Precedence: bulk


PENGUNGSI DIBANTAI MILISI

Laporan Timor Lorosae
Minggu, 5/9/1999 - 16:00

Sejak malam tadi ratusan orang berduyun-duyun ke pelabuhan Dili karena
mendengar kapal TNI-AL datang untuk membawa pengungsi. Kebanyakan mereka
adalah keluarga anggota TNI dan pegawai pemerintah daerah yang memilih
pulang setelah hasil jajak pendapat diumumkan. "Buat apa lagi di sini. Suami
saya kan pegawai negeri, sebentar lagi juga pasti ditarik dari sini," kata
seorang ibu. Ia membawa barang-barang seadanya, karena dibatasi oleh petugas
ang mengurus keberangkatan mereka. "Kulkas terpaksa saya tinggal, kasih ke
tetangga," katanya.

Di bandara Comoro suasananya sama saja. Di mana-mana terlihat orang membawa
bungkusan besar, televisi, sepeda motor, dan bermacam jenis barang lainnya.
Kadang-kadang terjadi pertengkaran dengan petugas karena nama yang sudah
terdaftar untuk berangkat, tiba-tiba digeser ke penerbangan berikutnya.
"Saya sudah pesan beberapa hari lalu," hardik seorang ibu. Ia jengkel karena
namanya terpaksa digeser karena ada 'seseorang' yang perlu pulang segera.
"Di mana-mana KKN!" ujarnya gusar.

Sekitar pukul 14.00 terjadi insiden, ketika beberapa anggota milisi Aitarak
melepaskan tembakan ke arah calon penumpang di pelabuhan Dili. Para calon
penumpang yang kebanyakan orang tua, perempuan dan anak-anak pun panik
ketakutan. Anggota TNI di sekitar mereka berteriak, "Itu Falintil!" Tapi
beberapa pemuda yang juga hendak naik kapal dengan jelas melihat gerombolan
milisi yang menggunakan kaos hitam dengan tulisan 'Aitarak' di punggungnya.
Entah apa maksud anggota TNI membohongi masyarakat. 

Seorang petugas polisi yang dihubungi kemudian mengakui bahwa penembakan
dilakukan oleh anggota Aitarak. "Benar, memang mereka yang nembak. Nggak
tahu maunya apa. Tadi saya kirim anggota, dan terpaksa lepas tembakan juga.
Soalnya mereka yang buka duluan," katanya. Menurutnya, lima orang tewas
dalam kejadian itu sementara puluhan lainnya luka-luka. Diduga jumlah korban
kemungkinan bertambah setelah kantor keuskupan dibakar, karena ada ratusan
pengungsi dari berbagai kampung yang berlindung di sana. Masyarakat sempat
melihat beberapa orang berlumuran darah yang dibawa ke Puskesmas Colmera.
Beberapa lainnya dibawa dengan ambulans ke arah rumah sakit militer Wira Husada.

Lima orang wartawan dari Australia dan Jepang yang kebetulan berada di
lokasi terlihat dibawa pergi oleh polisi. Baru belakangan diketahui bahwa
mereka diungsikan ke Polda Timtim. Di kantor Polda juga ada ratusan orang
yang berlindung, umumnya keluarga anggota polisi yang masih bertugas.
Rupanya wartawan sengaja diungsikan agar tidak meliput. Beberapa orang yang
masih coba membuat foto langsung diusir oleh anggota TNI yang berada di sana. 

Sementara itu dari Becora dilaporkan dua buah rumah kembali dibakar oleh
milisi Aitarak dan BMP yang dibiarkan berkeliaran oleh TNI dan Polri di kota
Dili. Seorang saksi mata mengatakan bahwa seorang ibu dan anak berusia
sembilan tahun, bernasib naas tidak dapat keluar dari rumah saat api sudah
menjalar. Keduanya tewas dibakar oleh milisi.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke