Precedence: bulk
KRONOLOGIS INSIDEN KULUHUN DILI
DILI (MateBEAN, 31/8/99). Peristiwa Kuluhun, pekan lalu yang menelan
korban lima orang meninggal dunia dan enam luka-luka. Sampai saat ini polisi
belum menyelidiki secara tuntas. Bahkan terkesan polisi ingin mem-peti-eskan
kasus itu karena pelaku penembakan itu adalah seorang anggota Brimob, dan
bukan anggota Aitarak seperti yang diberitakan media massa selama ini.
MateBEAN bersama beberapa wartawan menyaksikan ketika seorang
anggota Brimob yang ditugaskan untuk mengamankan kerusuhan tersebut justru
menembak mati Bernardino Guterres (25) mahasiswa Universitas Satya Wacana,
Salatiga. Namun setelah kasus itu terjadi pihak kepolisian justru cuci
tangan, dan seolah-olah bersih diri, artinya mereka bukan pelaku penembakan
Bernardino Guterres.
Untuk lebih lengkapnya, berikut kronologi insiden Kuluhun:
Rabu, 25/8/99: Kelompok BMP merampok wartawati Kantor Berita Kyodo
News, Christina, di Atambua, dan bus yang mengantar wartawati itu dipaksa
memuat kelompok BMP dengan alasan untuk mengikuti kampanye otonomi di Dili
pada hari Kamis 26. Akibatnya puluhan penumpang tak bisa menggunakan bus
tersebut dan terlantar di Atambua. Uang dan beberapa kartu kredit milik
wartawati itu dirampas para milisi BMP.
Rabu, 25/8: Pukul enam sore hingga tujuh sore, para milisi dari 12
kabupaten mulai berdatangan di Kota Dili dengan konvoi kendaraan. Atribut
otonomi dipasang di sepanjang jalan di kota Dili.
Kamis, 26/8: Pukul 08.00 Wita kelompok otonomi mulai pawai menuju
lapangan Pramuka Dili untuk mengikuti kampanye otonomi. Dalam pawai tersebut
kelompok pro-otonomi menteror warga dengan meneriakkan, "Pilih otonomi.
Kalau otonomi kalah, maka terjadi perang saudara."
Pukul 09.00 Wita. Empat jurkam pro otonomi mulai berpidato. Mereka
antara lain, Fransisco Lopez da Cruz (Ketua Umum BRTT), Domingos Soares
(Ketua Umum FPDK), Eurico Guterres (Pimpinan Aitarak) dan Armindo Mariano
(Pimpinan UNIF).
Pukul 11.00 Wita. Massa pro otonomi pawai keliling Dili dengan
meneriakkan yel-yel otonomi. Rute yang diambil adalah Lapangan Pramuka,
Audian, Kuluhun dan Becora.
Pukul 12.00 Wita. Provokator dari Pemuda Pancasila yang dikirim
dengan kapal TNI AL (KRI Teluk Cirebon) mulai diterjunkan di beberapa daerah
yang dianggap sebagai basis kelompok pro kemerdekaan, seperti Audian,
Kuluhun dan Becora.
Pukul 13.00 Wita. Ketika massa pro otonomi yang kebanyakan milisi
bersenjata itu melewati Kuluhun, mereka menembak poster Xanana dan poster
yang bergambar CNRT. Penembakan itu dilakukan milisi Besi Merah Putih. Pada
saat yang bersamaan provokator yang berjumlah lima orang melempari
iriang-iringan mobil pro otonomi, sehingga mengundang emosi dari massa pro
otonomi. Reaksi dari milisi itu ditandai dengan penembakan membabi buta,
sehingga membuat sebagian besar masyarakat di Kuluhun dan Audian lari untuk
menyelamatkan diri.
Pukul 13.20 Wita. Milisi Aitarak yang mengenakan kaos hitam lengan
panjang, celana loreng dan sepatu lars tentara dengan membawa senjata M-16,
Getmi, granat dan pistol mendatangi Kantor CNRT di Lecidere. Walaupun kantor
tersebut dijaga ketat oleh Brimob, tapi milisi Aitarak berhasil menerobos
barikade Brimob dan menurunkan bendera CNRT merobek-robek bendera itu.
Sedangkan milisi lainnya menembaki kantor itu. Sedangkan pada waktu
bersamaan di Kuluhun dan Audian, Dili Timur, kelompok pro kemerdekaan dengan
berbekal batu, samurai dan panah, bentrok dengan milisi gabungan yang
membawa senjata M-16, granat dan berbagai jenis senjata lainnya. Dalam
bentrokan yang tidak seimbang itu milisi berhasil memporak-porandakan dua
buah rumah di Kuluhun serta merampas sebuah sepeda motor dan sebuah mikrolet
milik warga Kuluhun.
Pukul 13.30 Wita. Aparat Brimob dari Kontingen Lorosae yang
diterjunkan untuk mengamankan TKP justru melindungi para milisi. Karena
kebanyakan milisi itu berdiri di belakang aparat untuk menembaki warga sipil
yang tak bersenjata. Dalam keadaan kalang kabut dan panik, sebagian besar
warga masyarakat berlarian menyelamatkan diri, tapi justru sebaliknya aparat
kepolisian bukannya melindungi warga tapi menembaki warga sipil dengan
peluru timah.
Pukul 14.00 Wita, Bernardino Guterres (25) mahasiswa Satya Wacana
Salatiga, tewas ditembak aparat Brimob. Penembakan itu dilakukan ketika
Bernardino menghindar dari kejaran milisi Aitarak. Ketika dia lari untuk
menyelamatkan diri tiba-tiba aparat Brimob berteriak, "Provokator,
provokator, tembak saja!" Seketika itu seorang anggota Brimob melepaskan dua
tembakan dan mengenai perut serta dada Bernardino. Wartawan MateBEAN
menyaksikan penembakan dari jarak sekitar lima meter dari tempat terkaparnya
Bernardino. Penembakan itu bukan dilakukan oleh milisi, tapi sebaliknya oleh
Brimob dari Kontingen Lorosae. Pada waktu bersamaan wartawan MateBEAN juga
menyaksikan para milisi menodongkan pistolnya ke kepala beberapa wartawan
dengan teriakan "Wartawan-wartawan itu pro kemerdekaan. Bunuh saja."
Anehnya aparat polisi justru hanya melihat saja, dan bukannya mencegah aksi itu.
Pukul 14.30 Wita. Kantor FPI (Frente Politica Interna=Front Politik
Internal, CNRT) di Audian Dili dihancurkan milisi Aitarak. Di jembatan
Becora dua korban juga tewas karena ditusuk. Kedua korban itu masing-masing
Vergilio Pinto dan Apolinario Pinto. Sedangkan di Kuluhun seorang korban
lagi yang tewas ditembak milisi Aitarak adalah Patricio Guterres. Sedangkan
wartawan Kompas, Kornelis Ama, diteriaki sebagai wartawan pro kemerdekaan
sehingga milisi-milisi itu menembaki Kornelis dengan lima kali tembakan ke
sekujur tubuhnya, tapi kebetulan dia memakai rompi anti peluru sehingga
pelurunya tidak sampai menembus tubuhnya. Dia hanya mengalami luka tembak di
pahanya. Namun motornya dibakar milisi. Bersamaan dengan itu reporter SCTV
Albert Kuhon juga mengalami hal yang sama yakni ditembaki milisi. Fotografer
Reuters, Beawiharta juga ditembaki oleh milisi Aitarak, dan tembakan itu
mengakibatkan Beawiharta harus dievakuasi ke rumah sakit, karena mengalami
luka yang sangat serius di pahanya. Sebuah mobil Super Kijang yang dicarter
wartawan Jakarta Post dihancurkan dan dipecahkan kacanya oleh milisi Aitarak.
Pukul 15.00 Wita. Akibat bentrokan di wilayah Kuluhun dan Audian itu
kemudian menyebabkan ketegangan yang mencekam di seluruh Dili. Pada malam
harinya terjadi penyerangan lagi oleh milisi Aitarak ke wilayah Fatuhada.
Beberapa rumah terbakar, seorang dikabarkan meninggal dan beberapa terluka.
Sampai Jumat pagi tercatat lima orang meninggal, enam orang luka parah, dan
puluhan lainnya luka ringan. ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html