Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 30/II/29 Agustus-4 September 99 ------------------------------ "SI NAPOLEON" BIKIN SKENARIO BARU (PERISTIWA): Adnan Buyung diangkat jadi Jaksa Agung, Soeharto pura-pura "tahanan rumah" Belakangan ini, kerja keras terus dilakukan Tim Siluman Habibie untuk mengalihkan kasus Bank Bali (BB), yang membuat Calon presiden BJ Habibie nyaris terjerambab ke dasar jurang. Sejumlah strategi dan skenario disusun, antara lain demonstrasi menuntut para pengungkap skandal, teror sampai rencana mengangkat Adnan Buyung Nasution menjadi Jaksa Agung. Menurut sumber Xpos, Senin lalu (23/8) ia mendapat telepon dari kalangan inner circle di Tim Sukses Habibie, mengungkapkan bahwa para pendukung Habibie sudah mulai ciut nyalinya lantaran citranya yang hancur lebur di mata rakyat maupun dunia internasional. Bahkan, lembaga pemberi hutang, Bank Dunia dan IMF telah memberi peringatan untuk membatalkan sejumlah rencana pinjamannya ke Indonesia, jika skandal BB tidak terselesaikan. "Mereka memilih bantuan itu disalurkan ke Kosovo saja daripada ke Indonesia. Di sana lebih jelas siapa yang membutuhkan. Kalau di sini kan kacau. Bagaimana Habibie bisa mengamankan uang dari bantuan luar negeri kalau mengamankan uang rakyatnya sendiri saja tidak mampu. Kan terbukti uang rakyatnya sendiri dipakai untuk membayar orang di MPR nanti," ungkap sumber tersebut. Akhirnya, untuk mengalihkan perhatian massa, diciptakanlah skenario baru dengan seolah-olah pemerintahan Habibie serius menangani kasus Soeharto. "Jadi, rencananya untuk membelokkan kasus BB, pekan depan ini, Adnan Buyung akan dilantik menjadi Jaksa Agung menggantikan Ismudjoko. Kalau Adnan Buyung sudah jadi Jaksa Agung, 'terobosan'-nya pertama adalah akan mengumumkan bahwa status hukum Soeharto diubah menjadi tersangka dalam kasus KKN. Dari situ, Soeharto akan dikenakan tahanan rumah seperti Bung Karno," ujarnya. Namun, sumber tersebut buru-buru menambahkan, status tahanan rumah itu tidak akan sepenuhnya seperti yang dialami Soekarno dulu, ketika didongkel Soeharto. "Tahanan rumah boong-boongan. Seolah-olah saja tahanan rumah, nggak boleh ke luar dari rumahnya di Cendana, tapi sebetulnya diam-diam dia bisa berobat dan menghirup udara segar ke mana dia mau," tambahnya. Ibaratnya, katanya, seperti sandiwara pengadilan tersangka penembakan mahasiswa Trisakti, tahun lalu. "Seolah-olah abang kita itu kan menjadi pembela, tapi sebenarnya sudah diatur sama hakim dan jaksa. Toh, nyatanya, siapa pelaku sebenarnya tidak terungkap. Prabowo masih bebas berkeliaran. Rakyat yang tidak kritis kan sudah senang, kayaknya Habibie itu serius menangani soal hukum. Padahal kan sandiwara doang." Skenario ini akan analog dengan kasus penembakan mahasiswa Trisakti. Wartawan dan media massa Indonesia akan berbalik mengngkat kasus penahanan rumah Soeharto. "Pers pasti akan menjadikan headline lagi. Seperti kasus Bung Karno, pers pasti akan menghubung-hubungkan ke sana. dan itu bakal jadi liputan yang menarik buat pers," tutur sumber. Meski sudah terbongkar skenarionya, si Abang yang sejak kembali ke Indonesia menjadi lawyer-nya Habibie di IPTN (versus The Jakarta Post), masih pura-pura membantah. Ulah si Abang kita ini memang halus, tapi juga tetap kasar. Misalnya, meskipun kliennya Rudy Ramly, bos Bank Bali sudah menunjuk Amin Arjoso SH sebagai pengacara lainnya dalam kasus BB. Toh, Rudy Ramly akhirnya dipaksa untuk melepaskan Amin Arjoso. "Terus terang saja, bagaimana mungkin Abang bisa kerja kalau ada si Amin. Amin kan jelas orang PDI Perjuangan," ujar mantan pendiri dan Direktur YLBHI itu, tanpa tedeng aling-aling. Tapi yang jelas, seperti yang terungkap dalam pernyataan-pernyataan Buyung, bahwa Rudy Ramli akan diposisikan sebagai korban yang akan dijadikan pesakitan dalam kasus Bank Bali. Dan kabar terakhir yang diperoleh, bahwa Rudy Ramli telah diteror habis-habisan oleh Tim Sukses Habibie untuk mengingkari kronologi yang pernah ia ceritakan kepada PDI Perjuangan. Dan hasil pengingkaran di atas segel itu diedarkan oleh Abdul Gafur dan Muladi. Bahkan secara kasar, para pendukung Habibie (dan juga kemakan oleh Amien Rais) menyebarkan fitnah menerima 400 milyar dari sejumlah pengusaha. Dalam selebaran itu disebut Tutut Hardiyanti Indra Rukmana dan Ari Sigit ikut menyumbang. "Isu itu sudah tidak logis. Masak, keluarga Cendana ikut membantu PDI P. Apakah itu namanya menyumbangkan tali gantungan untuk dirinya sendiri?" kata orang-orang PDI P. Selain itu, di sayap penggalangan massa, Tim Sukses juga sudah melakukan manuver-manuver. Sejak Minggu (22/8) lalu, sejumlah pendukung Habibie mulai unjuk gigi di Jakarta. Sepanjang jalan protokol di Jakarta, hari Minggu lalu (22/8) ribuan massa Fron Pembela Islam, yang berpakaian serba putih itu dan sekelompok (yang seolah-olah) gerakan mahasiswa mengarak bendera dan panji-panji Pendukung Habibie. Mereka adalah massa dari kawasan Tanah Abang dan sekitarnya yang selama ini selalu dimobilisir. "Kelompok ini akan turun ke jalan untuk mendukung penetapan status hukum Soeharto nanti. Merekalah bertugas mendramatisasi suasana dan suhu politik Jakarta serta pawai-pawainya," ujar sumber Xpos. Bahkan sekelompok massa yang datang menggunakan bis dari Garut dan dikomandoi oleh Santoso -kaki tangan Hariman- mendemo Kantor Marzuki di Kartika Chandra dan setelah itu berdemonstrasi di depan Gedung MPR/DPR. Mereka menuntut Pradjoto dan Marzuki Darusman. Minggu-minggu terakhir bulan Agustus ini tampaknya kasus Bank Bali semakin mengecil saja. Setelah Akbar Tanjung dan Marzuki akur lagi dengan Tim Siluman Habibie, kini saatnya uang Habibie sudah mulai menggerakkan orang-orang yang mudah dibeli. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
