Precedence: bulk


DON'T CRY FOR ME VETERAN SEROJA

        JAKARTA, (TNI Watch! 9/9/99). Ketika hasil jajak pendapat diumumkan,
dan ternyata rakyat Timtim lebih memilih merdeka, secara serempak warga
Komplek Seroja, Bekasi Utara, mengibarkan bendera setengah tiang. Pengibaran
bendera setengah tiang itu, sebagai ungkapan kesedihan mereka, atas pilihan
mayoritas rakyat Timtim.

        Sesuai dengan namanya, penghuni Komplek Seroja adalah veteran
"Operasi Seroja", atau para warakawuri (janda) prajurit yang tewas saat
"Operasi Seroja", nama sandi saat menyerbu Timtim di penghujung awal 1976
menyusul "Oprerasi Komodo". Biasanya yang ditempatkan di komplek ini, adalah
veteran yang menderita cacat tubuh, akibat operasi tempur di Timtim, seperti
hilang kaki, tangan, mata, atau anggota tubuh lainnya. Pada umumnya mereka
keberatan dengan kebijakan yang ditempuh Presiden Habibie, yang memberi opsi
kemerdekaan pada rakyat Timtim. Terlebih ketika hasilnya ternyata seperti
itu (Merdeka), hati mereka serasa tercabik-cabik. Dan harga diri mereka pun
seakan runtuh.

        Pangkal kesedihan mereka adalah, sia-sialah "perjuangan" dan
"pengorbanan" dalam merebut Timtim dulu, bila akhirnya Timtim merdeka, lepas
dari RI. Kepedihan mereka masih ditambah, ketika mendengar rencana
Pemerintah untuk membebaskan Kay Ralana Xanana Gusmao, tokoh perlawanan
rakyat Timtim, yang juga Presiden CNRT (pembebasan Xanana telah dilaksanakan
siang ini, Selasa, 7 September 1999).

        Para veteran "Operasi Seroja" secara jelas menyalahkan Pemerintah
Habibie. Sikap menyalahkan Habibie, bisa jadi merupakan tindakan "salah
alamat". Kalau para veteran itu, ingin mencari-cari, siapa pihak yang paling
bertanggung jawab atas kemelut Timtim selama ini, dan kalau mau dipersempit
lagi, siapa yang paling bertanggung jawab atas "Operasi Seroja", yang
membuat mereka cacat seumur hidup. Jawabannya bukanlah Habibie.

        Habibie memang tetap bersalah, karena ia merupakan bagian dari rejim
Orde Baru yang otoriter. Namun dalam kasus penyelesaian masalah Timtim,
Habibie bertindak benar, dan Habibie berhak memperoleh kredit atas opsi yang
ia keluarkan. Terlepas langkahnya itu merupakan trik Habibie untuk menggapai
simpati publik.

        Lalu kepada siapa para veteran itu harus minta tanggung jawab?
Karena mereka dulu adalah prajurit yang harus selalu taat pada perintah
atasan, maka mintalah tanggung jawab pada komandan yang dulu memerintahkan
pelaksanaan "Operasi Seroja". Arsitek utama "Operasi Seroja" adalah Benny
Moerdani, sedang Komandan Pelaksana di lapangan adalah Kol Inf Dading
Kalbuadi. Operasi Benny dan Dading tersebut, jelas atas persetujuan
Soeharto, Presiden kala itu. Maka tiga nama itulah (bisa ditambah alm Ali
Moertopo), sebagai pihak yang paling layak dimintai pertanggungjawaban oleh
para veteran "Operasi Seroja" tersebut.

        Dikaitkan dengan kehidupan prajurit, pengalaman dalam operasi di
Timtim memang sebuah ironi. Di satu pihak ada sejumlah besar prajurit yang
menderita, bahkan cacat seumur hidup, dan bagi prajurit yang gugur, harus
meninggalkan istri dan anak-anak yang masih kecil untuk selama-lamanya.
Sementara di pihak lain, ada sejumlah kecil perwira yang karirnya terang
benderang setelah operasi di Timtim. Seluruh pejabat teras TNI (terutama
unsur AD), memanfaatkan operasi di Timtim untuk menunjang karirnya. Seperti
Kaster Letjen TNI SB Yudhoyono (pernah menjadi Danyon 744/Satya Yuda Bakti,
Dili), WAKSAD Letjen TNI Jhony Lumintang (Danrem 164/Wira Darma), Asop KSAD
Mayjen TNI Kiki Sjahnakri (Danrem 164/Wira Darma), dan lain-lain.

        Pada saat melaksanakan operasi di Timtim, juga ada perbedaan
prosedur antara perwira dan prajurit, yang membuat "nasibnya" juga berbeda.
Para perwira itu jarang yang terluka, apalagi tewas, saat operasi di Timtim.
Sedang prajurit yang tewas selama 25 tahun operasi di Timtim, menurut salah
seorang pelakunya Marsdya Purn Suakadirul, berkisar sepuluh hingga sebelas
ribu orang. Para perwira itu (komandan kompi ke atas) jika sedang operasi,
selalu dikelilingi anak buahnya. "Kalau ada perwira yang sampai tewas saat
operasi di Timtim, berarti nasibnya sedang naas," ujar Dandim Dili Letkol
Inf Sujarwo, saat masih menjabat Danyon 303/Kostrad, yang berbasis di Garut
(Jabar).

        Kalau kita sitir ucapan Letkol Sujarwo di atas, jika perwira tewas
di Timtim adalah karena nasib buruk, sementara kalau prajurit yang tewas,
adalah kewajaran. Begitulah nasib seorang prajurit, selalu masuk "urutan
pertama"  untuk dikorbankan.

        Bila kini veteran "Operasi Seroja" menangis, karena Timtim merdeka,
tangisan mereka adalah tangisan yang absurd. Mungkin mereka lupa konsekuensi
sebagai prajurit, sebagai bawahan, yang hanya dijadikan sasaran untuk
diperintah-perintah. Beban moral menginvansi Timtim dulu, bukan di pundak
bapak-bapak veteran "Operasi Seroja", tapi ada pada pimpinan-pimpinan bapak
dulu yang sewenang-wenang, maka janganlah menangis bapak-bapak pejuang
"Operasi Seroja"���.***


_______________
TNI Wacht! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranyanya, pelanggaran-pelanggran hak asasi manusia
yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya.
Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke