun kalau keadaan aman," begitu kata sopir taksi. Di beberapa ruas jalan, aku melihat banyak orang berjalan beriringan sambil menggendong anak dan menjinjing tas. Ke mana mereka akan berlindung untuk mencari rasa aman, kataku dalam hati. Masih adakah tempat aman di Timor Lorosae ini? Mungkin, rasa aman itu menjadi barang mewah di sini, yang tentu sulit ditemukan di mana adanya. Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana keadaan kota Dili hari ini. Soal korban jiwa dan harta bisa kalian baca di media massa. Aku membacanya pagi-pagi setelah seorang kawan dari Jakarta mengirimkannya via faks. Ketika aku menyelesaikan surat ini, temanku mendapat telepon dari seorang jurnalis. Katanya, rumah direktur Yayasan HAK dikepung oleh sejumlah orang tak dikenal. Temanku sulit mencari konfirmasi. Entah kenapa sejak kejadian kemarin komunikasi lewat kabel telepon sulit tersambung. Ada saja gangguan itu. Entah dijawab dalam nada sibuk atau dijawab bahwa 'nomer yang Anda maksud belum tersambung'. Aneh tapi nyata. Duh. Di sini aku tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku. Takut? Ngeri? Marah? Atau emosi yang lain. Bener aku tak berhasil merumuskannya apa yang tengah aku rasakan ketika menghadapi semua ini, di sini, di Bumi Lorosae. Meskipun kami tak tahu apa yang bakal terjadi besok, tapi kalian tak perlu mengkhawatirkan aku secara berlebihan. Baik, kita lanjutkan ya suratku ini. Soal apakah jargon pelanggaran HAM itu kongkret? Perjuangan Timur Lorosae ini dibentuk oleh rakyat Timor Lorosae sendiri, bukan oleh dunia luar. Sejak tahun 1975 saat invasi sampai dengan pembantaian Santa Cruz tahun 1991, tidak satu dunia pun yang membicarakan nasib rakyat Timor Lorosae. Timor Lorosae melakukan perjuangan dengan kekuatan rakyatnya sendiri, tanpa ada bantuan apa pun, kecuali dukungan moral dari solidaritas internasional dan itu pun baru setelah meledaknya pembantaian Santa Cruz. Tidak ada satu negara pun yang meneriakan pelanggaran HAM terjadi di Bumi Lorosae. Malah negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi yang baik dengan Indonesia menutup mata dan telinga terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Timur Lorosae. Kalian tahu, antara 250.000-300.000 rakyat Timur Lorosae terbunuh tanpa sepengetahuan negara-negara barat. Mereka seakan membiarkan pemusnahan rakyat Timur Lorosae terjadi. Bahkan sampai tahun 1989 Timur Lorosae diblokir dari darat, laut maupun udara. Ajaibnya, pelanggaran pun masih saja terjadi walaupun sudah ada Kesepakatan 5 Mei 1999. Ingat, perjanjian itu telah pula disepakati bersama antara Portugal, Indonesia dan PBB. Menurut aku, kepentingan ekonomi, di mana saja pasti ada apalagi di zaman globalisasi ini. Tapi kepentingan ini sepanjang yang mereka ketahui tidak mengatasnamakan pelanggaran HAM. Malah karena hubungan baik negara-negara besar dengan Indonesia pelanggaran HAM Timur Lorosae dinafikan. Berubahnya sikap negara-negara luar disebabkan karena perjuangan yang kukuh dan progresif rakyat Timur Lorosae sendiri. Sikap mereka dibentuk oleh perjuangan rakyat Timur Lorosae. Joko dan Riri, ini surat terlama yang pernah aku tulis selama ini. Kalian harus berjanji mentraktirku minum es cendol setelah aku berada kembali di Jakarta. Sampaikan pada teman-teman, bahwa aku baik-baik saja meski di Timor Lorosae akhir-akhir ini semakin marak dengan kekerasan, yang terjadi hampir setiap menit. Malam ini ketika aku akan menutup surat ini, aku mendengar beberapa kali suara tembakan. Mungkin, ini teror. Mungkin juga ada rakyat sipil yang tertembak. Dan kita bisa tidak tahu di mana itu terjadi. Memang hanya tinggal hitungan jam saat referendum akan dilaksanakan. Tapi, tak ada yang tahu berapa orang yang telah pergi meninggalkan rumah mereka. Mereka ingin mencari kedamaian yang mungkin masih bisa mereka temukan. Sebagaimana kalian tahu, bahwa kemerdekaan itu bukan hadiah dari orang lain. Tapi kemerdekaan itu adalah buah dari hasil perjuangan panjang, yang tak kenal lelah apalagi menyerah. Aku hanya bisa berdoa, semoga cita-cita Manuel terkabul. Juga Manuel-Manuel lain yang ada di Bumi Lorosae. Dili, 26-27 Agustus 1999 Salam, Pratiwi ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
