Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 33/II/19-25 September 99
------------------------------

BUBARKAN TNI
Oleh: Poetranegara

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak berguna, bubarkan saja
Diganti Menwa, ya sama saja
Lebih baik Gerakan Pramuka

(OPINI): Lagu plesetan di atas kerap kali dinyanyikan oleh para mahasiswa
saat demonstrasi. Semangat nyanyian (dan bahkan diramaikan dengan tarian)
makin menggila tatkala mereka beraksi di depan barisan tentara. Lagu itu
penuh dendam. Ia mengekspresikan kemuakan yang paling dalam atas segala
tingkah polah tentara. Dengarlah lanjutan lagu dari bait di atas yang
memaparkan "argumennya":

Naik bis kota tak pernah bayar.
Suka nyabot makan di warung tegal.
Suka memperkosa bini orang,
Membunuh rakyatnya.

Dalam gaung lautan massa, lagu itu menjadi psychologic war yang berfungsi
ganda: menaikkan militansi dan gairah massa, serta sebaliknya
mendemoralisasi tentara.

Kini, setelah kasus Aceh tak pernah rampung dengan tuntas, setelah kasus
Timor Leste justru meruyak parah, tuntutan "Bubarkan Tentara Nasional
Indonesia!" mendapatkan legitimasi yang amat kuat. Bukan karena mereka tidak
mampu mengatasi situasi konflik tersebut. Melainkan, justru tentara lah
biang keladi parahnya keamanan Indonesia saat ini.

Bubarkan TNI sudah saatnya secara riil dikumandangkan. Ini selangkah lebih
maju ketimbang tuntutan Cabut Dwifungsi TNI. Kita, gerakan pro demokrasi,
akan selalu gagal bila tuntutan termaju hanya cabut dwifungsi, alias sekadar
mempreteli fungsi sosial politik TNI dan mengembalikan mereka ke barak untuk
mengurusi satu fungsi saja yaitu pertahanan negara. Mengapa gagal? Karena
fungsinya sebagai penjaga pertahanan dan keamanan digunakan sebagai daya
pemaksa untuk mendapatkan peran vital dalam fungsi kedua yaitu fungsi sosial
politik.

Akar dan ujung-ujung mengapa mereka begitu getol berdwifungsi itu tak lain
adalah mempertahankan dan untuk lebih banyak menyedot kekayaan lewat bisnis
yang memperkaya (khususnya) para jendral secara cepat dan menggiurkan.
Bahkan, bisnis yang mereka jalankan pun melewati batas garis haram
kejahatan: narkotika dan obat-obat terlarang (Narkoba). Ingat Agus Isroq?
Anak Jendral pemegang tampuk KSAD Soebagyo HS yang tertangkap basah sebagai
pengedar shabu-shabu dalam jumlah besar. Sampai sekarang, tak jelas apa
hukumannya, jangan-jangan. lolos. Begitulah persekongkolan militer,
kekuasaan, pengadilan, dan . mafia.

Tak jelas lagi apa sesungguhnya manfaat TNI bagi masyarakat negara ini.
Malahan di muka dunia internasional, TNI mencoreng-moreng muka Republik
Indonesia. Sehingga, publik internasional mempunyai kesan bahwa Indonesia
ini seperti negara hantu yang tak aman dan penuh orang-orang biadab. Di
balik itu semua, TNI sendiri yang menjaga ketidak-amanan tersebut dan
melestarikan kebiadaban di berbagai tempat dengan membunuhi banyak orang
yang tak berdosa.

Contoh paling akhir untuk memberikan bukti adalah terungkapnya Dokumen
Garnadi berkaitan dengan Kasus Timor Leste. Dokumen itu adalah memo rahasia
tanggal 3 Juli 1999 yang ditanda-tangani Asmenko I/Poldagri HR. Garnadi yang
menyebutkan apabila hasil jajak pendapat menyatakan kubu pro integrasi kalah
maka pasukan TNI akan disiagakan dengan legalisasi kondisi darurat dan
fasilitas vital di Timor Leste akan dibumihanguskan. Bahkan rapat rahasia di
Pos Kopassus Baucau, Rumah Merah 26 Juli 1999, sejumlah perwira TNI seperti
Mayjen Zacky Anwar Makarim dan Kolonel Tono Suratman membagikan senjata
kepada milisi pro integrasi dan menguraikan skenario perang saudara bila
penduduk timor leste memilih merdeka.

Ini membuktikan sebuah niat dan strategi jahat yang disusun secara terencana
untuk mengingkari fungsi mereka sendiri yaitu menjaga pertahanan dan
keamanan. Oleh sebab itu, sekali lagi, TNI layak dibubarkan. Sebagai
gantinya, kerja-kerja TNI digantikan oleh polisi semacam pasukan beladirinya
Jepang atau Swiss. Angkatan Laut diganti dengan polisi laut, angkatan udara
diganti dengan polisi udara, keduanya tinggal transfer dengan birokrasi yang
lebih independen. Sedangkan angkatan darat, ya mohon maaf, dibubarkan saja
karena sudah ada polisi yang berjaga di darat selama ini.

Demikianlah, Indonesia akan lebih efisien dan tidak menghamburkan banyak
uang untuk militer yang hanya membunuhi rakyatnya sendiri. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke