Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 32/II/12-18 September 99 ------------------------------ KIKI SYAHNAKRI, SANG PEMBANTAI (PERISTIWA): Setelah memberi status darurat militer atas wilayah Timtim, Markas Besar TNI akhirnya mengangkat Mayjen Kiki Syahnakri (52), sebagai Panglima Komando Darurat Militer di Timtim. Asisten Operasi (Asop) Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Letjen TNI Subagyo HS, merupakan bukan orang baru di tanah Timor Lorosae itu. Ia pernah menjadi Komandan Korem 164/Wira Dharma di Timtim. Timtim memang bukan daerah yang asing. Maklum saja, berkali-kali dia masuk ke situ. Ketika menjadi Komandan, pangkatnya masih Kolonel Infantri dengan usia 48 tahun. Kini pria kelahiran Karawang, yang memiliki anak -Edo, Shinta, dan Nono- dan jebolan Akademi Militer Nasional, 1971, ini dipilih Wiranto karena punya kelebihan soal Timtim dibanding jenderal-jenderal sederajatnya. Ia fasih berbahasa Tetum, salah satu bahasa Timtim. Sejak terjadinya Peristiwa Liquisa dan menjadi pusat sorotan. Ia dikorbankan oleh Prabowo Subiyanto dalam peristiwa Liquisa itu, 12 Januari 1995 yang menelan korban sedikitnya 6 orang Timtim mati. Ia dicopot beberapa bulan kemudian. Kiki memang akhirnya tersandung Dewan Kehormatan Perwira, yang dibentuk KSAD saat itu Jenderal Hartono. Seperti halnya para perwira tinggi, seperti Sintong Panjaitan dan Rudolf Warouw setelah DKM, yang dibentuk untuk menindaklanjuti temuan Komisi Penyelidik Nasional atas Insiden Santa Cruz, 12 November 1991. Awal karirnya di mulai dengan pangkat letnan dua, 1974. Saat itu, Kiki ditunjuk sebagai Komandan Rayon Militer (Danramil) di Belu (NTT). Kabarnya, di situ, ia banyak belajar dan mendalami seluk beluk dan adat istiadat orang Timor. Empat tahun kemudian, ia menjadi perwira seksi operasi (Pasi Ops) Kodim 1605/Atambua. Kemudian dari situ, ia ditempatkan sebagai Komandan Kompi 741/Denpasar. Pada tahun 1981, ia diperintahkan balik lagi ke Timtim, sebagai Wakil Komandan Batalyon 744. Kedua batalyon ini dikenal sebagai pasukan pemukul yang sadis dan berbahaya, lantaran seluruh anggotanya adalah putra-putra Timor. Tiga tahun jadi Wadanyon 744, ia kemudian mendapat kesempatan mengikuti Kursus Lanjutan Perwira (Suslapa) di Jawa. Usai mengikuti kursus, ia bergabung dengan kesatuan Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) di Batalyon Linud (Lintas udara)-502 yang bermarkas di Malang, Jawa Timur dan menjadi Wakil Komandan Brigade Infanteri 06 Solo, Jawa Tengah, sampai 1993. Tak lama kemudian Kiki kembali ke Timtim menjadi Wakil Komandan Korem 164/Wira Dharma, Dili, Timtim yang saat itu, Komandan Koremnya Kol. Johny Lumintang. Selain kasus Liquisa, Kiki juga terkena kasus ninja di Timtim yang merebak setelah kasus Liquisa. Ia berhasil merekayasa 12 orang Timtim, sebagai ninja. Padahal, ninja yang meneror warga Timtim adalah bikinannya sendiri, tentara. Ia sempat frustasi setelah kasus Liquisa. Bumi hangus Timtim memang sudah terjadi, dan Kiki-lah panglimanya. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
