Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 33/II/19-25 September 99
------------------------------

SKENARIO BESAR SANG JENDERAL

(POLITIK): Golkar dikabarkan bakal mencalonkan Wiranto sebagai presiden.
Rapimsus akan digelar bulan depan. Benarkah 'kudeta halus' telah terjadi di
Istana?

Isu politik di Jakarta tak pernah mereda. Setelah berminggu-minggu bursa
pencalonan presiden diwarnai persaingan antara kandidat dari PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri, kandidat dari Partai Golkar BJ Habibie dan kandidat
`poros tengah' Gus Dur, kini nama Menhankam/Panglima TNI Wiranto turut
meramaikan suasana. Adalah The Strait Times, koran terbitan Singapura edisi
Rabu (15/9) lalu yang pertama kali mengemukakan hal ini. Menurut harian itu,
Jenderal Wiranto akan mengundurkan diri bulan depan, setelah peringatan Hari
ABRI 5 Oktober 1999, setelah itu mencalonkan diri sebagai presiden.

Mengutip sumber yang tak mau disebutkan namanya, The Strait Times sedikit
menggambarkan skenario pencalonan itu. Pertama-tama, Wiranto akan
menyerahkan kendali militer pada Wakil Panglima TNI pilihannya, Laksamana
Widodo AS. Setelah itu, Wiranto berharap akan mendapatkan pencalonan resmi
dari Golkar sebagai pengganti Habibie. Pencalonan ini kabarnya akan
dihasilkan melalui Rapat Pimpinan Khusus (Rapimsus) yang digelar pada
pertengahan Oktober nanti. Dengan adanya pencalonan ini, ia pun yakin bakal
mendapatkan dukungan dari salah satu partai besar di luar Golkar.

Sejauh ini, Golkar belum memberikan bantahan resmi terhadap sinyalemen The
Strait Times. Namun, beberapa figur penting di Partai Beringin tersebut,
menyatakan bahwa pencalonan Habibie sebagai Presiden masih bisa dicabut.
Artinya, kemungkinan itu memang bisa terjadi. Hanya saja, prosesnya tidak
akan mulus. Sebab, seperti diketahui, kubu Marzuki Darusman dan kawan-kawan
yang merupakan lawan dari kubu 'Tim Sukses' Habibie, cenderung melakukan
aliansi dengan Megawati. Namun, ada pula yang percaya Wiranto bisa merangkul
kubu Marzuki. Apalagi ide Marzuki untuk membangun 'poros nasional'
rencananya memang bakal menggaet TNI.

Entah bagaimana nantinya. Yang jelas, peluang Wiranto untuk jadi presiden
kini kembali terbuka lebar. Faktor paling penting, tentunya adalah mulai
terkuaknya skandal Bank Bali yang perlahan-lahan bermuara pada Habibie.
Bagaimanapun, popularitas Habibie saat ini sudah sangat menurun. Apalagi
setelah pengakuan mantan direktur Bank Bali Rudy Ramli tentang kebenaran
catatan pentingnya yang menceritakan keterlibatan 'Tim Sukses' Habibie dalam
skandal itu.

Malah, beberapa waktu lalu, setelah ditekan habis-habisan dalam kasus Bank
Bali dan soal Timtim, Habibie diisukan bakal mengundurkan diri. Ia sudah
patah arang. Orang-orang terdekatnya, seperti Muladi dan Baramuli sibuk
berkelit. Dan kabarnya, ia akan digantikan oleh 'trium-virate', yaitu
Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid, Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan
Wiranto sebagai Menhankam/Panglima TNI. Dikabarkan bahwa kesepakatan sudah
hampir tercapai. Namun, lantaran ada ketidakcocokan antara Syarwan Hamid dan
Wiranto, rencana itu tak jadi dilakukan. Wiranto sendiri, kemudian membantah
isu tersebut. "Isu mundur, isu kudeta, itu tidak ada," ujarnya. "Tak perlu
terpengaruh pada isu yang begitu."

Beberapa pihak masih percaya, kendati Habibie tak jadi mengundurkan diri,
namun kepercayaan dirinya sudah tak seperti sebelumnya. Malah, ada yang
yakin bahwa ia saat ini berada di bawah kendali Wiranto. Hal ini berkaitan
dengan pembentukan Pos Komando yang dipusatkan di Istana Merdeka -tak lama
setelah muncul isu Habibie mengundurkan diri. Pos Komando tersebut, yang
setiap hari dimulai antara pukul 16.00 dan 17.00, menurut Muladi,
dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan di Timtim. Tapi, seorang sumber
Xpos menyebutkan, itu dianggap 'kudeta halus TNI'. Menurutnya, pembentukan
Pos Komando selama keadaan belum aman, untuk memberi kesan yang bertanggung
jawab adalah Habibie, bukan TNI.  

Hal ini tentu saja dibantah pemerintah. "Tak benar hubungan Presiden dengan
militer jelek," kata Muladi. "Itu untuk menyudutkan TNI," ujar Dewi Fortuna
Anwar, penasihat Habibie yang jabatan resminya Asisten Bidang Luar Negeri
Presiden.

Kendati demikian, suasana curiga, agaknya sulit diredakan begitu saja.
Apalagi kini terlanjur muncul isu tentang pencalonan Wiranto sebagai
presiden dalam The Strait Times. Harian itu, dipercaya takkan mau mengutip
secara anonim, kalau kapasitas sumbernya bukan kelas satu? Akibatnya, kini,
Wiranto disinyalir telah menyusun skenario yang 'mulus' untuk menggapai
ambisinya menjadi orang nomor satu di Indonesia. Adalah sebuah kesalahan,
jika ia mengambil-alih tampuk kepemimpinan dalam situasi seperti sekarang.
Ia bukan saja akan dicela dari dalam negeri, tapi juga bakal diajukan ke
Mahkamah Internasional untuk kasus Timtim.

Ia mesti mengesankan masih menjunjung tinggi hukum dan konstitusi di
Indonesia. Habibie akan tetap berperan sebagai presiden, tapi tanpa posisi
tawar yang kuat. Dengan begitu, ada beberapa keuntungan bagi Wiranto.
Pertama, Habibie harus mempertanggungjawabkan skandal Bank Bali, pengusutan
harta kekayaan Soeharto dan pemberian opsi-kemerdekaan bagi Timtim dalam SU
MPR-RI. Kedua, jika ada gugatan internasional terhadap pelanggaran HAM di
Timtim, Habibie juga bertanggung jawab.

Kalaupun Komisi Pencari Fakta PBB di Timtim jadi melakukan tugasnya, TNI
kabarnya akan cuci tangan. Sebuah skenario telah disiapkan. Konon Mayjen
Zacky Makarim dan Mayjen Sjafrie Sjamsudin yang beberapa bulan terakhir
berada di Timtim, akan dikorbankan. Ini sekaligus akan menambah kredit bagi
Wiranto di mata internasional. Semoga saja tak benar. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke