Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 31/II/5-11 September 99
------------------------------

INDONESIA MINUS KARENA HABIBIE

(EKONOMI): Perekonomian Asia yang sakit mulai sembuh. Hanya Indonesia yang
masih minus, karena Rejim Habibie biang penyakitnya.

Hubert Neiss menyodok Indonesia dari Tokyo. Direktur Dana Moneter
Internasional (IMF) ini mengumumkan daftar pertumbuhan ekonomi negara-negara
Asia, khususnya yang diterjang krisis ekonomi dua tahun belakangan ini
(lihat tabel).

-------------------------------

China           6% s.d. 7 %
Indonesia       1%
Jepang          0.25% s.d 0.5%
Malaysia        2.5%
Philipina       2.25%
Singapura       3.5%
Korea Selatan   6.5% s.d 7%
Thailand        2.5%
Vietnam         4.5% s.d 5%

-------------------------------

Dari data di tabel tersebut terlihat cuma Indonesia yang minus. Itu berarti
negeri kita belum juga berhasil sembuh dari krisis ekonomi meskipun
negara-negara lain sudah mulai pulih. Strategi untuk menyembuhkan diri yang
sebetulnya dipengaruhi juga oleh IMF, pada praktek di lapangan bisa
menghasilkan kinerja yang sangat berbeda. Faktor yang paling menentukan
menurut Neiss, adalah kemampuan pemerintah masing-masing negara untuk
memimpin masyarakatnya bersama-sama keluar dari krisis.

Secara umum Neiss mengingatkan meski pertumbuhan itu cukup cepat tapi
pemulihan ekonomi yang ada sesungguhnya masih rapuh. "Asia is returning to
growth but it is a 'precarious recovery' and several weaknesses still remain
across the region," sinyal Neiss (Asia sedang kembali tumbuh tapi pemulihan
itu masih tampak rapuh dan sejumlah kelemahan masih menyelimuti ekonomi
regional Asia, red). Dan kelemahan itu, sayangnya justru melekat dalam
kekuasaan pemerintah, khususnya Indonesia. Di Thailand dan Korea Selatan,
pemerintahan yang tak mampu manangani krisis mundur dan digantikan
pemerintahan baru yang bersih dari korupsi dan patronase bisnis alias kolusi
antara pengusaha dan penguasa. Hasilnya, perekonomian Korea Selatan bisa
tetap tumbuh antara 6.5% sampai 7% dan Thailand cukup bertahan ekonominya
dengan angka pertumbuhan 2.5%.

Dr. Arif Arryman, pakar ekonomi dari ECONIT yang ditemui Xpos di Hotel
Indonesia (1/9) menanggapi, "Ya wajar saja, Habibie ini kan nggak
berpengalaman soal perekonomian, bagaimana dia bisa membawa Indonesia keluar
dari krisis. Sementara dia sendiri adalah salah satu episentrum (pusat, red)
penyebab dari krisis itu sendiri? Sekarang kita lihat berbagai kasus yang
paling tidak punya kaitan dengan ekonomi seperti kasus Andi Ghalib dan Bank
Bali, ini kita belum bicara masalah politik seperti Aceh dan terutama Timor
Timur yang jadi sorotan dunia internasional. Mana selesai kasus Ghalib dan
Habibie? Sementara perekonomian itu kan menyangkut investasi yang
ditanamkan. Ini untuk menyederhanakan saja supaya kita melihatnya lebih
gampang. Investasi atau penanaman modal itu kan soal kepercayaan. Percaya
nggak investor dengan situasi ekonomi politik di Indonesia. Kalau nggak, ya
mereka tidak invest. Ngapain tanam modal kalau nanti uangnya hilang? Nggak
ada investasi, produksi nggak jalan, lapangan kerja jadi makin sempit.
Sementara harga-harga tinggi harus ditanggung rakyat. Bagaimana perekonomian
bisa tumbuh? Angka minus satu persen itu sudah lumayan, riilnya barangkali
lebih."

Soal angka minus satu itu, sebaliknya dipertanyakan oleh Dr. Umar Juoro,
penasehat ekonomi Habibie. Umar Juoro yang tampil satu panggung dengan Arif
Arryman di Hotel Indonesia membahas Kasus Bank Bali, mempertanyakan
bagaimana angka itu bisa muncul. "Bukan soal darimana data-data dan
faktanya, tapi metode penghitungan itu kita bisa perdebatkan. Biasa kan
kalau kita punya perhitungan yang berbeda mengenai pertumbuhan ekonomi,"
gugat Umar Juoro.

Tapi Umar tidak menampik bahwa perekonomian Indonesia memang belum pulih.
"Harus diingat memang masalahnya begitu kompleks dan tidak bisa diselesaikan
dalam sekejap," tambah Umar.

Benar juga, masalahnya sudah begitu kompleks. Tapi tampaknya bukan malah
dikurangi, sebaliknya permasalahan ekonomi kian bertambah kompleks karena
satu kasus belum selesai sudah muncul kasus lain menyusul hingga semuanya
tak terselesaikan. Jadi kapan sembuhnya kalau dokter yang mau menyembuhkan
ternyata juga menderita sakit? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke