Precedence: bulk
Taur Matan Ruak (wakil Panglima Falintil):
"SELAMA MILITER INDONESIA DI TIMTIM, FALINTIL TAKKAN SERAHKAN SENJATA"
DILI (MateBEAN, 31/8/99). Wakil Panglima Falintil Taur Matan Ruak
mengatakan bahwa Falintil hanya akan meletakkan senjata, jika TNI sudah
ditarik seluruhnya dari Timor Timur (Timtim). "Kami tidak meletakkan senjata
kalau di Timtim masih ada anggota TNI. Kalau selama masih ada anggota TNI di
Timtim, maka Falintil tidak pernah meletakkan senjata," katanya.
Berikut petikan wawancara Taur Matan Ruak dengan MateBEAN di Desa
Uai Mori, Kecematana Viqueque, Kabupaten Viqueque pada tanggal 26 Agustus
1999, bertepatan dengan HUT Falintil ke-24 atau 10 hari sebelum hari H jajak
pendapat.
MateBEAN (MB): PBB mengharapkan agar milisi dan Falintil segera
melakukan kantonisasi untuk menghindari terjadinya bentrokan antar kelompok
di Timtim. Bagaimana tanggapan Anda?
Taur Matan Ruak (TMR): Kami menghormati setiap keputusan PBB tentang
penyelesaian damai masalah Timtim. Bahkan sejak kesepakatan damai lalu,
Falintil sudah menghentikan semua bunyi senjata api di Timtim. Tapi
sebaliknya, milisi terus melakukan kekerasan dengan teror dan intimidasi
terhadap warga sipil. TNI dan Polri justru memelihara milisi dengan
memberikan senjata untuk menembak warga yang tak berdosa. Itu satu hal yang
tidak masuk akal. Maka Falintil punya tanggungjawab moral untuk melindungi
warganya, dengan tidak menyerahkan senjata kepada PBB. Kami hanya punya satu
alternatif, yakni Pasukan militer Indonesia harus keluas dari Timtim. Kalau
tidak, maka perang akan terus berlanjut. Kita
tidak akan meletakkan senjata.
MB: Tapi TNI kan sudah ditarik dan digantikan oleh Polri?
TMR: Saya Jenderal Falintil, saya lebih tahu. Saya lebih kenal
mereka dari pada Anda. Bukan baru pertama kali TNI ditarik dari Timtim. Tapi
soal tarik TNI itu sudah seringkali kita dengar, tapi kenyataannya justru
TNI berkeliaran di Timtim. Para jenderal di Jakarta mencoba mengubah opini
dunia dengan mendatangkan wartawan asing dan Indonesia di Timtim untuk
mencover penarikan pasukan dari Timtim, tapi sebaliknya kekerasan justru
semakin meningkat setelah pengumuman penarikan pasukan TNI itu. Lalu siapa
yang merekayasa itu? Bukankah TNI yang punya keahlian untuk merekayasa
kekerasan di Timtim, Aceh dan Ambon. Maka menurut saya apa yang sekarang
dikatakan oleh jenderal di Jakarta soal penarikan mundur TNI di Timtim ini
hanyalah suatu kebohongan belaka.
MB: Kelompok pro otonomi sangat yakin bahwa 90 persen rakyat Timtim
akan memilih otonomi. Bagaimana ramalan Anda soal jajak pendapat mendatang?
TMR: Secara jujur saya katakan bahwa kalau referendum nanti berjalan
dengan jujur, adil dan demokrasi, maka saya yakin bahwa suara untuk kelompok
otonomi hanya 5 persen. Tidak lebih dari itu. Mengapa? Karena kalau
masyarakat Timtim ini menyetujui otonomi, mengapa mereka dikejar-kejar,
diintimidasi, diteror dan dibunuh? Itu adalah sesuatu hal yang tidak masuk
akal. Mereka mengklaim 90 persen, mengapa mereka membentuk milisi untuk
memaksa masyarakat untuk mendukung otonomi? Falintil tidak pernah memaksa
masyarakat untuk memilih otonomi, karena Falintil sangat menghormati hak
asasi masyarakat untuk menentukan masa depannya sendiri, tanpa perlu
dipaksakan. Hal yang sangat penting adalah kalau masyarakat Timtim menolak
kemerdekaan maka kami tak pernah hidup. Karena selama 24 tahun kami
bergerilya di hutan, justru masyarakatlah membantu kami. Tanpa logistik dari
kota, maka kami, Falintil sudah mati semua.
MB: Milisi mengatakan bahwa Falintillah yang membunuh dan menteror
warga, sehingga berdirinya milisi adalah untuk memberikan rasa nyaman kepada
masyarakat. Bagaimana tanggapan Anda?
TMR: Kalau mereka mengatakan bahwa mereka lahir untuk melindungi
masyarakat dari gangguan teror dan intimidasi dari Falintil, maka saya
meminta Anda untuk bertanya kepada rakyat Timor, apakah betul Falintil
mencuri, menteror dan mengintimidasi rakyat? Yang membunuh rakyat tak
berdosa di Gereja Liquisa itu apakah Falintil? Dan bagi mereka yang beragama
Katolik, menganggap membunuh warga di dalam Gereja adalah orang-orang
komunis. Karena mereka sudah tidak menghargai agama lagi. Lalu pengungsian
di Viqueque dan Suai itu apakah karena adanya Falintil? Selama 24 Falintil
berperang melawan ABRI, tidak pernah terjadi pengungsian di seluruh Timtim,
tapi setelah pembentukan milisi justru masyarakat semakin ketakutan dan
mengungsi meninggalkan kampung halamannya. Tak ada satu butir peluru pun
dari Falintil yang ditembakkan kepada masyarakat di Timtim. Sebaliknya dari
laras senjata milisi, darah masyarakat Timtim yang tak berdosa masih
menempel di ujung laras senjatanya. Suatu perbuatan yang sangat tidak
manusiawi di Timtim.
MB: Milisi mengatakan bahwa milisi ada karena adanya Falintil. Apa
tanggapan Anda?
TMR: Yang membedakan antara milisi dan Falintil adalah sampai saat
ini belum satu peluru pun dari milisi yang ditembakkan ke arah Falintil.
Milisi hanya menyerang di kota-kota, tak pernah berperang melawan Falintil
di hutan belantara Timtim. Kalau mereka mengatakan bahwa mereka ada karena
Falintil mengapa mereka tidak mau mencari dan menembak Falintil? Itu alasan
yang tidak masuk akal.
MB: Katanya Falintil siap memberikan perlindungan kepada rakyat,
tapi kejadian di Audian 26 Agustus lalu justru menimbulkan korban jiwa,
yakni 5 aktivis pro kemerdekaan tewas ditembak oleh polisi dan milisi.
Apakah Falintil tetap diam, dan perlindungan dalam bentuk apa yang diberikan
Falintil kepada masyarakat?
TMR: Falintil cukup sabar menahan diri. Karena kami percaya dunia
internasional juga tidak akan diam terhadap masalah Timtim. Sehingga apapun
bentuk kekerasan yang dilakukan oleh milisi, polisi dan TNI tentunya mereka
juga siap untuk menerima konsekuensi dari perbuatan mereka itu. Dunia
internasional tak tinggal diam, sudah pasti kalau Timtim masih tetap
bergejolak maka PBB pasti punya alternatif untuk mengamankan Timtim dengan
mendatangkan pasukan perdamaian. Kalau sampai pasukan perdamaian datang dan
mengamankan di Timtim maka itu akan sangat memalukan bagi Indonesia. Dan itu
semakin menurunkan pamor Indonesia dari mata internasional.
MB: Sehari setelah perjanjian antara wakil Pimpinan milisi (Eurico
Guterres dam Joanico) dengan komandan Region III Falur Rate Laek, justru
kekerasan semakin menjadi-jadi di Timtim. Bagaimana tanggapan Anda?
TMR: Anda bisa bayangkan pertemuan ini yang sudah keberapa. Saya
sendiri tidak tahu, karena pertemuan seperti ini sudah seringkali dilakukan,
tapi bukannya meredam konflik, justru sebalik kekerasan semakin menjadi di
Timtim. Dan kami tidak pernah melanggar setiap kesepakatan tentang
perdamaian. Yang melanggar justru milisi dan tentara Indonesia. Maka saya
bisa mengatakan bahwa setiap kesepakatan hanyalah sandiwara militer
Indonesia untuk membohongi dunia internasional bahwa Indonesia punya
keinginan serius untuk menyelesaikan masalah Timtim secara damai.
MB: Tapi korban terakhir yang mati kan justru dari milisi Aitarak.
Bukankah pembunuhnya dari kelompok pro kemerdekaan?
TMR: Satu hal yang ingin saya katakan bahwa Falintil punya komitmen
dan disiplin yang sangat tinggi yakni Falintil tidak pernah mengeluarkan
perintah untuk membunuh milisi. Karena kami yakin bahwa milisi-milisi itu
juga merupakan orang Timtim dan mereka berhak untuk hidup. Saya ingin
mengatakan bahwa kejadian yang terjadi di Dili sejak 26 Agustus itu, hingga
saat ini Falintil tidak pernah terlibat. Dan itu merupakan bagian dari balas
dendam rakyat terhadap milisi yang melakukan tindakan kekerasan terjadap
rakyat. Mengapa mereka memakai senjata untuk membunuh saudaranya sendiri?
Dan Falintil sama sekali tidak terlibat soal kekerasan itu. Kami ingin hidup
damai antara orang Timtim.
MB: Kalau otonomi ditolak, maka milisi akan menggantikan Falintil
untuk bergerilya. Bagaimana tanggapan Anda?
TMR: Perang gerilya itu bukanlah sesuatu yang gampang. Karena kami
berpengalaman selama 24 tahun bergerilya di hutan dan kami juga banyak
menderita, tapi perjuangan kami ini punya tujuan yakni mempertahankan
prinsip kami yakni memberikan kepada masyarakat Timtim untuk menentukan masa
depannya sendiri. Dan hal itu yang sudah dilakukan oleh rakyat Timtim. Kalau
milisi ingin bergerilya, mereka mau lawan siapa? Mereka tidak melawan kami,
tapi sebaliknya mereka akan berhadapan dengan pasukan PBB. Apakah mereka
bisa mampu bertahan seperti kami? Saya tidak bisa menggambarkan apa yang
akan terjadi bila milisi ingin bergerilya. Karena untuk menguasai pedalaman
di Timtim ini kami membutuhkan waktu 20 tahun, apakah milisi akan bertahan
kalau tidak makan dua hari berturut-turut. Itu sangat sulit.
MB: Tapi ada anggapan bahwa Falintil sering turun kota dan buat onar?
TMR: Setelah perang ini selesai kami siap untuk membawa masalah ini
ke Mahkamah Internasional untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kami. Kami
bersedia seandainya Mahkamah Internasional akan memeriksa kami. Kalau saya
mengatakan bahwa Falintil tidak pernah berbuat salah berarti saya berbohong.
MB: Sudah ada tanda-tand� ke MI?
TMR: Ramos Horta sudah mengajukan tuntutan kepada para perwira dan
para jendera� Indonesia. Para jenderal itu akan dibaw� ke MI. Tetapi tentara
Indonesia juga mempunyai kesempatan untuk mengajukan tuntutan kepad�
Falintil ke MI. Dan kami siap untuk menanggapinya. ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html