Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 30/II/29 Agustus-4 September 99
------------------------------

PASUKAN ASING IKUT OPERASI MAPNDUMA

(POLITIK): Seorang anggota ICRC terlibat dalam pembantaian di Desa
Nggeselema Irian Jaya. Tentara asing dan tentara SAS Inggris diketahui ikut
menyusun operasi pembebasan para sandera itu.

Ada bukti baru dalam drama pembebasan sandera Mapnduma di Pegunungan Tengah
Irian Jaya pada 15 Mei 1996. Operasi yang sempat menaikkan pamor Prabowo
Subiyanto itu rupanya melibatkan pasukan asing. Pasukan itu terdiri dari
satuan SAS Inggris dan tentara bayaran dari Executive Outcomes yang
bermarkas di Afrika Selatan. Waktu itu, pers sama sekali tidak mencium
adanya keterlibatan pasukan asing ini. Sebaliknya yang muncul ke permukaan
adalah peran besar Kopassus dalam operasi pembebasan sandera tersebut.

Setelah tiga tahun berlalu, sejumlah saksi mata satu persatu berani membuka
fakta sebenarnya. Masyarakat pedalaman Irian sempat melihat pasukan asing
ketika sedang menyerang Desa Nggeselema pada 9 Mei 1996. Atau satu hari
setelah rencana pelepasan sandera yang dimediasi oleh ICRC (Palang Merah
Internasional) gagal dilaksanakan. Awalnya, OPM akan membebaskan para
sandera pada 8 Mei di Desa Nggeselema, dan persiapan untuk upacara menyambut
pembebasan itu juga telah dipersiapkan oleh penduduk dan dibantu staf ICRC.

Sekitar pukul 14.00 WIT, penduduk Nggeselema mendengar deru suara
helikopter. Penduduk yang ketakutan kembali tenang setelah mengenali dari
kejauhan helikopter tersebut berwarna putih dengan logo dan bendera ICRC.
Helikopter tersebut muncul dari arah Sungai Yugulul. Saat helikopter itu
mendekat, masyarakat melihat sebuah bendera putih bergambar salib
dikeluarkan dari pintu. Tetapi cara mengeluarkannya tidak seperti yang biasa
dilakukan oleh ICRC. Biasanya, kalau helikopter ICRC mendekat, maka seluruh
bendera dikeluarkan agar terlihat jelas oleh masyarakat. Namun saat itu
hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan. Hal ini menimbulkan kecurigaan
dan rasa was-was dari penduduk yang  bergerombol di dekat Poliklinik Nggeselema.

Di dalam helikopter itu terlihat lima orang kulit putih, empat laki-laki dan
seorang wanita. Wanita kulit putih itu dikenali oleh penduduk sebagai
Sylvianne Bonadei, seorang petugas ICRC yang selalu berkomunikasi dengan
para penduduk di Desa Nggeselema. Tiba-tiba ke lima orang itu melompat turun
dari helikopter sambil masing-masing memegang sebuah tas hitam. Kemudian
secara bersamaan ke lima orang kulit putih tersebut membuka tas itu dan
langsung mengarahkan laras senapan mesinnya ke arah kerumunan penduduk.
Tembakan yang membabi-buta itu juga diarahkan ke Gereja serta poliklinik.
Penduduk pun kocar-kacir menyelamatkan diri dan sebagian lagi tiarap.
Serangan tersebut berlangsung sekitar 5 menit, setelah itu ke lima orang
kulit putih itu masuk ke helikopter dan mengudara kembali.

Dalam peristiwa serangan mendadak itu, dua orang penduduk tewas tertembak.
Mereka adalah, Nindi Wandikmbo dan Amisim. Sedangkan dua orang mengalami
luka-luka, yaitu Titus Murib, pimpinan OPM dan Teberak Wandikmbo, yang
kemudian mengalami cacat tubuh seumur hidup.

Sejumlah saksi mata di Mapnduma juga melihat keberadaan pasukan asing
tersebut. Pada tanggal 9 Mei, sore hari, mereka melihat sebuah helikopter
ICRC mendarat di lapangan terbang Mapnduma. Kemudian seorang wanita kulit
putih berseragam militer turun dan menuju kolam yang ada di dekat situ. Para
saksi mata mengenalinya sebagai Sylvianne Bonadei. Ia membasuh mukanya
dengan air kolam, kemudian meminum airnya lalu menyemburkan air itu ke empat
arah mata angin. Setelah itu ia kembali ke helikopter dan mengudara kembali.

Para saksi mata yang melihat kelakuan wanita kulit putih menafsirkannya
sebagai tanda bahwa orang-orang yang berada di dalam helikopter itu telah
membunuh orang. Sebab menurut kepercayaan Suku Nduga, setiap orang yang baru
membunuh harus mencuci muka sebagai tanda agar roh orang yang dibunuhnya itu
tidak membayanginya. Mereka juga heran, bagaimana mungkin wanita kulit putih
itu mengerti budaya Suku Nduga.

Keterlibatan pasukan asing itu juga diperkuat oleh kesaksian dari salah
seorang sandera, Adinda Saraswati, dalam bukunya, "Sandera, 130 Hari
Terperangkap di Mapnduma". Disebutkan dalam buku itu: ...Di atas ada seorang
yang memakai baju hijau (baju tentara). Saya mengadu kepadanya bahwa Navy
sudah dibunuh. Namun orang itu mengatakan, "Orang-orang saya hanya kulit
putih." Mendengar kalimat itu saya melarikan diri bersama Anna dan Annette...

Justru yang mengejutkan adalah pengakuan dari Nick van den Bergh, seorang
pemimpin Executive Outcomes, salah satu lembaga tentara bayaran di Afrika
Selatan, dalam wawancaranya di film dokumenter "Blood on the Cross" yang
diproduksi oleh TV ABC, Australia. Dia membenarkan keterlibatan pasukannya
dalam penyerangan ke Mapnduma. Dia memimpin lima anggota Executive Otucomes
dan bertindak sebagai penasehat teknis dan pelatihan bagi satuan tim
penyerangan helikopter. Dia juga membenarkan kehadiran tentara elit dari
pasukan Inggris SAS, meskipun ia menyangkal keberadaan pasukannya dan SAS
dalam penyerangan di Desa Nggeselema.

Meskipun demikian, sebanyak 11 penduduk tewas dalam serangan di hari yang
sama (9/5/96) setelah serangan mendadak dari helikopter ICRC yang digunakan
oleh ke lima orang kulit putih itu. Desa Nggeselema, Talem, Yuguru dan
kampung kecil lainnya dibombardir dengan bom, granat dan roket dari udara
oleh helikopter milik ABRI dan PT Airfast yang tiba-tiba menyusup masuk saat
helikopter ICRC lepas landas.

Tampaknya masyarakat Indonesia selama ini tidak tahu apa yang terjadi dalam
operasi pembebasan sandera di Mapnduma. Kedaulatan negara telah
dikoyak-koyak oleh TNI (waktu itu ABRI) dengan melibatkan pasukan asing
untuk membunuhi penduduk desa di ujung Timur Indonesia. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke