Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 30/II/29 Agustus-4 September 99
------------------------------

"TENTARA BAYARAN" DEPLU KE DILI

(POLITIK): Tigaratusan anggota Pemuda Pancasila disiagakan di kapal perang
yang berlabuh di Dili menjelang jajak pendapat. Seorang dibayar Rp2,2 juta.

Kapal itu bernama KRI Teluk Cirebon. Kapal perang milik TNI-Angkatan Laut.
Sudah hampir dua minggu ini, kapal itu bersandar di pelabuhan Dili, Timor
Timur. Kapal itu tak hanya dihuni tentara Indonesia, terutama personil
Angkatan Laut, namun juga dihuni oleh sekitar 315 anggota Pemuda Pancasila
yang diberangkatkan dari Jakarta sekitar sebulan lalu. Ratusan pemuda itu
kini menghuni kapal itu. Tak jelas untuk kepentingan apa mereka dikirim ke
Dili. 

Ada yang bilang untuk memperkuat barisan milisi bersenjata yang pro TNI, ada
yang bilang mereka dibayar untuk melakukan kekacauan-kekacauan di seputar
hari jajak pendapat yang akan berlangsung 30 Agustus mendatang. Namun
seorang anggota Pemuda Pancasila yang dikirim ke Dili ini menuturkan mereka
belum tahu untuk keperluan apa mereka dikirim ke Dili. "Kami hanya diminta
berangkat saja. Masing-masing diberi uang saku Rp 2,2 juta dari Departemen
Luar Negeri," ujarnya. Selama "masa penantian" ini mereka hanya berjudi
dengan uang yang didrop Departemen Luar negeri itu di atas KRI Teluk
Cirebon. Sebagian dari mereka malah sudah kehabisan uang karena kalah berjudi.

Di atas kapal itu tak hanya tiga ratusan anggota Pemuda Pancasila saja yang
menghuni. "Hotel" terapung itu juga dihuni puluhan relawan Forum Rektor,
Credible dan Live, tiga kelompok pemantau jajak pendapat dari Indonesia yang
datang ke Timtim atas rekomendasi Deplu. Malangnya, kelompok pemantau jajak
pendapat yang terdiri dari para mahasiswa itu belum memperoleh akreditasi
dari UNAMET, badan PBB penyelenggara jajak pendapat itu. Deplu yang
merekomendasi mereka gagal memperoleh akreditasi untuk tugas pemantuan itu.
"Lalu, Deplu lepas tangan. Forum Rektor disuruh mencari akreditasi sendiri.
Jelas Deplu tak bertanggungjawab atas nasib para relawan ini," ujar seorang
aktifis LSM di Dili.

Tak hanya Forum Rektor yang ditolak akreditasinya oleh UNAMET, namun juga
sejumlah ormas pemuda dan mahasiswa, termasuk ratusan anggota Pemuda
Pancasila yang ditolak UNAMET. Para pemantau dari Forum Rektor yang sudah
terlanjur tiba di Dili merasa ditipu Deplu yang mengajak mereka memantau
jajak pendapat di Timtim. 

Menurut Edwin Irfan, salah seorang pemantau dari Forum Rektor seperti
dikutip Radio Netherland,  ia bersama 28 orang lainnya dijanjikan oleh
Departemen Luar Negeri (Deplu) akan mendapatkan akreditasi dari UNAMET.
Orang-orang Deplu menjamin ke amanan para relawan.

"Keberangkatan kami dikordinir Chandra Yudha, " ujarnya. Chandra, menurut
Edwin, adalah pegawai Departemen Luar Negeri RI, Direktorat Organisasi
Internasional.

Sialnya lagi, para pemantau itu juga harus menginap di kapal yang sangat
buruk selama di Dili. Sebagian pemantau harus tidur di geladak yang juga
berfungsi  sebagai WC dan kamar mandi. Kehidupan di kapal yang minim
fasilitas sungguh tak nyaman. "Menurut kawan-kawan dari OKP, keberangkatan
mereka dikoordinir oleh kantor Menteri Pemuda dan Olah Raga," tutur Edwin.
Tapi yang berasal dari OKP tak pernah punya program apapun. "Bahkan mereka
tak pernah diinstruksikan untuk apa selama di Timor Timur," tambahnya.

Apalagi kapal yang kondisinya buruk itu, itu juga mengangkut alat kampanye
kelompok pro-otonomi. Barang-barang itu terdiri dari kaos bertuliskan
"Otonomi Yes", block note dengan kalimat "Saya Pilih Otonomi", serta buku
yang berisi tentang serba-serbi otonomi yang diterbitkan oleh Forum
Persatuan Demokrasi dan Keadilan (FPDK). Jumlahnya banyak sekali, dalam
hitungan ton. 

Lepas dari soal nasib para pemantau dari kalangan mahasiswa itu yang juga
diangkat dengan kapal perang TNI-AL itu, kembali ke soal hadirnya ratusan
anggota Pemuda Pancasila tadi, kalangan pekerja Hak Asasi Manusia di Dili
mulai khawatir. Seorang aktifis HAM menuturkan kepada Xpos bahwa tigaratusan
preman bayaran itu akan sangat berbahaya jika dilepas di Dili dengan
menyandang senjata, apalagi jika bergabung dengan milisi pro-Indonesia yang
selama ini sudah cukup membuat siatuasi kacau karena kebiasaan mereka
menganiaya dan membunuh warga pro-kemerdekaan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke