Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 32/II/12-18 September 99
------------------------------

JENDRAL-JENDRAL PENJAHAT PERANG

(PERISTIWA): Pembantaian etnis Timor Timur membuat prihatin masyarakat
internasional. Sejumlah jendral Indonesia pantas masuk daftar penjahat perang.

Mayor Jendral Zakcy Anwar Makarim berangkat ke Amsterdam, Belanda. Ia
berencana mengunjungi salah seorang keponakannya yang tengah studi lanjut di
negeri Kincir Angin itu. "Sekalian piknik, melemaskan otot-otot dan
menenangkan otak," pikir Zacky. Namun, setiba di bandara internasional
Schipol, sejumlah anggota Interpol Belanda tiba-tiba menyergapnya. "Anda
ditangkap atas perintah Mahkamah Internasional! Anda berhak diam, karena
kata-kata Anda bisa dipakai untuk memberatkan Anda di pengadilan. Anda juga
berhak didampingi pengacara!" teriak salah seorang polisi yang menyergap dan
kemudian memborgol mantan Direktur Badan Intelijen ABRI itu. Zacky pria
keturunan Arab, yang bertubuh gagah dan bermuka keras itu tampak gugup. Ada
apa ini? 

Zacky ternyata masuk dalam daftar tangkap Mahkamah Internasional, sebuah
lembaga pengadilan internasional yang bernaung di bawah PBB, yang berpusat
di Den Haag. Ia disangka kuat terlibat dalam pembantaian etnis Timor Timur
selama di seputar referendum Agustus 1999. 

Peristiwa penangkapan Zakcy seperti digambarkan tadi, tak mustahil terjadi
pada para jendral yang kini terlibat dalam pembantaian etnis di Timor Timur.
Contohnya sudah ada, yakni seorang jendral Serbia, Letnan Jendral Momir
Talic, yang ditangkap Interpol Austria sebulan lalu ketika jendral yang
terlibat dalam pembantaian etnis di Kosovo. Talic tak menyangka ia bakal
ditangkap dan membuatnya terhina. Hal serupa juga dialami Jendral  Pinochet,
mantan ditaktor Chili, ketika orang tua itu tiba di Inggris.

Sejumlah jendral Indonesia yang terlibat dalam pembantaian cepat dan
sistimatis terhadap etnis Timor Timur seputar jajak pendapat Agustus lalu,
sebaiknya memang tak usah dulu bepergian ke luar negeri, terutama ke Eropa
atau Amerika, kalau tak mau mengalami nasib seperti Jendral Talic dan
Jendral Pinochet. Siapa jendral-jendral itu? Tentu saja semua jendral di
Markas Besar ABRI, dari Jendral Wiranto dan para kepala stafnya: Letjen
Bambang Yudhoyono (Kepala Staf Teritorial), Letjen Soegiono (Kepala Staf
Umum) dan para komandan operasi pembersihan etnis itu: Mayjen Kiki Syahnakri
(Panglima Penguasa Darurat Militer Timor Timur), Brigjen Amirul Isnaei
(Wakil Panglima Penguasa Darurat Militer Timor Timur). 

Selain jendral-jendral itu masih ada sejumlah jendral yang tangannya ikut
bersimbah darah yakni: Mayjen Zacky Anwar Makarim dan Mayjen Gleny Kauripan,
dua jendral yang mengoperasikan operasi rahasia sebelum jajak pendapat. Tak
hanya mereka, daftar para jendral yang bisa diseret ke Mahkamah
Internasional, atau yang bisa tiba-tiba disergap jika mereka bepergian ke
luar negeri masih cukup panjang. Setidaknya Pangdam Udayana, Mayjen Adam
Damiri, Panglima Kostrad, Letjen Djamari Chaniago, Danjen Kopassus, Syahrir
M.S. dan tak ketinggalan KSAD, Jendral Soebagyo. Tapi, tentu tak sebanyak
itu jendral Indonesia yang akan diincar Interpol. Cukup Wiranto, Kiki
Syahnakri, Amirul Isnaeni, Zacky Anwar Makarim, Syahrir M.S., Gleny dan Adam
Damiri.

Memang, sudah sepantasnya kalau Mahkamah Internasional mengincar mereka.
Sumber Xpos, saksi mata yang meninggalkan Timor Timur dua hari setelah Timor
Timur dinyatakan sebagai daerah Darurat Militer, mengatakan setidaknya
sepuluh hingga dua puluh ribu warga Dili tewas dibantai gerombolan
bersenjata, gerombolan gabungan milisi Aitarak dan pasukan TNI dari Batalyon
organik Korem 164/WD yaitu, Yonif 744/Satria Yudha Bakti dan Yonif 745, dan
satuan Kopassus. Selain membunuhi warga sipil biasa dari rumah ke rumah,
"gerombolan gabungan" ini juga membantai para aktifis dan pemimpin pro
kemerdekaan yang tak bisa lolos dari Dili. "Para aktifis dan pemimpin
prokem, demikian mereka menyebut kami, banyak yang tewas," ujarnya.
"Gerombolan Gabungan" itu pertama-tama menggeledah tiap rumah yang diduga
ditinggali orang-orang prokem. "Mereka membunuh siapa saja yang tinggal di
rumah itu, tak peduli anak-anak, perempuan atau orang tua," tambahnya.
Gerombolan itu juga membakar rumah-rumah yang masih penuh manusia. Tak
sedikit korban jatuh karena ikut terbakar bersama rumah tempat mereka
bersembunyi. Gerombolan yang amat berkuasa itu juga memeriksa setiap
pengungsi di Polda Timor Timur. Jika ketemu di bawa keluar  dan dieksekusi.
Penyisiran juga dilakukan di kapal-kapal. Para aktifis prokem yang bisa
lolos dari pelabuhan, disisir lagi di kapal, sejumlah aktifis prokem yang
bisa lolos ke kapal dilaporkan dieksekusi di tengah lautan. Para aktifis
prokem yang sudah dieksekusi misalnya: Olandina Alves, tokoh CNRT, pemilik
restauran Massau dan anggota DPRD Timor Timur  Fraksi PDI, Amandio da Silva
yang juga anak angkat Uskup Belo.

Tempat-tempat pemeriksaan didirikan sepajang jalan dari Dili-Atambua,
Dili-Baucau, Dili-Aileu. Para pengungsi praktis tak bisa meninggalkan Dili.
Ribuan pengungsi yang nekad mendaki bukit meninggalkan Dili terbunuh
dihujani peluru dari atas. 

Gerombolan ini juga mencari orang-orang prokem di tempat-tempat pengungsian
di gereja-gereja. Peristiwa penyerbuan pengungsi di rumah Uskup Belo lebih
tepat disebut sebagai "pembantaian" ketimbang "penyisiran" para aktifis
prokem yang ikut bersembunyi di rumah Uskup. Hari itu, Senin 6 September
1999, empat truk penuh pasukan berhenti di depan rumah Uskup Belo. Tiga buah
truk penuh tentara dari Batalyom 744 dan 745 dan sebuah truk lainnya penuh
Aitarak. Semula Uskup mengira pasukan ini akan menjaga kediamannya karena
sebelumnya penerima Nobel Perdamaian itu bertemu Jendral Wiranto dan meminta
pasukan untuk melindungi para pengungsi di rumahnya. Namun apa yang terjadi?
Gerombolan ini malah menembaki rumah Uskup dan mulai membakarnya. Ratusan
pengungsi tertembak, sebagian besar luka parah dan tewas. Salah satunya
Suster Magarida, biarawati yang bekerja di rumah Uskup Belo. Gerombolan itu
kemudian menggiring para pengungsi, termasuk Uskup Belo ke lapangan di luar
rumah Uskup. Para pengungsi ini disuruh mengangkat tangan tanda menyerah dan
bersumpah tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Uskup Belo pun dipaksa
mengangkat tangan. Dengan wajah sedih bercampur marah, ia menurutinya,
termasuk ketika gerombolan tentara plus milisi itu menyuruh mereka semua
bertepuk tangan untuk Indonesia. Untung, tak lama, sepasukan Brimob datang
dan menyelamatkan Uskup, menerbangkannya ke Baucau dan menyerahkannya ke
Angkatan Udara Australia. 

Pembantaian di tempat pengungsian juga terjadi di Gereja Katedral Baucau
yang sekaligus kediaman Uskup Bacau, Mgr Basilio da Nacimento, Selasa (7/9).
Uskup terluka kemudian diselamatkan pasukan Falintil, namun ratusan hingga
ribuan pengungsi di Katedral itu dibantai dengan keji. Peristiwa tragis
lainnya menimpa sejumlah pastor, biarawati dan ribuan pengungsi di Gereja
Suai, Selasa (7/9). Gerombolan pasukan terdiri dari pasukan TNI dan milisi
menembaki gereja yang dipenuhi sekitar tiga ribu pengungsi. Pastor Paroki
Suai, Pastor Hilario Madeira, Pr., 45 tahun, keluar ke gerbang gereja untuk
mencegah pembantaian. Namun, rentetan tembakan dari senapan serbu M-16
merobohkan pastor ini. Tak tahan, seorang pastor asal Magelang, Jawa Tengah
Tarsicius Dewanto SJ., keluar dari komplek gereja berupaya mencegah
penyerangan. Gerombolan bersenjata itu juga tak peduli, Romo Dewanto, yang
baru sebulan ditahbiskan jadi pastor itu terkapar penuh lobang peluru.
Setelah membunuh dua pastor muda itu, gerombolan bersenjata itu menembaki
dan melempari pengungsi dengan granat. Hampir semua pengungsi di gereja itu,
tewas.

Selepas serbuan itu, diketahui tak hanya dua pastor dan ribuan pengungsi
yang terbantai, namun juga sejumlah biarawati asal Italia yang belum
diketahui namanya. Di seluruh Timor Timur, belakangan diketahui sejumlah
pastor lainnya juga sudah dieksekusi lebih dulu. Mereka adalah: Pastor
Dominggos Soares da Silva atau biasa dipanggil Pastor Dominggos Maubere,
Pastor Fransisco Tavares do Reis, Pastor Francisco Barreto, Pastor Lofencio,
dan Pastor Luis Bonaparte.Delapan biarawati yang belum diketahui namanya
juga dilaporkan sudah dieksekusi. Dikhawatirkan eksekusi-eksekusi lanjutan
terhadap para pastor dan biarawati ini akan terus terjadi. 

Selain pembantaian etnis, menurut sumber Xpos, Mabes TNI punya rencana
sendiri. Pembantaian-pembantaian massal itu akan memaksa warga Timor Timur
mengungsi ke Maliana Barat yang jumlahnya diharapkan mencapai lebih dari 250
ribu. Nah, di wilayah perbatasan, ratusan ribu orang Timor itu akan dipaksa
menandatangani pernyataan pro Indonesia dan pernyataan bahwa UNAMET
melakukan kecurangan. Jadi seperti "Deklarasi Balibo" Jilid-2. Skenario
besarnya: Timor Timur akan tetap menjadi propinsi ke-27. Kalau itu yang
terjadi, para jendral itu, jelas akan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO)
Interpol atas perintah Mahkamah Internasional. Sampai jumpa di Den Haag
Jendral Wiranto. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke